JAGOSATU.COM - Hari Kesakitan Pancasila pada tanggal 1 Oktober 2023 akan dikenang sebagai hari bersejarah, tetapi sayangnya, hari ini (kemarin) juga diberi sorotan karena peristiwa berkabut yang melanda langit Kota Manado. Ini disebabkan oleh kebakaran yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumompo. Hingga pukul 23:55 (1/10), kobaran api masih belum berhasil dipadamkan di TPA Sumompo.
Ratman Asrar, seorang warga setempat, memberikan kesaksian bahwa kebakaran telah terjadi sejak Minggu (1/10) siang, dan hingga tengah malam, api masih berkobar tanpa henti. Dia mengungkapkan kekhawatirannya melalui situs media sosialnya, "Sudah 12 jam oto pemadam kebakaran masih bolak balik ke TPA Sumompo yang terbakar."
Prof Dr. Treesje Katrina Londa MSi, seorang Peneliti dan Pengamat Lingkungan Hidup, memberikan analisis tentang dampak yang mungkin terjadi akibat kebakaran di TPA Sumompo. Dia mengatakan, "Dampaknya yang pasti adalah polusi udara, harta milik warga terancam, dan semoga tidak ada korban jiwa." Prof Londa juga merupakan Dosen Jurusan Fisika FMIPA UNIMA.
Sementara itu, Adji Krisbandono, Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Sulut, mengungkapkan bahwa dampak dari kebakaran ini kemungkinan akan mengganggu layanan persampahan di Kota Manado. "Terkait dampaknya, layanan persampahan kemungkinan akan terganggu," jelas Adji.
Di tempat lain, Chris Longdong, seorang Pegiat Lingkungan dan Sistem Persampahan, yang juga merupakan pendiri WAUS Energy, mengimbau untuk sementara menutup TPA Sumompo sebagai respons terhadap kebakaran tersebut. "Penutupan sementara TPA Sumompo seperti TPA lain yang mengalami kebakaran, terutama karena musim kemarau," kata Longdong.
Sementara itu, Pemerintah Kota Manado, melalui Kepala Dinas Lingkungan Hidup Franky Porawouw dan Kabid Pengelolaan Persampahan dan LB3 DLH Lieke Kembuan, belum memberikan tanggapan resmi terkait peristiwa kebakaran di TPA Sumompo. (mpo)
Editor : Tina Mamangkey