Jagosatu.com - Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan optimismenya bahwa ekonomi nasional bisa tumbuh hingga 6 persen di akhir tahun 2025.
Optimisme ini muncul setelah pemerintah melakukan injeksi likuiditas sebesar Rp 200 triliun atau sekitar 12 miliar dolar AS ke sistem keuangan nasional.
Langkah tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan lima bank besar milik negara untuk memperkuat stabilitas keuangan dan mempercepat penyaluran kredit produktif.
Menurut laporan Reuters, kebijakan ini menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat serta memperkuat sektor riil.
Dana tersebut diarahkan ke sektor-sektor strategis seperti UMKM, infrastruktur, dan energi hijau.
Purbaya menjelaskan bahwa likuiditas ini diharapkan bisa mempercepat putaran uang dan memacu konsumsi domestik.
Kebijakan ini juga dinilai sebagai langkah antisipatif terhadap pelemahan global yang tengah melanda negara-negara maju.
Menurutnya, Indonesia masih memiliki ruang fiskal yang cukup kuat berkat pengelolaan utang yang relatif terkendali.
Baca Juga: Wall Street Rayakan “Bull Market” 3 Tahun, Apakah Euforia Ini Akan Berlanjut?
Data dari Kementerian Keuangan menunjukkan rasio utang terhadap PDB masih berada di bawah 40 persen, jauh di bawah ambang batas internasional 60 persen.
Purbaya juga menekankan bahwa kebijakan fiskal dan moneter akan terus dijaga selaras untuk mendukung stabilitas ekonomi.
Bank Indonesia sendiri telah menegaskan dukungannya dengan menahan suku bunga acuan di level 6,25 persen untuk menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil.
Analis dari Mandiri Sekuritas menilai bahwa langkah ini memberi sinyal kuat bagi investor asing untuk menambah investasi di Indonesia.
Sektor perbankan menjadi salah satu penerima dampak positif karena peningkatan likuiditas mendorong kemampuan kredit.
Sementara itu, pelaku usaha menyambut baik langkah pemerintah yang dianggap konkret dan terarah untuk memperkuat ekonomi domestik.
Menurut Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), injeksi dana tersebut dapat menciptakan efek berganda terhadap lapangan kerja dan produksi nasional.
Namun, beberapa ekonom juga mengingatkan pentingnya menjaga agar likuiditas ini tidak justru memicu inflasi tinggi.
Inflasi Indonesia per September 2025 tercatat di angka 2,7 persen, masih dalam target Bank Indonesia di kisaran 2–4 persen.
Dengan kondisi global yang tidak pasti, kebijakan ekspansi fiskal seperti ini diharapkan bisa menjaga momentum pertumbuhan di tengah tekanan eksternal.
Pemerintah menargetkan agar efek injeksi likuiditas ini mulai terasa signifikan di kuartal IV 2025.
(J)
Editor : ALengkong