JAGOSATU.COM - Dalam beberapa waktu terakhir, kasus perselingkuhan kembali menjadi sorotan masyarakat dan menghangat di berbagai media sosial.
Salah satunya adalah isu tudingan penyanyi Melly Goeslaw yang dikabarkan telah selingkuh 15 tahun silam.
Prof. Dr. Sutinah, seorang dosen sosiologi keluarga di Universitas Airlangga, memberikan pandangannya mengenai makna perselingkuhan.
Baginya, perselingkuhan melibatkan kegiatan emosional dan seksual yang melibatkan individu berpasangan dengan melanggar komitmen, menciptakan ketidakjujuran, dan menyimpang dari norma-norma yang berlaku.
Faktor-faktor pendorong perselingkuhan, menurut Prof. Tina, dapat berasal dari faktor internal dan eksternal.
Faktor internal melibatkan dorongan psikis dan biologis dari diri pelaku, sementara faktor eksternal melibatkan pengaruh lingkungan atau keadaan sosial.
Prof. Tina menyebutkan lima faktor pendorong selingkuh secara umum:
1. Kebutuhan seks
Perilaku manusia yang mendorong dirinya berselingkuh, dengan alasan hanya ingin merasakan variasi seksual dan romantisme yang berbeda dengan pasangannya.
“Meskipun seks bukan faktor utama, tetapi alasan itu kerap terjadi. Mereka (Red: pelaku selingkuh) berdalih karena kurangnya kepuasan gairah seks dari pasangan,” ujar guru besar fakultas ilmu sosial politik Unair itu.
2. Tidak mendapat well-treat
Menurutnya, selingkuh juga tidak melulu soal seksual, tetapi juga emosional.
Sosiolog ini menduga barangkali pelaku tidak mendapat kedekatan emosional dengan pasangan.
“Pelaku menganggap ada satu kesempatan dan selingkuhannya juga menganggapnya sebagai peluang.
Hubungan yang tidak wajar-pun dapat berlangsung,” ujar Prof Tina.
Ia menambahkan rasa-rasanya kurang jika satu hari tidak bertemu dengan pasangan selingkuhannya.
Pasalnya, secara sosiologis, manusia tetap membutuhkan interaksi sosial.
Walaupun dapat menggunakan perantara teknologi. Namun, interaksi sosial secara langsung tanpa sekat dan jarak menjadi suatu kebutuhan.
Sebab lebih meningkatkan kehangatan dan pemahaman terhadap lawan bicara.
3. Coba-Coba
Di samping itu, ‘faktor coba-coba’ selingkuh di lingkungan pertemanan terkadang menjadi sebuah perlombaan.
Hal itu kerap menciptakan strata kelas sosial dengan predikat ‘berani selingkuh’.
Artinya semakin berani dan rajin selingkuh, maka pelaku selingkuh itu lebih diterima di lingkungan kelompok pertemanan tersebut.
“Pengasosiasian kelompok suami-suami takut istri, membuat calon pelaku terdorong mencoba selingkuh untuk menghapus label takut istri tadi,” imbuhnya.
4. LDR
Dosen sosiologi ini juga mengungkap Long Distance Relationship (LDR) ataupun Long Distance Marriage (LDM) mengharuskan pasangan berjauhan secara jarak.
“Pada pasangan suami istri memiliki kebutuhan biologis yang harus terpenuhi.
Ketika sedang ingin mempergauli tetapi terhalang jarak. Pelaku memilih alternatif dengan melakukannya bersama orang lain,” ujar Prof. Tina.
Ia menegaskan, bahwa tidak semua pasangan LDM melakukan selingkuh.
Hal tersebut hanya berlaku bagi orang-orang yang tidak memiliki sekat iman dan sulit mengendalikan hawa nafsu.
5. Latar Belakang Menikah
Selanjutnya Prof Tina juga menjelaskan bagi sebagian pasangan yang melewati tahap perjodohan.
Dengan kondisi kurangnya masa penyesuaian sebelum pernikahan.
Dari kurangnya masa pengenalan tersebut, satu sama lain menjadi kurang sreg.
“Lebih jauh lagi, perjodohan yang berkaitan dengan faktor sosial ekonomi, itu juga berpotensi timbulnya perselingkuhan.
Terlebih jika urusan masa lalunya belum selesai,” terang Prof Tina.
Belum lagi, lanjutnya, pelaku selingkuh tidak hanya lelaki saja, melainkan perempuan pun juga demikian.
Lantaran pemicu faktor sosial lainnya masih banyak.
Dengan demikian, dosen sosiolog UNAIR ini membagikan salah satu langkah preventif dalam perselingkuhan yakni dengan komunikasi yang efektif. (jpg)
Editor : Tina Mamangkey