JagoSatu.com - Elon Musk kembali melakukan manuver uniknya, kali ini ia menukar Planet Merah dengan si putih. SpaceX resmi menunda mimpi ke Mars demi fokus membangun "kota mandiri" di Bulan. Ternyata, perjalanan tiga hari memang jauh lebih realistis.
Musk mengklaim pangkalan Bulan adalah target yang jauh lebih cepat dicapai dibanding Mars. Ia memproyeksikan kota Bulan beres dalam 10 tahun, sementara Mars butuh 20 tahun. Tentu kita perlu melihat buktinya langsung mengingat sejarah jadwalnya yang sering melesat.
Pergeseran besar ini dilansir oleh Engadget bagi perusahaan yang sejak awal ingin menjajah Mars. Logistik di Bulan jauh lebih sederhana karena jaraknya dekat. Bisa dibilang, Bulan adalah "tingkat tutorial" yang seharusnya sudah kita selesaikan sejak bertahun-tahun yang lalu.
Lewat unggahan di X, Musk mengklarifikasi bahwa Mars tetap berjalan secara paralel. Misi Mars mungkin dimulai lima tahun lagi, dengan penerbangan berawak di 2031. Meski begitu, estimasi waktu ini seringkali dianggap sebagai "Elon Time" yang sangat optimis.
Padahal tahun lalu Musk punya pendapat berbeda dan menyebut Bulan sebagai "pengalih perhatian". Namun, realita mekanika orbit sepertinya mulai terasa dampaknya. Lucu melihat prioritas berubah total ketika hukum fisika tidak sesuai dengan keinginan sang miliarder.
Pergeseran ini masuk akal jika melihat potensi oksigen dari tanah Bulan, seperti dikutip dari Engadget. NASA membuktikan oksigen bisa diambil dari sana, sehingga beban kapal berkurang drastis. Bulan bisa menjadi "pom bensin" strategis untuk perjalanan ruang angkasa.
Misi Artemis NASA telah membuka jalan dan SpaceX menjadi kontraktor utamanya. Artemis II dijadwalkan meluncur Maret tahun ini untuk membawa astronot mengelilingi Bulan. Menyenangkan melihat SpaceX akhirnya selaras dengan peta jalan resmi yang telah disusun oleh NASA.
SpaceX menargetkan pendaratan tanpa awak Starship pada Maret 2027 untuk menguji perangkat keras, dilansir oleh Engadget. Ini akan jadi sejarah besar pendaratan Starship di benda langit lain. Semoga saja misi kali ini berjalan mulus tanpa adanya insiden ledakan.
Reputasi Musk soal jadwal memang sudah rahasia umum. Tahun 2017, ia berjanji pangkalan Mars siap di 2024, tapi nyatanya tahun itu sudah lewat. Dengan kecepatan seperti ini, sepertinya kota di Bulan baru akan siap saat masa pensiun nanti.
Konsep kota mandiri ini bukan sekadar pangkalan biasa, melainkan pusat industri yang hidup. Musk ingin menggunakan pencetakan 3D dan sumber daya lokal agar kota ini berkembang sendiri. Ini terdengar seperti game strategi fiksi ilmiah yang menjadi kenyataan.
Jarak Bulan yang hanya dua hari perjalanan memungkinkan SpaceX berinovasi lebih cepat. Jika ada kerusakan, tim penyelamat bisa tiba dalam hitungan hari, tak seperti di Mars. Inovasi memang penting, selama faktor keamanan manusia tetap menjadi prioritas paling utama.
Rencana baru Musk mencakup pabrik satelit AI dan pusat data di Bulan, dikutip dari Engadget. Bisnis ini diharapkan bisa mendanai perjalanan ke Mars yang jauh lebih mahal. Pusat data di luar angkasa benar-benar definisi "Cloud Computing" yang sesungguhnya.
Bulan menawarkan lingkungan logistik yang lebih mudah untuk menguji sistem pendukung kehidupan. Belajar bertahan hidup di gravitasi rendah adalah batu loncatan sempurna menuju Planet Merah. Ibaratnya, kita berlatih di gokart sebelum benar-benar terjun ke balapan kelas Formula 1.
Kota mandiri ini juga disiapkan sebagai cadangan bagi umat manusia jika terjadi bencana di Bumi. Musk terobsesi mengamankan masa depan peradaban, dan Bulan adalah cara tercepat. Ini bisa menjadi sebuah polis asuransi yang menarik bagi spesies manusia.
Strategi baru SpaceX ini akhirnya selaras dengan hukum fisika dan anggaran NASA. Masa depan koloni luar angkasa kini terasa lebih dekat dari sebelumnya. Nah, apakah kalian tertarik menjadi pelopor dan tinggal di kota mandiri di Bulan nanti? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung