Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menjadi Developer di Era AI, Pemahaman dan Kemampuan Berpikir Tetap Jadi Kunci

A
Penulis: ALengkong❯
Muhammad Agung Rizkyana saat menyampaikan materi "Your Future in Tech: Becoming a Developer in the Age of AI" dalam seminar FILKOM DAY 2026 di Universitas Klabat.
Muhammad Agung Rizkyana saat menyampaikan materi "Your Future in Tech: Becoming a Developer in the Age of AI" dalam seminar FILKOM DAY 2026 di Universitas Klabat.

Advertisement

 

MANADO POST — Perkembangan Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam dunia teknologi, termasuk cara seorang software developer membangun dan mengembangkan aplikasi. Kemudahan yang ditawarkan AI membuat proses pemrograman menjadi lebih cepat. Namun, kemampuan memahami kode dan berpikir kritis tetap menjadi hal penting yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi tersebut.

 

Advertisement

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam seminar FILKOM DAY 2026 bertajuk "Your Future in Tech: Becoming a Developer in the Age of AI" yang dibawakan oleh Muhammad Agung Rizkyana di Universitas Klabat dalam acara Filkom Day , Rabu (5/11/2026). Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa istilah Artificial Intelligence telah dikenal sejak dekade 1950-an. Namun, perkembangan AI semakin pesat berkat tiga faktor utama, yaitu peningkatan daya komputasi, ketersediaan dataset dalam jumlah besar, serta kemajuan arsitektur deep learning.

 

Agung juga menjelaskan bagaimana AI bekerja melalui proses input, machine learning, hingga menghasilkan output. Salah satu contoh penerapannya dapat ditemukan pada layanan Google Maps. Perkembangan AI turut mengubah Software Development Life Cycle (SDLC), yaitu tahapan pengembangan perangkat lunak. Jika sebelumnya developer mengerjakan berbagai proses secara manual, kini AI dapat membantu mempercepat sejumlah pekerjaan, mulai dari penulisan kode hingga tugas-tugas berulang.

Advertisement

 

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kemudahan menggunakan AI juga memiliki risiko, terutama ketika seseorang terlalu bergantung pada hasil yang diberikan tanpa memahami proses di baliknya. Ia menyampaikan pesan, "You can delegate thinking, but not understanding." Pesan tersebut menegaskan bahwa meskipun sebagian pekerjaan dapat diserahkan kepada AI, pemahaman dan kemampuan mengevaluasi hasil tetap harus dimiliki oleh penggunanya.

 

Untuk menggambarkan hal tersebut, Agung menggunakan analogi sepeda motor manual dan otomatis. Motor otomatis lebih mudah digunakan karena pengendara hanya perlu mengatur gas dan rem, sedangkan motor manual membutuhkan keterampilan tambahan dalam mengoperasikan kopling. Analogi ini menggambarkan bagaimana AI dapat mempermudah pekerjaan, tetapi kemampuan dasar tetap diperlukan agar seseorang mampu mengendalikan dan memahami hasil pekerjaannya.

 

Advertisement

Artikel Terkait

Valen Rewah Jadi Guest Star Filkom Day Universitas Klabat

Valen Rewah Jadi Guest Star Filkom Day Universitas Klabat

Influencer Valen Rewah hadir sebagai guest star dalam kegiatan Filkom Day Universitas Klabat, Kamis (5/11/2026).

AI Milik OpenAI Meretas Mandiri Perusahaan AI Lain

AI Milik OpenAI Meretas Mandiri Perusahaan AI Lain

OpenAI mengungkap sebuah insiden keamanan yang disebut sebagai salah satu kasus pertama ketika sistem AI melakukan tindakan peretasan secara mandiri terhadap perusahaan AI lain. Perusahaan pembuat ChatGPT itu....

Foto dan Suara Sri Sultan Dicatut untuk Penipuan Pakai AI, Diskominfo Jogjakarta Pastikan Video 100 Persen Palsu

Foto dan Suara Sri Sultan Dicatut untuk Penipuan Pakai AI, Diskominfo Jogjakarta Pastikan Video 100 Persen Palsu

Kejahatan siber memakai artificial intelligence (akal imitasi/AI) menyasar Gubernur Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X. Pelaku mencatut foto dan suara Sultan untuk melancarkan aksi....

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer