Jagosatu.com – Pasar game di Asia Tenggara sedang berkembang sangat pesat, dan ini jadi peluang emas bagi banyak developer game lokal.
Dilansir dari Zeevium, pada kuartal pertama 2025 tercatat ada 1,93 miliar install game mobile di kawasan ini.
Nilai pasar tersebut hampir mencapai 14,8 miliar dolar AS, dan sekitar 75% berasal dari mobile gaming.
Mobile gaming jadi dominasi karena akses smartphone semakin mudah dan koneksi internet yang makin luas.
Indonesia jadi pasar game terbesar di Asia Tenggara, dengan nilai mencapai 2 miliar dolar AS menurut Antara.
Masih dari Antara, jumlah pengguna aktif game di Indonesia mencapai 148 juta orang pada 2025.
Pemerintah Indonesia bahkan merilis Perpres No. 19/2024 untuk mendukung pengembangan industri game nasional.
Perpres ini mengatur dukungan berupa pendidikan, pendanaan, insentif pajak, dan perlindungan hak cipta.
Developer lokal seperti pembuat game Wardeka bisa memanfaatkan kebijakan ini untuk memperluas pasarnya.
Baca Juga: Wardeka, Game yang Bikin Pemain Lupa Waktu karena Keseruannya
Meski begitu, pasar Asia Tenggara punya tantangan besar berupa fragmentasi budaya dan bahasa.
Dilansir dari Digital Trans Asia, tiap negara punya selera, regulasi, dan bahasa yang berbeda-beda.
Hal ini membuat developer harus melakukan lokalisasi game agar sesuai dengan pasar tujuan.
Lokalisasi artinya mengubah bahasa, konten, dan elemen budaya dalam game supaya cocok untuk audiens tertentu.
Wardeka, meski berfokus pada nuansa lokal, tetap perlu penyesuaian jika ingin menembus pasar lintas negara.
Contoh sukses cultural IP bisa dilihat dari game Upin & Ipin Universe asal Malaysia.
Game tersebut berhasil mengangkat cerita kampung Melayu ke platform global meski mendapat ulasan campuran.
Keberhasilan game berbasis budaya sangat bergantung pada kualitas cerita dan eksekusi teknis.
Selain itu, model bisnis seperti free-to-play dan microtransaction masih jadi pilihan utama monetisasi.
Namun, tantangan seperti pembajakan dan persaingan dari game luar negeri tetap menjadi hambatan.
Dengan strategi tepat, developer lokal punya peluang besar bersaing di panggung Asia Tenggara. (KT)
Editor : ALengkong