Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Google Ungkap Serangan Siber AI Berskala Industri

P
ANTISIPATIF: Perangkat untuk menangkal serangan siber berbasis AI ditampilkan dalam forum "InCyber" di Grand Palais, Lille (Prancis bagian utara), awal bulan lalu (2/4). (AFP)
ANTISIPATIF: Perangkat untuk menangkal serangan siber berbasis AI ditampilkan dalam forum "InCyber" di Grand Palais, Lille (Prancis bagian utara), awal bulan lalu (2/4). (AFP)

Advertisement

 

LONDON – Laporan terbaru dari Google mengungkap perubahan drastis dalam situasi keamanan siber global. Dalam waktu hanya tiga bulan, praktik peretasan berbasis akal imitasi (AI) berkembang dari ancaman awal menjadi serangan berskala industri.

Google melalui tim intelijen ancaman siber menyebut bahwa model AI komersial kini dimanfaatkan untuk mempercepat dan meningkatkan kompleksitas serangan digital. Laporan tersebut menyoroti bagaimana kemampuan AI dalam menulis kode secara otomatis membuat eksploitasi celah sistem perangkat lunak menjadi lebih cepat, luas, dan sulit dideteksi dibandingkan metode konvensional.

Advertisement

"Pelaku ancaman kini memanfaatkan AI untuk mempercepat, memperluas, dan menyempurnakan serangan, termasuk dalam pengembangan malware yang lebih kompleks," kata kepala analis intelijen ancaman Google, John Hultquist, seperti dilansir The Guardian.

Laporan itu juga mengidentifikasi keterlibatan aktor kriminal serta kelompok yang didukung negara dari Tiongkok, Korea Utara, dan Rusia. Mereka dilaporkan memanfaatkan model komersial seperti Gemini, Claude, serta OpenAI untuk menyempurnakan dan memperluas skala serangan siber yang dilakukan secara sistematis terhadap berbagai target global.

Advertisement

Di sisi lain, kekhawatiran juga muncul dari industri AI itu sendiri. Perusahaan Anthropic diketahui sempat menunda peluncuran model terbarunya, Mythos, setelah menilai bahwa kemampuan model tersebut terlalu kuat dan berpotensi disalahgunakan.

Anthropic menyebut Mythos mampu menemukan kerentanan zero-day—yakni celah keamanan pada sistem atau perangkat lunak yang belum diketahui dan belum sempat diperbaiki oleh pengembang—di semua sistem operasi utama dan semua peramban web utama. Laporan Google juga menemukan bahwa sebuah kelompok kriminal hampir memanfaatkan kerentanan zero-day untuk kampanye eksploitasi massal dengan bantuan model bahasa besar (LLM) lain, bukan Mythos. (din/dns)

Advertisement
Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Koran Jawa Pos

Artikel Terkait

Mesin Pencari Google Berubah Jadi Otonom, Transisi Terbesar dalam Tiga Dekade

Mesin Pencari Google Berubah Jadi Otonom, Transisi Terbesar dalam Tiga Dekade

Google kembali membuat gebrakan besar. Perusahaan yang didirikan Larry Page dan Sergey Brin itu mengubah mesin pencari Google menjadi sistem akal imitasi (AI) yang otonom (bisa bekerja sendiri). Perubahan ini disebut....

Google Investasikan Rp 690 T ke Anthropic

Google Investasikan Rp 690 T ke Anthropic

Arah persaingan akal imitasi (AI) global kian bergeser ketika Alphabet Inc., induk Google, menyiapkan investasi hingga 40 miliar dolar AS atau hampir Rp 690 triliun ke Anthropic. Investasi ini menunjukkan bahwa...

AI Milik OpenAI Meretas Mandiri Perusahaan AI Lain

AI Milik OpenAI Meretas Mandiri Perusahaan AI Lain

OpenAI mengungkap sebuah insiden keamanan yang disebut sebagai salah satu kasus pertama ketika sistem AI melakukan tindakan peretasan secara mandiri terhadap perusahaan AI lain. Perusahaan pembuat ChatGPT itu....

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer