Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

BI Tahan Suku Bunga di 4,75%, Ekonom Bilang Ini Sinyal Hati-Hati — Apa Artinya Buat Kamu?

ALengkong • 2025-10-23 06:45:31

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Rabu (29/4/2020). Dok. Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Rabu (29/4/2020). Dok. Bank Indonesia

Jagosatu.com - Bank Indonesia (BI) resmi memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di level 4,75 persen setelah rapat dewan gubernur yang berlangsung pada 21–22 Oktober 2025.

Keputusan ini menunjukkan bahwa BI masih melihat kondisi ekonomi nasional cukup stabil meski tekanan global masih tinggi.

Menurut Tempo.co, Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut keputusan ini bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Suku bunga acuan adalah tingkat bunga yang menjadi dasar bagi bank-bank menentukan bunga pinjaman dan tabungan bagi nasabah.

Dengan menahan suku bunga, BI ingin memastikan agar masyarakat dan pelaku usaha tetap mudah mendapatkan akses kredit.

Namun, langkah ini juga menunjukkan bahwa BI berhati-hati menghadapi ancaman inflasi dan ketidakpastian global.

Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa yang terus-menerus, dan jika tidak dikendalikan, bisa menurunkan daya beli masyarakat.

Menurut Tempo.co, inflasi Indonesia masih dalam batas aman, tapi tekanan harga pangan dan energi masih menjadi perhatian utama.

Baca Juga: Bank of England Panik? “Gema Krisis 2008” Mulai Terdengar Lagi di Pasar Keuangan Dunia!

Kebijakan BI juga mempertimbangkan pergerakan nilai tukar rupiah yang sempat melemah terhadap dolar Amerika Serikat.

Pelemahan rupiah dapat meningkatkan harga barang impor dan menekan sektor industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri.

Dengan suku bunga yang tetap, diharapkan arus modal asing tetap stabil dan tidak keluar dari pasar keuangan Indonesia.

Namun, beberapa analis pasar menilai kebijakan ini bisa menjadi pedang bermata dua bagi perekonomian.

Jika BI terlalu lama menahan suku bunga, risiko inflasi bisa meningkat dan menekan daya beli masyarakat.

Sebaliknya, jika suku bunga dinaikkan terlalu cepat, pertumbuhan ekonomi bisa melambat karena kredit menjadi mahal.

Kondisi ini membuat BI harus menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan kestabilan harga secara hati-hati.

Selain itu, faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga Amerika Serikat oleh The Fed juga sangat mempengaruhi keputusan BI.

Ketika The Fed menaikkan suku bunga, dana asing cenderung keluar dari negara berkembang seperti Indonesia untuk mencari imbal hasil lebih tinggi.

Karena itu, BI memilih langkah aman dengan menahan suku bunga agar tidak menambah tekanan pada rupiah dan pasar keuangan.

Keputusan ini juga memberi sinyal kepada pelaku pasar bahwa BI fokus menjaga stabilitas lebih dulu daripada mengejar pertumbuhan cepat.

Bagi masyarakat, keputusan ini berarti bunga kredit rumah, kendaraan, dan usaha kecil kemungkinan besar masih akan tetap sama dalam waktu dekat.

(J)

Editor : ALengkong
#BankIndonesia #Investasi #Inflasi #SukuBunga #EkonomiNasional