JAGOSATU.COM - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kaki Gunung Klabat, Minahasa Utara, belum juga padam. Data terbaru per Senin (12/10/2026) malam, api sudah melahap 651 hektare lahan.
Kebakaran ini sudah berlangsung sejak 19 September 2026 atau sekira 24 hari. Bupati Minahasa Utara (Minut) Joune Ganda memperpanjang status tanggap darurat bencana kekeringan, karhutla dan angin kencang dari 8-21 Oktober 2026.
Apalagi asap pekat kini tidak hanya menyelimuti Desa Laikit dan Matungkas, tapi sudah merembet ke kompleks perkantoran Bupati dan makin mendekati wilayah Kota Manado.
Sudah banyak warga mengeluh sesak napas dan jarak pandang malam menjadi lebih pendek.
Warga sekitar Gunung Klabat juga melakukan tindakan antisipasi karhutla. "Jangan sampai api masuk kampung, karena itu kami sudah bikin sekat api sendiri," ujar Hukum Tua Tatelu Rossi.
Tim gabungan BPBD, Manggala Agni, Damkar, TNI-Polri, Basarnas dan relawan kesulitan memadamkan api. Medan terjal Gunung Klabat (1.995 mdpl) tidak bisa dijangkau mobil. Petugas terpaksa pakai pola flying camp menginap di tengah hutan untuk padamkan api manual.
Pemkab juga mengimbau warga sekitar Klabat untuk menggunakan masker, kurangi aktivitas luar, dan jangan buka lahan dengan bakar.
Sementara itu akibat kekabaran hutan dan lahan di Gunung Klabat, menyebabkan langit seputar Minut dan pinggiran Manado berbatasan kabupaten itu mulai dipenuhi kabut tebal. Termasuk kawasan Bandara Samratulangi Manado. Yang notabene sebagian kawasan bandara masuk wilayah Minut.
Kebakaran yang juga turut menyumbang pengepulan asap hitam seputar Manado yakni di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumompo. Api tidak kelihatan melahap bagian atas lahan TPA. Tapi, asap tebal terus keluar dari kawasan itu. Dari bagian dalamnya. Warga Sumompo, Tuminting hingga Buha cukup terganggu dengan asap yang dihasilkan dari kebakaran bagian dalam TPA. Selain baunya menyengat hidung, asapnya juga perih jika mengenai mata.
Di sisi lain, kebakaran hebat juga melanda hutan Gunung Lokon di Kota Tomohon.
Hingga siang ini dilaporkan sudah lebih dari 100 Hektare hutan hangus terbakar.
Api mulai berkobar sejak Selasa (13/10) pagi.
"Luas kawasan cagar alam ini sekira 720 hektare, sementara areal yang terbakar sudah di atas 100 hektare lebih," kata personel Resort Cagar Alam Gunung Lokon, Hairil, di Manado, Selasa (13/10/2026).
Api meluncur ke arah utara sekitar lokasi Batu Licin dan kebakaran berpotensi meluas mengikuti arah angin.
"Kami masih menyelidiki, ada indikasi dibakar," ujarnya seperti dikutip dari Antara.
Saat ini, kata Hairil, sejumlah tim gabungan dari personel Polres Tomohon, TNI, pemerintah kota, kecamatan dan kelurahan serta unsur lainnya dan masyarakat masih terus berupaya memadamkan api.
"Kami masih memadamkan api agar tidak meluas dan menjangkau areal permukiman," dia menambahkan.
Dua unit mobil pemadam kebakaran disiagakan untuk mencegah kebakaran merambah areal permukiman yang berada di kawasan lereng.
Wali Kota Tomohon Caroll J.A. Senduk bersama Tim Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla), Kapolres serta unsur TNI turun langsung memantau kebakaran yang terjadi.
Kondisi geografis kawasan pegunungan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam upaya penanganan kebakaran. Karena itu, pemantauan situasi dan koordinasi petugas di lapangan menjadi bagian penting dalam menentukan langkah selanjutnya.
Masyarakat diimbau tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, khususnya di kawasan hutan dan lahan.
Dari Bolaang Mongondow Selatan dilaporkan, Bupati Iskandar Kamaru turun ke jalan membagikan masker di Alun-alun Molibagu, Kecamatan Bolaang Uki, Rabu (14/10/2026) pagi.
Pembagian masker ini sebagai bagian dari cara pemerintah mencegah warga dari paparan debu dan asap, akibat musim panas berkepanjangan yang membuat kualitas udara menurun. Dan juga mengantisipasi karhutlah melanda kawasan tersebut.
Bersama Asisten III Bolsel Wahyudin Kadullah, SIP, ME, Kadis Kesehatan Saipul Botutihe, SKM, Bupati menyapa warga, sekaligus mengingatkan pentingnya menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama ketika udara berdebu atau berasap. Imbauan tersebut disampaikan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi gangguan kesehatan, akibat polusi udara yang dapat dipicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bupati Iskandar meminta masyarakat tidak mengabaikan risiko paparan asap, terutama ketika kondisi udara mengalami penurunan kualitas. “Keselamatan dan kesehatan masyarakat harus menjadi perhatian bersama. Saya mengimbau warga agar menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, terutama jika kondisi udara berdebu atau berasap. Jangan menunggu sakit untuk mulai melindungi diri,” ujar Iskandar.
Selain mengingatkan pentingnya perlindungan diri, Bupati juga mengajak masyarakat berperan dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan. Warga diminta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, agar dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan dapat dicegah.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Bolsel Saipul Botutihe menjelaskan, penggunaan masker merupakan salah satu langkah sederhana, untuk membantu mengurangi paparan partikel pencemar di udara. Ia secara khusus mengingatkan kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan, agar lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk. Saipul juga mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan, apabila udara berasap. Warga yang mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, atau iritasi mata yang tidak biasa diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Perlindungan terhadap dampak polusi udara perlu dilakukan melalui langkah pencegahan, penggunaan masker saat diperlukan, serta keterlibatan masyarakat dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan.(dbs/dth/opr/dec)
Editor : Hairil Paputungan