Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Krisis Pabrik China Kian Parah, Produksi Turun 7 Bulan Berturut-turut — Ekonomi Dunia Mulai Waspada

ALengkong • 2025-10-30 06:30:00

Ilustrasi Kawasan Industrial
Ilustrasi Kawasan Industrial

Jagosatu.com – China kembali menghadapi penurunan di sektor pabriknya pada Oktober 2025.

Menurut survei Reuters, indeks PMI (Purchasing Managers’ Index) resmi diperkirakan berada di angka 49,6.

Angka itu berada di bawah 50, yang berarti sektor manufaktur masih dalam fase kontraksi.

Kontraksi adalah kondisi ketika aktivitas ekonomi mengalami penyusutan dalam waktu tertentu.

Penurunan ini menjadi yang ketujuh secara berturut-turut sejak awal tahun 2025.

Analis mengatakan penurunan permintaan dalam negeri menjadi faktor utama lemahnya produksi pabrik.

Baca Juga: Indonesia Izinkan Amman Mineral Ekspor Tembaga Lagi! Larangan Dicabut, Ekonomi Tambang Bergairah

Ekonomi China memang tengah berjuang keluar dari tekanan yang disebabkan oleh turunnya permintaan global dan krisis properti.

Pemerintah Beijing sebelumnya telah memberikan berbagai stimulus untuk menggerakkan perekonomian.

Namun, kebijakan itu tampaknya belum cukup untuk membangkitkan kembali sektor industri.

Menurut laporan Reuters, ekspor juga menurun karena lemahnya permintaan dari Amerika Serikat dan Eropa.

Sektor manufaktur China sangat bergantung pada ekspor untuk menjaga pertumbuhan ekonominya.

Selain itu, banyak perusahaan masih menahan ekspansi karena biaya bahan baku yang tinggi.

Kondisi ini membuat banyak pabrik beroperasi di bawah kapasitas normal.

Bahkan, beberapa perusahaan kecil terpaksa menutup sementara operasi mereka.

Sementara itu, tingkat pengangguran di daerah industri mulai meningkat.

Ekonom memperingatkan bahwa jika tren ini berlanjut, pertumbuhan ekonomi China bisa melambat hingga 4% pada akhir tahun.

Perlambatan di China bisa berdampak besar terhadap rantai pasok dunia, termasuk Indonesia.

Harga bahan baku industri elektronik dan otomotif diprediksi ikut naik.

Beberapa investor global mulai memindahkan pabrik ke negara Asia Tenggara seperti Vietnam dan Indonesia.

Meski begitu, pemerintah China tetap optimistis bahwa reformasi fiskal yang sedang dijalankan bisa membalikkan tren ini di 2026.

(J)

Editor : ALengkong
#BisnisInternasional #Ekspor #China #EkonomiGlobal #manufaktur