Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Awal Puasa Tidak Serentak, Menag Serukan Kebersamaan, Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan Besok, Muhammadiyah Hari Ini

P
LEBIH AWAL: Warga Muhammadiyah melaksanakan salat Tarawih di Masjid Jenderal Sudirman, Surabaya, Jawa Timur, tadi malam (17/2).
LEBIH AWAL: Warga Muhammadiyah melaksanakan salat Tarawih di Masjid Jenderal Sudirman, Surabaya, Jawa Timur, tadi malam (17/2).

JAKARTA – Seperti sudah diperkirakan, awal Ramadan tahun ini tidak serentak. Muhammadiyah mulai berpuasa hari ini (18/2). Sedangkan pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU) menetapkan 1 Ramadan jatuh pada Kamis (19/2) besok. 


Advertisement

Keputusan pemerintah itu diambil dalam sidang isbat yang diselenggarakan Kementerian Agama (Kemenag) di Jakarta tadi malam (17/2). Menag Nasaruddin Umar memimpin langsung pelaksanaan sidang isbat yang digelar tertutup. ”Dalam sidang ini kami melaksanakan musyawarah. Mengacu hasil hisab rukyah Kemenag dan ormas lain,” katanya.

Pembahasan dalam sidang isbat diperkuat dengan tim rukyat yang ada 96 titik. Data posisi hilal berdasarkan hisab ketinggian berkisar -2 derajat. ”Belum hilal wujud. Karena di bawah ufuk,” katanya. Jadi di seluruh wilayah Indonesia, bahkan di ASEAN, belum masuk imkanur rukyah. ”Karena itu, pemerintah menetapkan 1 Ramadan jatuh pada Kamis, 19 Februari,” katanya.

Hampir bersamaan dengan sidang isbat, PBNU menggelar rukyatul hilal di sejumlah lokasi. Pelaksanaannya berada di bawah Lembaga Falakiyah NU. Hasilnya, tidak ada perukyat yang berhasil mengamati atau melihat hilal.

Advertisement

 

Ketua Falakiyah NU KH Sirril Wafa menyampaikan, tinggi hilal di Indonesia berada pada rentang -3 sampai -1 derajat atau masih di bawah ufuk. Sehingga otomatis tidak ada perukyat yang bisa melihat hilal. Untuk diketahui hilal bisa terlihat jika tingginya di atas 2 derajat.

”Kedudukan hilal di seluruh Indonesia ada di bawah ufuk. Juga berada di bawah kriteria imkan rukyah NU,” katanya. Sehingga bulan Sya’ban digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari. Dari hasil pengamatan tersebut, PBNU memastikan bahwa 1 Ramadan jatuh pada 19 Februari. Rencananya pengumuman resmi akan disampaikan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf.

Advertisement

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) berharap masyarakat menyikapi perbedaan awal puasa itu dengan dewasa. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum MUI M. Cholil Nafis. Dia menekankan, jangan sampai ada gesekan yang dapat merusak ukhuwah Islamiyah (persaudaraan dalam Islam).

Kiai Cholil menegaskan pentingnya ukhuwah Islamiyah menuju kedekatan umat Islam kepada Allah SWT. Menurut dia, perbedaan awal puasa itu adalah masalah khilafiyah fikih atau masalah perbedaan pemikiran. Maka tidak perlu dibawa-bawa pada perpecahan. ”Jadikan (sebagai) ikhtilaf ummati rahmat. Menjadi rahmat bagi kita untuk kita belajar lebih banyak,” tegasnya.

 

 

Muhammadiyah Mulai Salat Tarawih

Sementara itu, warga Muhammadiyah tadi malam sudah melaksanakan salat tarawih. Sejumlah masjid di berbagai kota tampak penuh.

Di Surabaya, misalnya, salah satu masjid yang melaksanakan Salat Tarawih berjamaah perdana adalah Masjid Jenderal Sudirman. Ratusan jamaah, baik laki-laki maupun perempuan, memadati saf di lantai dasar hingga lantai dua masjid. Sebelum pelaksanaan salat tarawih, penceramah mengajak para jamaah untuk merefleksikan makna Ramadan 2026 sebagai momentum meningkatkan kualitas ibadah dan kepedulian sosial.

Tausiah singkat itu disampaikan oleh Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya Prof Sukadiono. Dia menyampaikan agar tidak memandang penentuan awal Ramadan sebagai perbedaan yang memecah, melainkan sebagai bagian dari khazanah keberagaman.

 

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir meminta umat Islam menyikapi perbedaan itu dengan cerdas dan tasamuh. ”Di situlah ruang ijtihad, tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain, dan satu sama lain juga tidak merasa paling benar sendiri,” ujarnya Selasa (17/2).

Menurut dia, perbedaan harus disikapi dengan arif bijaksana. Terlebih, puasa itu tujuan utamanya adalah meningkatkan takwa, baik pribadi maupun kolektif. ”Jadi fokuskan pada hal substantif bagaimana puasa bagi setiap muslim benar-benar menggapai ketakwaan dalam wujud menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya serta menghadirkan kebaikan hidup serba utama,” paparnya. (wan/idr/zam/oni/jawa pos)

Advertisement
Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Jawa Pos Koran

Artikel Terkait

Petani Tebu Desak HPP Gula Naik

Petani Tebu Desak HPP Gula Naik

Petani tebu menuntut harga pokok penjualan (HPP) gula naik. Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) mendesak HPP segera dinaikkan menjadi Rp 16.875 per kilogram di tengah anjloknya harga

Empat Pelaku Rudapaksa Massal di Sampang Dituntut 4 Tahun Penjara

Empat Pelaku Rudapaksa Massal di Sampang Dituntut 4 Tahun Penjara

Penanganan kasus dugaan rudapaksa terhadap anak perempuan di bawah umur yang melibatkan 27 terduga pelaku di Sampang masih berlangsung. Dari 10 tersangka yang telah diamankan, enam di antaranya sudah disidang....

Kementerian Pertanian Beri Bantuan 56 Ribu Unit Pompa Air untuk Hadapi Kemarau Panjang

Kementerian Pertanian Beri Bantuan 56 Ribu Unit Pompa Air untuk Hadapi Kemarau Panjang

Musim kemarau panjang sudah melanda Indonesia. Di banyak daerah, hujan sudah beberapa pekan belum mengguyur. Pemerintah memberikan perhatian ke sektor pertanian supaya tetap bisa produksi. Caranya dengan menyiapkan....

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer