Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Deflasi Komoditas Pangan Tahan Laju Inflasi April 2026 di Angka 0,13 Persen

ALengkong • Selasa, 5 Mei 2026 | 15:29 WIB
Pasokan komoditas pangan seperti daging ayam, telur, dan cabai yang melimpah di pasar tradisional membantu menahan laju inflasi.
Pasokan komoditas pangan seperti daging ayam, telur, dan cabai yang melimpah di pasar tradisional membantu menahan laju inflasi.

Jagosatu.com - Laju inflasi Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar 0,13 persen secara bulanan, sebuah angka yang relatif terkendali berkat penurunan harga sejumlah komoditas pangan utama.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil deflasi signifikan sebesar 0,06 persen, menjadi penahan utama kenaikan harga secara keseluruhan pada periode tersebut.

Penurunan harga ini terutama didorong oleh komoditas strategis seperti daging ayam ras, telur ayam ras, dan berbagai jenis cabai, sebagaimana dijelaskan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa normalisasi permintaan pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) menjadi faktor utama penurunan harga komoditas pangan.

Selain itu, harga cabai juga mengalami penurunan signifikan akibat meningkatnya pasokan dari sejumlah daerah sentra produksi yang memasuki masa panen, kata Ateng dalam Rilis Berita Resmi Statistik, Senin (4/5/2026).

BPS merinci, daging ayam ras memberikan andil deflasi bulanan terbesar, mencapai 0,11 persen, diikuti oleh cabai rawit dengan 0,06 persen.

Telur ayam ras turut menyumbang deflasi sebesar 0,04 persen, sementara cabai merah memberikan andil 0,02 persen terhadap laju deflasi bulanan.

Beberapa komoditas lain seperti ikan segar, kacang panjang, kangkung, dan bayam juga masing-masing menyumbang deflasi sebesar 0,01 persen, menunjukkan tren penurunan harga yang meluas.

Kondisi harga pangan yang stabil atau cenderung menurun ini sejalan dengan pentingnya sektor pertanian dalam menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, terutama di daerah miskin.

Menurut laporan Bank Dunia yang mengutip data BPS, distribusi pengeluaran di semua provinsi di Pulau Sulawesi menunjukkan perbaikan, berbeda dengan Jakarta yang relatif mengalami peningkatan kesenjangan.

Laporan tersebut juga menyoroti kinerja pasar tenaga kerja yang baik, di mana perluasan basis pertumbuhan ekonomi telah mendorong perpindahan pekerja dari sektor pertanian ke sektor dengan produktivitas dan upah lebih tinggi.

Dengan demikian, penurunan harga komoditas pangan pada April 2026 tidak hanya menahan laju inflasi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional secara keseluruhan.
Sumber: Kementerian Pertanian, BPS, Bank Dunia

Editor : ALengkong
#kementerian pertanian #Deflasi #bps #harga pangan #Inflasi