Jagosatu.com - Turnamen Mid-Season Invitational (MSI) 2025 kembali menyuguhkan duel panas antara tim Eropa dan Asia dalam babak playoff yang ditunggu-tunggu.
Pertandingan antara Movistar KOI (Eropa) melawan Bilibili Gaming (China) menjadi sorotan karena membawa misi besar: mematahkan dominasi tim Asia.
Banyak penggemar Eropa berharap KOI bisa memutus “kutukan 3-1” yang selama ini menghantui tim-tim Barat di MSI.
Sayangnya, harapan itu kembali pupus setelah Bilibili Gaming (BLG) menumbangkan KOI dengan skor 3-1 dalam format Best of 5.
Pertandingan berlangsung pada 3 Juli 2025 waktu setempat dan menjadi salah satu laga paling ditonton di babak Upper Bracket.
Di Game Pertama, BLG langsung menguasai permainan sejak menit awal dan mengakhiri game dengan skor kill 23-10, menurut Yardbarker - (hasil pertandingan).
KOI sempat mengejutkan di Game Kedua, di mana mereka tampil agresif dan berhasil menekan BLG hingga menang dengan skor kill 22-10.
Namun, seperti yang terjadi di pertandingan-pertandingan sebelumnya, KOI tidak mampu mempertahankan konsistensi.
Baca Juga: Nerf, Buff, dan Sleeper Picks: Patch 25.13 League of Legends Siap Ubah Peta MSI
Di Game Ketiga dan Keempat, BLG kembali mengambil kendali penuh atas permainan dan KOI tampak kewalahan menghadapi rotasi cepat dari tim China.
Game keempat berlangsung cukup sengit dengan total kill 27-23, tapi BLG tetap berhasil mengunci kemenangan dan mengamankan tiket ke babak berikutnya.
Menurut Movistar eSports - (laporan pertandingan), ini adalah kali ketiga tim Eropa kalah 3-1 di MSI 2025, memperkuat istilah “kutukan 3-1”.
Pemain midlane KOI, Jojopyun, sebelumnya mengatakan bahwa tim-tim Barat sering kali terlalu puas setelah memenangkan satu game.
Pernyataan itu jadi kenyataan karena setelah menang di game kedua, KOI justru terlihat menurun di game berikutnya, menurut bo3.gg - (hasil wawancara).
Fans dari Eropa banyak yang kecewa, tapi mereka mengakui bahwa BLG bermain lebih disiplin dan efisien di hampir semua game.
Bilibili Gaming juga dikenal dengan gaya main LPL-style, yaitu permainan cepat, penuh tekanan, dan rotasi tajam dari lane ke lane.
Gaya ini jelas membuat tim-tim Eropa kesulitan beradaptasi, terutama karena perbedaan ritme permainan antara liga Asia dan Barat.
Strafe.com mencatat 81% pendukung global menjagokan BLG sebelum pertandingan dimulai, menunjukkan BLG memang lebih diunggulkan dari awal.
Meski begitu, KOI tetap memberikan perlawanan terbaik dan setidaknya mampu mengambil satu game dari lawan yang jauh lebih favorit.
Dengan kemenangan ini, BLG melaju ke semifinal upper bracket, sementara KOI harus turun ke lower bracket dan bertarung untuk bertahan di turnamen.
Kekalahan KOI menambah panjang daftar tim Barat yang gagal menaklukkan dominasi Asia di ajang MSI selama beberapa tahun terakhir.
Kini, banyak yang bertanya-tanya: apakah MSI tahun ini akan kembali dimenangkan oleh tim Asia seperti Gen.G atau BLG?
Satu hal yang pasti, Eropa harus memperbaiki banyak hal jika ingin kembali bersaing di panggung internasional seperti MSI atau Worlds.
Dengan tren seperti ini, istilah “Kutukan 3-1” tampaknya akan terus melekat di tim-tim Barat, setidaknya sampai ada yang bisa membuktikan sebaliknya. (KT)