Jagosatu.com - Harga minyak dunia melemah pada Kamis, 9 Oktober 2025, setelah kabar gencatan senjata antara Israel dan Hamas disepakati.
Kesepakatan ini membuat kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah mulai mereda.
Menurut laporan Reuters, harga minyak mentah Brent turun sebesar 1,3% menjadi USD 84,75 per barel pada sesi perdagangan pagi.
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 1,1% ke level USD 81,90 per barel.
Kedua harga tersebut sempat melonjak tajam pada awal pekan karena konflik di Gaza yang berpotensi mengancam pasokan minyak global.
Namun setelah muncul rencana gencatan senjata tahap pertama, pasar mulai menurunkan premi risiko geopolitik.
Istilah risk premium berarti tambahan harga yang dibayar investor karena adanya ancaman geopolitik yang bisa memengaruhi pasokan energi.
Dengan kata lain, semakin tinggi ketegangan politik di wilayah penghasil minyak, semakin mahal harga minyak dunia.
Menurut analis energi dari JP Morgan, kondisi pasar mulai menunjukkan sinyal stabilisasi setelah seminggu penuh gejolak harga.
Namun, mereka mengingatkan bahwa situasi bisa berubah sewaktu-waktu jika kesepakatan damai tidak berjalan mulus.
Selain faktor geopolitik, penurunan harga minyak juga dipengaruhi oleh laporan stok minyak AS yang naik lebih tinggi dari perkiraan.
Data dari U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan peningkatan cadangan minyak sebesar 3,2 juta barel dalam seminggu terakhir.
Kelebihan pasokan ini memperkuat pandangan bahwa pasar sedang kelebihan suplai sementara permintaan global melambat.
Pasar juga masih menunggu langkah lanjutan dari OPEC+ setelah keputusan kecil menaikkan produksi sebesar 137.000 barel per hari.
OPEC+ sebelumnya berupaya menyeimbangkan pasar agar harga tetap stabil di tengah permintaan yang belum pulih sepenuhnya.
Menurut pakar energi dari London School of Economics, faktor permintaan dari Tiongkok juga menjadi penentu penting bagi pergerakan harga minyak.
Permintaan bahan bakar dari negara tersebut belum kembali ke level sebelum pandemi karena konsumsi domestik masih lemah.
Meski demikian, para analis memperkirakan harga minyak akan tetap berada di kisaran USD 80–90 per barel hingga akhir 2025.
Dengan tensi geopolitik yang mulai mereda, pelaku pasar berharap volatilitas harga minyak dapat berkurang dalam waktu dekat.
(J)
Editor : ALengkong