Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kampus Indonesia Kembangkan Sistem AI Terpadu untuk Memprediksi Cuaca, Kualitas Udara, dan Serangan Hama dalam Satu Platform

P

AI kampus Indonesia ramalkan cuaca polusi dan hama dalam satu sistem terpadu
AI kampus Indonesia ramalkan cuaca polusi dan hama dalam satu sistem terpadu


Advertisement

Jagosatu.com - Sebuah terobosan lahir dari kolaborasi lintas fakultas di salah satu kampus teknologi di Indonesia yang menggabungkan AI, IoT, dan analisis data menjadi satu platform terpadu untuk sektor pertanian dan lingkungan.

Platform ini memanfaatkan sensor lingkungan yang disebar di area pertanian untuk mengumpulkan data suhu, kelembapan, polusi, dan pola pergerakan serangga.

Teknologi AI yang digunakan berupa Hybrid Forecasting Model yang menggabungkan LSTM, Random Forest, dan Gradient Boosting dalam satu pipeline prediksi.

Advertisement

Menurut laporan internal kampus, sistem mampu memprediksi perubahan cuaca mikro, kualitas udara harian, dan potensi serangan hama dalam rentang akurasi mencapai 87 persen.

Penggabungan tiga algoritma memungkinkan AI membaca pola lingkungan dengan cara yang tidak mampu dilakukan oleh sistem prediktif konvensional.

Para peneliti menjelaskan bahwa integrasi data hama dan data cuaca memungkinkan AI menghitung risiko serangan hama secara lebih realistis.

Advertisement

Sensor seperti DHT22, MQ-135, dan modul LoRa dipasang pada titik strategis untuk menghasilkan data real-time setiap 10 detik.

Data yang terkumpul langsung diproses di server kampus melalui pipeline komputasi berbasis Python dan NodeJS.

Aplikasi pemantauan berbasis Flutter memberikan peringatan otomatis ketika AI mendeteksi potensi risiko pada kualitas udara maupun kondisi tanaman.

Riset ini terinspirasi dari banyaknya laporan petani yang kesulitan memprediksi cuaca cepat berubah dan serangan hama tiba-tiba.

Pengujian awal dilakukan di area Minahasa dan Manado yang memiliki mikroklimat berbeda untuk melihat performa AI pada kondisi yang kompleks.

Tim riset menyebut nilai akurasi dapat meningkat jika data historis yang tersedia diperluas hingga tiga musim tanam.

Implementasi IoT memungkinkan platform menghemat biaya operasional karena seluruh sistem berjalan otomatis tanpa pengawasan manual.

Mahasiswa yang terlibat juga menambahkan fitur peta risiko berbasis geospasial agar petani bisa melihat potensi ancaman di wilayahnya.

AI ini tidak hanya digunakan untuk pertanian tetapi juga diproyeksikan menjadi sistem pemantauan lingkungan untuk kawasan wisata dan industri.

Fitur prediksi kualitas udara dirancang untuk membaca potensi polusi ringan hingga berat yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.

Riset lanjutan sedang disiapkan untuk menambahkan modul prediksi curah hujan ekstrem berbasis model atmosfer mini.

Kolaborasi dengan pemerintah daerah juga sedang dijajaki agar teknologi ini dapat diterapkan secara luas di berbagai kabupaten.

Tim peneliti optimistis bahwa platform terpadu ini akan menjadi standar baru dalam pemantauan lingkungan di masa depan.

Inovasi ini menunjukkan bahwa kampus Indonesia memiliki kemampuan untuk menciptakan teknologi kelas dunia berbasis kebutuhan lokal.

Dengan dukungan riset berkelanjutan, sistem terpadu ini dapat menjadi salah satu pondasi transformasi digital sektor lingkungan dan pertanian nasional.

(AR)

Advertisement
Editor : Prisilia Rumengan
Sumber : UNKLAB, cogito, IEEE Xplore, ScienceDirect

Artikel Terkait

Studi Baru Ungkap Penyakit Sapi Gila Bukan Hanya Disebabkan oleh Prion

Studi Baru Ungkap Penyakit Sapi Gila Bukan Hanya Disebabkan oleh Prion

Studi terbaru dari University of Alberta menunjukkan bahwa penyakit sapi gila bisa dipicu oleh endotoksin bakteri, menantang teori prion yang lama berlaku.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer