AMBON - Kakak-adik itu tengah melintasi jalanan menurun di Kota Tual, Maluku Tenggara, ketika seorang polisi yang berada di pinggir jalan mencegat mereka. Dari balik pohon tempatnya berdiri, mendadak dia langsung mengayunkan helm ke wajah Arianto Tawakal.
"Dia (Arianto) masih pegang motor, tapi matanya sudah tertutup karena (helm) kena di wajah. Motor terus melaju, lalu jatuh tersungkur. Kepalanya sempat terseret di aspal," kata Nasri Karim, kakak Arianto, yang dibonceng sang adik saat kejadian, seperti dikutip dari Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid yang mengumpulkan keterangan dari keluarga.
Akibat kejadian pada Kamis (19/2) subuh lalu itu, Arianto, pelajar kelas IX madrasah tsanawiyah, meninggal beberapa jam kemudian di RSUD Karel Sadsuitubun, Kota Tual. Keluarga amat berang setelah narasi yang sempat berkembang bahwa Arianto dan Nasri terlibat balapan liar.
"Oknum tersebut (polisi yang memukul Arianto dengan helm, red) memaksa kami mengaku sedang balapan. Faktanya, jalanan sedang menurun, jadi motor memang melaju lebih cepat secara alami," kata Nasri, seperti dikutip dari fajar.co.id.
Baca Juga: Bareskrim Geledah Rumah di Surabaya yang Tampung Emas Hasil Tambang Ilegal
Jalani Pemeriksaan
Kabidhumas Polda Maluku Kombespol Rositah Umasugi menjelaskan, setibanya di Mapolda Maluku, Bripda MS langsung menjalani pemeriksaan di Subbid Wabprof Bidpropam. "Polda Maluku berkomitmen memproses kasus ini secara tegas, akuntabel, dan profesional. Setiap perkembangan akan disampaikan secara terbuka kepada publik," tegasnya.
Bripda MS, anggota Brimob yang memukul wajah Arianto dengan helm, telah ditetapkan Polres Tual sebagai tersangka pada Jumat (20/2). Dia juga sudah diterbangkan ke Ambon, Maluku. Hari ini (23/2) dia dijadwalkan menjalani Sidang Kode Etik Profesi di Polda Maluku.
"Penetapan tersangka dilakukan setelah gelar perkara, dengan hasil status hukum Bripda MS dinaikkan dari terlapor menjadi tersangka," ujar Kapolres Tual AKBP Whansi Des Asmoro, Sabtu (21/2), seperti dikutip dari Ambon Ekspres.
Sementara itu, ayah korban, Rijik Tawakal, mendesak kepolisian bersikap transparan. "Saya minta kasus ini segera diusut secara terbuka. Jangan ada yang disembunyikan," ujarnya saat ditemui jajaran kepolisian yang menyampaikan permohonan maaf. (ars/eli/bry/ttg/jawa pos)
Editor : Pratama Karamoy