Jagosatu.com - Asia kembali jadi sorotan dunia setelah berhasil menarik aliran modal hingga 100 miliar dolar Amerika dalam sembilan bulan terakhir.
Angka itu setara dengan lebih dari Rp1.600 triliun jika dihitung menggunakan kurs saat ini.
Menurut Reuters, dana besar ini masuk ke kawasan Asia di luar Tiongkok karena investor ingin mendiversifikasi portofolio mereka.
Diversifikasi artinya membagi investasi ke berbagai negara atau sektor agar tidak tergantung pada satu pasar saja.
Investor global melihat Asia sebagai kawasan dengan potensi pertumbuhan yang lebih stabil dibandingkan Amerika Serikat.
Goldman Sachs menyebut tren ini sebagai tanda bahwa Asia semakin dipercaya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Dilansir dari Reuters, sektor teknologi menjadi salah satu tujuan utama dari aliran modal tersebut.
Selain teknologi, sektor konsumer juga menarik perhatian karena pertumbuhan kelas menengah di Asia semakin pesat.
Sektor industri manufaktur dan kesehatan swasta ikut kebagian dana karena permintaan yang terus meningkat.
Baca Juga: Wall Street Tenang Meski Ada Ancaman Shutdown, Investor Malah Optimis
Masuknya modal dalam jumlah besar ini bisa membantu pembangunan infrastruktur dan lapangan kerja baru di kawasan Asia.
Investor juga melihat Asia memiliki peluang besar dalam ekonomi digital yang sedang berkembang.
Menurut Goldman, banyak perusahaan rintisan (startup) Asia kini mulai dilirik karena inovasi dan potensi ekspornya.
Meski demikian, Tiongkok justru tidak kebagian banyak investasi karena ketidakpastian ekonomi dalam negeri mereka.
Sebaliknya, negara seperti India, Indonesia, dan Vietnam justru dianggap sebagai pasar yang menjanjikan.
Banyak investor memilih Asia karena khawatir pasar Amerika akan melambat akibat kebijakan fiskal dan tarif baru.
Selain itu, bunga acuan tinggi di AS membuat investor mencari tempat yang lebih menguntungkan.
Asia dianggap lebih fleksibel dalam menyesuaikan kebijakan ekonomi untuk menjaga stabilitas.
Pengamat menilai tren ini akan berlanjut hingga tahun depan jika kondisi global masih penuh ketidakpastian.
Kehadiran dana asing ini juga bisa memperkuat nilai tukar mata uang lokal negara-negara Asia.
Namun, beberapa analis tetap mengingatkan bahwa risiko tetap ada jika geopolitik atau konflik dagang memanas.
(J)
Editor : ALengkong