Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jaga Irama, Rawat Optimisme, Tatap Kejayaan

H
Penulis: Hairil Paputungan❯
foto:dok
foto:dok

Advertisement

Refleksi 62 Tahun Partai Golkar

Oleh: Baso Affandi*

JAGOSATU.COM - Begitu banak organisasi yang hidup dari kebesaran masa lalunya. Ada pula organisasi yang menjadikan sejarah sebagai modal untuk melangkah ke masa depan. Pada usia ke-62 tahun, Partai Golkar menghadapi sebuah pertanyaan penting: apakah pengalaman panjang yang dimilikinya cukup untuk mengantarkan partai ini kembali ke puncak kejayaan, atau justru dibutuhkan keberanian untuk mengubah cara berpikir, cara bekerja, dan cara berkomunikasi dengan rakyat ?

Advertisement

Politik tidak pernah berhenti bergerak. Basis pemilih berubah, generasi muda memiliki cara pandang yang berbeda, teknologi mengubah pola komunikasi dan masyarakat semakin kritis dalam menilai partai politik. Dalam keadaan seperti ini, organisasi yang ingin bertahan tidak cukup hanya mengandalkan jaringan, pengalaman dan nama besar. Ia harus mampu membaca zaman.

Di sinilah usia 62 tahun Golkar menemukan maknanya. Bukan semata-mata tentang berapa lama sebuah partai bertahan, melainkan tentang seberapa jauh pengalaman tersebut dapat diubah menjadi kemampuan untuk menjawab tantangan masa depan.

Kepemimpinan Muda dan Energi Pembaruan

Advertisement

Salah satu sumber optimisme Golkar hari ini adalah hadirnya kepemimpinan generasi muda di tingkat pusat maupun daerah. Pergantian generasi dalam organisasi politik bukan sekadar perubahan usia para pemimpin. Lebih jauh, ia menyangkut perubahan perspektif, kecepatan merespons persoalan, keberanian mengambil keputusan dan kemampuan memahami aspirasi masyarakat yang terus berkembang.

Buku The Leadership Challenge, James M. Kouzes dan Barry Z. Posner menjelaskan bahwa kepemimpinan yang efektif tidak hanya bertumpu pada jabatan formal, tetapi juga pada kemampuan memberikan teladan, membangun visi bersama, menantang kebiasaan yang tidak lagi relevan, serta mendorong orang lain untuk bertindak.

Perspektif ini penting bagi Golkar. Anak muda yang memperoleh kepercayaan memimpin tidak boleh berhenti sebagai simbol regenerasi. Mereka harus tampil sebagai pembawa gagasan, penggerak organisasi dan pelayan masyarakat. Regenerasi baru memiliki arti apabila menghasilkan peningkatan kualitas kepemimpinan.

Golkar memiliki modal sejarah, jaringan politik, pengalaman pemerintahan, serta struktur organisasi yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Jika modal tersebut bertemu dengan energi generasi muda, sesungguhnya tersedia ruang yang besar untuk membangun kekuatan politik yang lebih adaptif.

Advertisement
Editor : Hairil Paputungan

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer