Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

JP Morgan: Ketahanan Energi Indonesia Tertinggi Kedua Dunia

P
BERGANTUNG IMPOR: Pengisian BBM di SPBU Pertamina Malang, Jawa Timur. Konsumsi BBM mencapai 1,5–1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik berkisar 600 ribu barel per hari. (ANTARA FOTO)
BERGANTUNG IMPOR: Pengisian BBM di SPBU Pertamina Malang, Jawa Timur. Konsumsi BBM mencapai 1,5–1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik berkisar 600 ribu barel per hari. (ANTARA FOTO)

Advertisement

 

JAKARTA – Indonesia dinilai memiliki ketahanan energi yang kuat di tengah gejolak global. Namun, di balik capaian tersebut, terdapat kerentanan serius pada sektor bahan bakar minyak (BBM).

Laporan JP Morgan bertajuk Pandora's Bog: the Global Energy Shock of 2026 menempatkan Indonesia sebagai negara dengan ketahanan energi tertinggi kedua di dunia, di bawah Afrika Selatan.

Advertisement

Pengamat energi sekaligus Ketua Indonesia Center for Renewable Energy Studies (ICRES) Surya Darma menilai predikat tersebut tidak bisa dibaca secara sederhana. Menurut dia, ketahanan energi Indonesia lebih ditopang oleh batu bara dan gas, bukan minyak.

"Indonesia adalah produsen batu bara termal terbesar dan eksportir gas yang signifikan. Listrik kita berbasis batu bara domestik dengan skema DMO (domestic market obligation), sehingga relatif lebih tahan terhadap lonjakan harga global," paparnya kemarin (23/4).

Namun, di sisi lain, konsumsi BBM nasional justru menjadi titik lemah. Konsumsinya mencapai 1,5–1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya sekitar 600 ribu barel per hari. Artinya, terdapat defisit sekitar 1 juta barel per hari yang harus dipenuhi melalui impor.

Advertisement

"Kondisi ini membuat Indonesia sangat rentan terhadap gangguan global, termasuk konflik di Timur Tengah dan potensi gangguan distribusi di Selat Hormuz," tuturnya.

Situasi tersebut menciptakan paradoks. Secara agregat, sektor energi nasional terlihat kuat. Namun, pada sektor transportasi dan logistik, ketergantungan terhadap BBM impor masih sangat tinggi. "Ini seperti pisau bermata dua. Kuat di listrik dan industri, tetapi rapuh di sektor transportasi," ujarnya.

Percepat Diversifikasi

Dalam jangka panjang, Surya menekankan pentingnya percepatan transisi energi untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak. Adopsi kendaraan listrik (EV) dan pengembangan biofuel seperti B40 dan B50 perlu dipercepat untuk menekan impor BBM.

Selain itu, diversifikasi energi baru terbarukan (EBT) juga menjadi kunci. Pemanfaatan panas bumi, hidro, biomassa, angin, dan surya perlu diperluas, termasuk dengan dukungan sistem penyimpanan energi. "Diversifikasi energi penting agar ketahanan energi tidak hanya bergantung pada batu bara yang beremisi tinggi," pungkasnya. (bry/dio)

Advertisement
Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Koran Jawa Pos

Artikel Terkait

Petani Tebu Desak HPP Gula Naik

Petani Tebu Desak HPP Gula Naik

Petani tebu menuntut harga pokok penjualan (HPP) gula naik. Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) mendesak HPP segera dinaikkan menjadi Rp 16.875 per kilogram di tengah anjloknya harga

Empat Pelaku Rudapaksa Massal di Sampang Dituntut 4 Tahun Penjara

Empat Pelaku Rudapaksa Massal di Sampang Dituntut 4 Tahun Penjara

Penanganan kasus dugaan rudapaksa terhadap anak perempuan di bawah umur yang melibatkan 27 terduga pelaku di Sampang masih berlangsung. Dari 10 tersangka yang telah diamankan, enam di antaranya sudah disidang....

Kementerian Pertanian Beri Bantuan 56 Ribu Unit Pompa Air untuk Hadapi Kemarau Panjang

Kementerian Pertanian Beri Bantuan 56 Ribu Unit Pompa Air untuk Hadapi Kemarau Panjang

Musim kemarau panjang sudah melanda Indonesia. Di banyak daerah, hujan sudah beberapa pekan belum mengguyur. Pemerintah memberikan perhatian ke sektor pertanian supaya tetap bisa produksi. Caranya dengan menyiapkan....

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer