Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Game Lokal Masih Kalah Pamor? Ini Alasan Kenapa Kita Lebih Pilih Game Asing!

ALengkong • 2025-07-16 20:41:31

Wardeka, game lokal asli Sulawesi Utara memiliki 6 karakter yang bisa dimainkan. (Foto: Instagram/wardeka.id)
Wardeka, game lokal asli Sulawesi Utara memiliki 6 karakter yang bisa dimainkan. (Foto: Instagram/wardeka.id)

Jagosatu.com - Banyak orang Indonesia suka main game, dari anak-anak sampai orang dewasa.

Game mobile seperti Mobile Legends, PUBG Mobile, dan Free Fire jadi pilihan utama karena mudah dimainkan dan punya komunitas besar.

Tapi di balik popularitas game asing itu, game buatan anak bangsa seperti Wardeka masih belum bisa menyaingi pamornya.

Wardeka adalah game third-person shooter lokal yang menampilkan nuansa futuristik dan elemen budaya Indonesia dalam desain map dan karakternya.

Meskipun punya konsep yang kuat, Wardeka dan game lokal lainnya masih berjuang untuk mendapat tempat di hati gamer tanah air.

Salah satu masalah utama adalah minimnya pendanaan, yang membuat banyak developer kesulitan mengembangkan game secara maksimal.

Dilansir dari DetikINET, banyak pengembang game lokal terpaksa berhenti di tengah jalan karena kekurangan dana, baik untuk pengembangan maupun promosi.

Selain soal dana, pangsa pasar game lokal juga sangat kecil, hanya sekitar 2,5 persen dari total pasar game nasional.

Menurut data dari Warta Ekonomi, dari Rp 30 triliun nilai pasar game Indonesia, hanya 2,5% yang dinikmati oleh developer dalam negeri.

Masalah lain adalah jumlah tenaga kerja profesional di industri game Indonesia masih sangat terbatas.

Baca Juga: Wardeka: Game Battle Royale Lokal yang Siap Saingi PUBG dan Free Fire

Wakil Ketua Asosiasi Game Indonesia menyebut Indonesia butuh 3.000 SDM per tahun untuk memenuhi kebutuhan industri ini.

Minimnya SDM membuat banyak studio kecil kesulitan membangun tim yang solid dan kompetitif seperti studio luar negeri.

Game lokal juga kalah dalam hal akses distribusi dan dukungan platform besar, seperti iOS, Steam, atau konsol game.

Banyak game lokal hanya bisa diakses lewat Android, itu pun sering tanpa dukungan penuh dari promosi atau kurasi toko aplikasi.

Selain faktor teknis, ada juga tantangan budaya konsumsi, di mana gamer lokal sendiri masih meremehkan game buatan Indonesia.

Banyak gamer Indonesia menganggap game lokal kurang seru, grafiknya jelek, atau gameplay-nya membosankan.

Padahal, seperti Wardeka, beberapa game lokal sudah punya desain yang baik dan fitur kompetitif seperti deathmatch, battleground, dan team mode.

Wardeka bahkan sudah tampil di turnamen resmi seperti Warbiasa League, yang didukung langsung oleh pemerintah daerah.

Sayangnya, game seperti ini masih kalah gaungnya dibanding event besar Mobile Legends atau Free Fire yang disponsori besar-besaran.

Kalau ingin industri game Indonesia tumbuh, perlu perubahan dari dua sisi: developer dan konsumen.

Developer perlu berani berinovasi dan menjaga kualitas, sementara konsumen harus mulai memberi ruang dan mencoba karya lokal.

Kalau terus-terusan hanya dukung game asing, kapan game Indonesia bisa jadi raja di rumah sendiri? (KT)

Editor : ALengkong
#DukungGameLokal #IndustriGameIndonesia #EsportsLokal #wardeka #GameLokal #MobileGaming