Jagosatu.com - Proyeksi Stabil Ekonomi Indonesia: Pertumbuhan & Inflasi Diperkirakan Tetap Aman
Pemerintah dan ekonom memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh sekitar 5% di tahun 2025 sementara inflasi tetap berada di kisaran yang terkendali.
Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 4,7-5,5% untuk tahun 2025, berdasarkan laporan terbaru dari Tempo.
Mandiri Sekuritas memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional akan mencapai 5,1% di tahun 2025.
Sementara itu inflasi diperkirakan rata-rata sekitar 2,6% menurut Mandiri Sekuritas, sedikit naik dari tahun sebelumnya.
Menurut MenPAN, inflasi IHK Juni 2025 tercatat 1,87% yoy (year on year) yang menunjukkan daya beli masyarakat belum tertekan parah.
Inflasi inti juga menunjukkan tren menurun, menyusul terkendalinya harga-harga barang yang sering berubah (volatile food) dan harga yang diatur pemerintah (administered prices).
Inflasi volatile food diketahui rendah, sekitar 0,57% yoy, didukung pasokan pangan yang cukup.
Inflasi administered prices tercatat sekitar 1,34% yoy pada Juni 2025.
BI memperkirakan inflasi akan tetap dalam sasaran 2,5 ± 1 persen untuk 2025 dan 2026.
Nilai tukar rupiah juga diprediksi relatif stabil, sehingga tidak banyak memicu inflasi impor.
Posisi cadangan devisa Indonesia tetap tinggi, sekitar USD 152,6 miliar pada akhir Juni 2025, yang setara dengan pembiayaan impor sekitar 6,4 bulan
Realitas pertumbuhan kuartal I 2025 adalah 4,87%, menurut BPS, sedikit menurun dibandingkan periode sebelumnya.
Meski ada sedikit perlambatan awal, pemerintah optimis semester II akan lebih baik, menyusul stimulus dan pemulihan konsumsi rumah tangga.
Konsumsi rumah tangga menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi, terutama jika daya beli masyarakat tidak terlalu terganggu oleh inflasi.
Risiko yang tetap perlu diwaspadai antara lain kenaikan harga energi dan pangan global, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian ekonomi global.
Kebijakan fiskal dan moneter pemerintah & Bank Indonesia diharapkan terus bersinergi agar inflasi tak melewati batas atas sasaran.
Penurunan atau stabilnya suku bunga acuan akan membantu mendorong investasi dan konsumsi tanpa mengorbankan stabilitas harga.
Pemantauan ketat terhadap inflasi volatile food dan administered prices akan menjadi kunci agar harga pangan dan tarif regulasi tidak memicu lonjakan inflasi.
Bagian dari strategi adalah menjaga pasokan pangan dan memperbaiki rantai distribusi agar barang‐barang kebutuhan pokok tetap tersedia.
Peran sinergi antara Pemerintah Pusat dan Daerah dalam pengendalian harga juga sangat penting.
Jika semua berjalan sesuai rencana, pertumbuhan 4,7-5,5% dengan inflasi sekitar 2-3% bisa dicapai, dan masyarakat tidak merasakan lonjakan harga yang drastis.
(DB)
Editor : Toar Rotulung