Jagosatu.com - Pemerintah Indonesia mengungkapkan rasa optimisme tinggi terhadap kondisi ekonomi nasional yang dinilai semakin membaik menjelang akhir tahun 2025.
Menurut Reuters, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap berada di kisaran 5 persen sepanjang 2025 dengan potensi naik ke 5,6 persen pada kuartal keempat.
Kementerian Keuangan menjelaskan bahwa sektor investasi, konsumsi rumah tangga, dan ekspor masih menjadi penopang utama ekonomi nasional.
Dilansir dari Business Indonesia, realisasi investasi hingga akhir September 2025 telah mencapai sekitar Rp1.434 triliun atau sekitar 75 persen dari target tahunan pemerintah.
Angka tersebut menunjukkan bahwa minat investor, baik dalam negeri maupun asing, terhadap pasar Indonesia masih cukup tinggi.
Pemerintah juga menilai situasi ekonomi global yang penuh tantangan justru menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan ekonominya.
Menteri Keuangan menegaskan, langkah-langkah strategis seperti efisiensi fiskal dan digitalisasi pajak telah membantu menjaga stabilitas keuangan negara.
Selain itu, pemerintah fokus pada peningkatan infrastruktur, terutama yang menunjang industri dan konektivitas antarwilayah.
Program pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) juga disebut menjadi salah satu motor penggerak investasi jangka panjang.
Menurut Antara News, ekonomi kreatif Indonesia turut mencatatkan pertumbuhan signifikan dengan nilai ekspor mencapai US$12,89 miliar sepanjang 2025.
Sektor ekonomi kreatif kini menyumbang sekitar 5,69 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Pemerintah berharap angka ini bisa terus naik seiring dukungan regulasi dan peningkatan akses pembiayaan bagi pelaku usaha muda.
Selain ekonomi kreatif, sektor pertanian dan manufaktur juga menunjukkan pemulihan kuat pascapandemi dan kenaikan harga komoditas.
Baca Juga: Wayne Rooney Ledek Isak: Lebih Baik Duduk di Bangku Cadangan daripada Main Jelek!
Bank Indonesia memperkirakan inflasi akan tetap terkendali di kisaran 2,8 persen hingga akhir tahun berkat kebijakan moneter yang hati-hati.
Rupiah pun sempat menguat terhadap dolar Amerika Serikat berkat aliran investasi yang mulai kembali ke pasar obligasi domestik.
Namun, pemerintah tetap mewaspadai risiko global seperti perlambatan ekonomi Tiongkok dan ketidakpastian geopolitik yang dapat memengaruhi ekspor.
Untuk menjaga stabilitas, pemerintah akan terus memperkuat cadangan devisa dan mendorong hilirisasi industri dalam negeri.
Langkah-langkah tersebut diyakini dapat menciptakan ekonomi yang lebih tangguh, mandiri, dan berdaya saing tinggi.
Dengan berbagai upaya itu, pemerintah optimistis Indonesia bisa menjaga pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata negara lain di kawasan Asia Tenggara.
Masyarakat diharapkan ikut mendukung program pemerintah agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan hingga ke lapisan terbawah.
(DB)
Editor : Toar Rotulung