JAGOSATU.COM - Indonesia melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan sukses menggelar Regional Marine Pollution Exercise (Marpolex) ke-25 tahun 2026 di perairan Selat Lembeh, Kota Bitung, Sulawesi Utara, Sabtu (10/10/2026).
Melibatkan 21 kapal, ditambah kondisi cuaca yang cerah turut mendukung kelancaran seluruh rangkaian simulasi. Setelah latihan penanggulangan keadaan darurat, kegiatan dilanjutkan dengan sailing pass, yakni pelayaran kapal-kapal peserta dalam formasi yang telah ditentukan.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), Dr Triono SH MH mengungkapkan rasa syukur atas suksesnya pelaksanaan latihan bersama tersebut.
"Alhamdulillah, hari ini kita sukses melaksanakan kegiatan ini. Semoga apa yang kita laksanakan hari ini bisa bermanfaat bagi ketiga negara," ujar Triono.
Lebih jauh dikatakan, sejumlah skenario darurat diperagakan dalam latihan ini, mulai dari pemadaman kebakaran (firefighting), pencarian dan penyelamatan korban (search and rescue/SAR), hingga penanggulangan pencemaran laut (marine pollution).
"Salah satu simulasi utama adalah pemasangan empat lapis oil boom atau penghalang minyak untuk membatasi penyebaran tumpahan minyak di permukaan laut. Langkah ini menjadi bagian penting dalam menguji kesiapan personel dan efektivitas koordinasi saat menghadapi insiden pencemaran laut," terangnya.
Menurutnya, Marpolex 2026 tidak sekadar menjadi latihan rutin, tetapi juga wadah untuk memperkuat kemampuan personel dan membangun koordinasi lintas negara dalam menghadapi insiden maritim yang membutuhkan penanganan cepat, tepat, dan terpadu.
"Sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas latihan, evaluasi akan dilakukan melalui rapat bersama untuk mengidentifikasi hasil pelaksanaan, mengukur efektivitas koordinasi, serta merumuskan aspek-aspek yang perlu ditingkatkan pada kegiatan berikutnya," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Delegasi Jepang, Capt. Kyoko Ono, menegaskan pentingnya latihan bersama untuk membangun koordinasi yang efektif dan memperkuat kerja sama antarnegara.
"Kolaborasi yang solid tidak dapat terwujud hanya melalui komunikasi di atas kertas, tetapi harus dibangun melalui latihan bersama dan koordinasi berkelanjutan," kata Kyoko.
Senada disampaikan RADM Meniado dari Philippine Coast Guard (PCG). Ia menekankan bahwa penanganan tumpahan minyak membutuhkan keterlibatan lintas negara.
"Pasalnya, pencemaran laut dapat menyebar melampaui batas wilayah perairan dan menimbulkan dampak luas terhadap lingkungan maritim," katanya sembari menyatakan kesiapan Filipina menjadi tuan rumah penyelenggaraan Marpolex berikutnya pada 2028 mendatang.
Momen tersebut turut disaksikan para kepala delegasi Head of Delegation (HOD) dari Filipina dan Jepang, serta pengamat (observer) dari Australia dan Amerika Serikat yang mengikuti jalannya kegiatan dari kapal yang telah disiapkan.
Suksesnya MARPOLEX 2026 di perairan Selat Lembeh Bitung, menegaskan pentingnya kolaborasi internasional dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi ancaman pencemaran laut.(hry)