
JAKARTA – Lonjakan harga plastik mulai menekan berbagai sektor usaha di dalam negeri. Kenaikan biaya kemasan dikhawatirkan memicu kenaikan harga barang konsumsi sekaligus menekan daya beli masyarakat.
Pengamat ekonomi Universitas Indonesia Rifelly Dewi Astuti mengatakan, kenaikan harga plastik tidak terlepas dari melonjaknya harga minyak bumi sebagai bahan baku utama industri tersebut. Komoditas itu merupakan komponen penting dalam proses produksi, terutama untuk kebutuhan pengemasan produk. Ketergantungan terbesar dirasakan oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM). "Plastik menjadi komponen utama pengemasan. Hampir seluruh aktivitas ekonomi, terutama UKM, tidak bisa terlepas dari plastik," katanya kemarin (6/4).
Kenaikan harga plastik otomatis meningkatkan biaya produksi dan harga pokok penjualan (HPP). Akibatnya, produsen terpaksa menaikkan harga jual untuk menutup kenaikan biaya tersebut. "Saya baru saja mewawancarai UKM produsen keripik tempe. Karena harga plastik kemasan naik, harga jual keripik ikut naik sekitar 20 persen," ujarnya.
Jika kenaikan harga kemasan terjadi secara luas, berbagai produk konsumsi berpotensi terkerek. Kondisi tersebut dapat memicu inflasi sekaligus menekan daya beli masyarakat. "Kalau harga barang meningkat, inflasi bisa naik dan daya beli masyarakat menurun," tambahnya.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Rifelly menilai pemerintah perlu melakukan intervensi kebijakan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek, pemerintah dapat memperketat pengawasan rantai pasok bahan baku plastik untuk mencegah praktik penimbunan.
Sementara dalam jangka panjang, pemerintah mempercepat penggunaan bahan alternatif pengganti plastik serta memperkuat sistem daur ulang guna mendorong ekonomi sirkular yang lebih berkelanjutan.



