Jagosatu.com - Dulu banyak anak Indonesia main Mario di konsol Nintendo saat kecil, dan sekarang bayangkan mereka bikin game keren sendiri dengan cita rasa lokal.
Wardeka adalah game third-person shooter buatan anak-anak Manado yang menggabungkan gameplay cepat dengan budaya Indonesia Timur seperti motif tenun dan arsitektur tradisional.
Game ini berlatar dunia futuristik bernama Edonisia dengan dua faksi, Vanguard dan Maverick, serta senjata keren seperti “Parakang Blade” yang tetap menampilkan identitas lokal.
Wardeka sudah tampil di berbagai event esports, termasuk Xpresi Party 2025 dan menjadi cabang lomba pelajar di Sulawesi Utara, bikin game lokal makin diakui.
Pemerintah Sulawesi Utara dukung penuh lewat Warbiasa League dan Dinas Pariwisata agar kreator lokal makin berkembang.
Grafis Wardeka diapresiasi sebagai “mirip game kelas dunia”, padahal dijalankan di Android kelas menengah berkat optimasi apik.
Wardeka punya peta tematik yang unik seperti “Tanah Hangus” penuh ornamen adat dan nuansa pasca-konflik, bikin suasana jadi beda.
Jumlah gamer di Indonesia mencapai 174,1 juta pada 2022 dan nilai pasar game nasional tembus USD 1,1 miliar pada 2023.
Pemerintah pusat keluarkan Perpres No. 19/2024 pada 12 Februari 2024 untuk percepat industri game lewat riset, pembiayaan, dan perlindungan kekayaan intelektual.
Kemenparekraf dan Kominfo bersinergi dorong ekosistem game lewat event seperti IGDX dan dukungan lintas sektor agar developer lokal makin berkembang.
Baca Juga: Wardeka: Game Lokal Rasa Global yang Siap Menggebrak Dunia Battle Royale
Kemenparekraf juga mencatat pasar game Indonesia tumbuh jadi USD 2 miliar dengan 148 juta gamer aktif, menjadikan Indonesia terbesar di ASEAN dan ke-15 dunia.
Indonesia sekarang juga fokus kolaborasi lintas industri, termasuk dengan pengembang global seperti Riot Games, agar IP lokal seperti Wardeka bisa bersaing global.
Desainer Wardeka menyelipkan budaya Nusantara seperti nama karakter Randu dan Lauri serta peta dengan rumah panggung dan pohon sagu.
Wardeka versi Android ringan dijalankan di OS Android 7 ke atas dengan ukuran file sekitar 435–545 MB sehingga bisa dimainkan di HP kelas menengah.
Mode permainan PvP 5v5 dan leaderboard nasional serta badge Bela Negara bikin gameplay seru dan penuh strategi serta nilai patriotik.
Namun komunitas di luar Sulawesi Utara masih belum besar dan dukungan platform seperti iOS juga perlu ditambah.
Wardeka menunjukkan bahwa developer lokal bisa mandiri dan tetap berkarya, meski kehilangan partner besar seperti Majamojo.
Dengan dukungan pemerintah, optimasi teknologi, dan semangat lokal, game seperti Wardeka jadi bukti bahwa anak-anak Indonesia bisa bikin game keren sendiri.
Kalau dulu bangga main Mario dan Sonic, sekarang kita bisa bangga punya IP asli seperti Wardeka yang bisa dibanggakan anak bangsa. (KT)
Editor : ALengkong