Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sepak Bola di Tempat Terbaiknya

P
MERAYAKAN GELAR: Dari kiri, Alex Baena, Dani Olmo, dan David Raya mengabadikan trofi Piala Dunia setelah rombongan timnas Spanyol tiba di Bandara Barajas, Madrid, kemarin (20/7). (OSCAR DEL POZO/AFP)
MERAYAKAN GELAR: Dari kiri, Alex Baena, Dani Olmo, dan David Raya mengabadikan trofi Piala Dunia setelah rombongan timnas Spanyol tiba di Bandara Barajas, Madrid, kemarin (20/7). (OSCAR DEL POZO/AFP)

Advertisement

 UMPAN yang dilepas anak pekerja bangunan itu disambut dengan sundulan oleh putra imigran dari Ghana. Tanpa mengontrolnya lagi, buah hati seorang ibu tunggal menyepaknya. Gol! 

Kalau kemudian dunia, kecuali mungkin yang tinggal di Argentina, menyambut kemenangan Spanyol berkat tendangan Ferran Torres hasil umpan sundulan Nico Williams setelah mendapat kiriman bola lambung Pedro Porro dalam final Piala Dunia kemarin (20/7) WIB itu, barangkali karena pada titik tersebut, sepak bola seperti menemukan tempat terbaiknya. Tempat di mana yang liyan tegak berdiri bersama yang mayoritas, sebagaimana semangat kalangan dari mana olahraga ini berasal: kelas pekerja. Dalam bentala kelas pekerja, kata Harry Bridges, tokoh buruh Amerika Serikat kelahiran Australia, kata terpenting adalah solidaritas.

Dan, tidakkah Spanyol adalah cerminan terbaik solidaritas itu, di dalam maupun luar lapangan? Ia dibangun dengan semangat sistem kolektivitas, tanpa ada primadona di dalamnya yang mendapat perlakuan istimewa. Ia juga tim yang memungkinkan seorang seperti Lamine Yamal, anak imigran Maroko dan Guinea Katulistiwa yang tumbuh di Rocafonda, salah satu perkampungan multietnis termiskin di Spanyol, menjadi bagian pentingnya.

Advertisement

Bukan Proletar vs Borjuis

Tak lantas berarti final Piala Dunia 2026 harus dibaca secara hitam putih: simbol proletarianisme melawan borjuisme. Jangan lupa, ayah-ibu Lionel Messi bahkan dulu tak mampu membelikannya hormon pertumbuhan. Emiliano Martinez yang kemarin melakukan 11 penyelamatan juga lahir dari pasangan sopir truk-petugas kebersihan. Ada kontrak pemain yang kian hari kian tinggi, biaya pertandingan, serta perawatan stadion yang menuntut sebuah tim sepak bola harus beroperasi seperti korporasi. Ia tak bisa terus-menerus sekadar jadi medium pelepasan kepenatan di Sabtu sore.

Tapi, perubahan format tak berarti harus mengikis semangat dasar dari komunitas tempatnya berasal. Penghormatan kepada yang beda, lantang membela yang lemah, menentang ketidakadilan, dan terikat dengan barrio (komunitas)-nya, di antaranya. Rayo Vallecano, klub Spanyol, konsisten melakukan itu sampai sekarang. Dengan gaji tak seberapa, para pemain dari klub di pinggiran Madrid itu pernah patungan menyewakan flat untuk seorang ibu sepuh yang menjadi korban penipuan.

Advertisement

Spanyol, kita tahu, berdiri di garda terdepan menentang genosida Israel di Gaza, Palestina. Mereka juga menolak wilayah mereka dijadikan basis militer Amerika Serikat untuk menyerang Iran. Dan, kita melihat solidaritas itu tercermin kuat dalam tim nasionalnya. Tapi, sayangnya, dengan tingkah polah pemerintahan sayap kanannya serta jejak kontroversi sejak fase grup Piala Dunia 2026, Argentina seperti berada di sisi sebaliknya.

Piala Dunia 2026, kita tahu, juga penuh dengan pengkhianatan kepada solidaritas. Kapten Iraq yang diperiksa imigrasi belasan jam, wasit terbaik Afrika yang tak mendapatkan visa, skuad Iran yang dilarang menginap di Amerika Serikat, sampai timnas Uzbekistan yang diperiksa secara tak hormat saat hendak uji tanding.

Kemenangan La Furia Roja sedikit banyak telah mengoleskan gincu di wajah bopeng itu. Sepak bola menang, akhirnya. Sepak bola juga telah kembali ke tempat terbaiknya. (*)

Advertisement
Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Koran Jawa Pos

Artikel Terkait

Wali Kota Hengky Honandar Buka Karate Open Tournament Kajati Cup ke-5 dan Wali Kota Bitung 2026

Wali Kota Hengky Honandar Buka Karate Open Tournament Kajati Cup ke-5 dan Wali Kota Bitung 2026

Pemerintah Kota Bitung berkomitmen untuk terus mendukung kemajuan olahraga.

Debut Sempurna Mitchell Bakker

Debut Sempurna Mitchell Bakker

Mitchell Bakker tak membutuhkan waktu lama untuk mencuri perhatian publik Indonesia. Penyerang berusia 19 tahun itu langsung mengukir debut sempurna bersama Timnas Indonesia saat menundukkan Kamboja 5-1 pada laga....

Fajar/Fikri Back-to-Back Juara China Open, Kembali Taklukkan Ganda Nomor Satu Dunia

Fajar/Fikri Back-to-Back Juara China Open, Kembali Taklukkan Ganda Nomor Satu Dunia

Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri kembali menunjukkan dominasinya atas pasangan nomor satu dunia asal Korea Selatan, Seo Seung-jae/Kim Won-ho. Sepekan setelah mengalahkan lawan yang sama di final Japan Open 2026,...

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer