Arkeologi Bali Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Jawa Kalimantan Kesehatan Lifestyle & Hiburan Maluku Nasional Nusa Tenggara Timur Olahraga Papua Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Tujuh Kebiasaan Penguras Energi yang Perlu Dilepaskan Jelang Pertengahan Tahun Menurut Psikologi

ALengkong • Minggu, 7 Juni 2026 | 11:00 WIB
Jika Anda Ingin Pertengahan Tahun Terasa Lebih Mudah, Lepaskan 7 Kebiasaan yang Menguras Energi Ini Menurut Psikologi
Jika Anda Ingin Pertengahan Tahun Terasa Lebih Mudah, Lepaskan 7 Kebiasaan yang Menguras Energi Ini Menurut Psikologi

Memasuki pertengahan tahun, banyak orang mulai merasakan semangat awal Januari yang memudar, target yang terasa lebih berat, dan rutinitas yang kembali mendominasi.

Kelelahan yang dirasakan seringkali disalahartikan sebagai akibat dari beban kerja yang berlebihan, padahal menurut psikologi, sumber kelelahan terbesar justru berasal dari kebiasaan mental yang tanpa sadar dipelihara setiap hari.

Kebiasaan-kebiasaan ini, meskipun seringkali tampak normal dan umum, secara jangka panjang dapat menguras energi emosional, menghabiskan kapasitas mental, dan membuat hidup terasa jauh lebih berat.

Untuk memasuki paruh kedua tahun ini dengan lebih ringan, fokus, dan tenang, penting untuk mengidentifikasi dan melepaskan beberapa kebiasaan tersebut.

Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (5/6), terdapat tujuh kebiasaan yang menurut psikologi sering menjadi pencuri energi terbesar dalam kehidupan sehari-hari.

Pemahaman terhadap kebiasaan ini dapat membantu individu mengelola energi mental mereka dengan lebih efektif.

Salah satu kebiasaan yang paling menguras energi adalah terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

Media sosial telah menjadikan perbandingan sebagai aktivitas otomatis, di mana seseorang dapat dengan mudah melihat pencapaian orang lain yang tampak sempurna.

Psikolog menyebut fenomena ini sebagai social comparison, sebuah teori yang dikembangkan oleh Leon Festinger.

Meskipun sesekali dapat memotivasi, perbandingan yang terus-menerus justru membuat individu merasa tertinggal, meremehkan pencapaian diri sendiri, dan kehilangan kemampuan menikmati perjalanan pribadi.

Energi mental yang seharusnya digunakan untuk berkembang akhirnya habis untuk mengukur diri terhadap standar yang mungkin tidak realistis.

Melepaskan kebiasaan ini berarti menyadari bahwa perbandingan seringkali terjadi antara kehidupan di balik layar seseorang dengan sorotan terbaik milik orang lain.

Kebiasaan kedua adalah mengatakan "ya" untuk hal yang sebenarnya ingin ditolak.

Banyak orang merasa kelelahan bukan karena terlalu sibuk, melainkan karena terlalu sering menyenangkan orang lain, menerima pekerjaan tambahan, atau menghadiri acara yang tidak diinginkan.

Secara psikologis, perilaku ini sering terkait dengan kebutuhan akan penerimaan sosial, ketakutan dianggap egois, atau takut mengecewakan.

Padahal, setiap kali seseorang mengatakan "ya" pada sesuatu yang tidak penting, ia sedang mengatakan "tidak" pada waktu, energi, dan perhatian yang bisa digunakan untuk hal yang benar-benar berarti.

Menetapkan batasan yang sehat bukanlah bentuk ketidakpedulian, melainkan cara untuk melindungi kesehatan mental dan emosional.

Ini adalah langkah krusial untuk memastikan energi tidak terkuras habis oleh komitmen yang tidak selaras dengan prioritas pribadi.

Kebiasaan ketiga yang menguras energi adalah memikirkan kesalahan lama berulang-ulang, atau yang dikenal sebagai rumination.

Mengulang kesalahan masa lalu tanpa tujuan untuk belajar hanya membuat otak terjebak dalam lingkaran stres yang tidak produktif.

Ironisnya, sebagian besar orang yang mengingat kesalahan tersebut mungkin sudah lama melupakannya, namun pikiran terus memutarnya seperti film yang diputar berulang.

Setiap kali ini terjadi, energi emosional terkuras, fokus terhadap masa kini berkurang, dan kemampuan mengambil tindakan menjadi lebih lemah.

Belajar dari masa lalu adalah hal yang bijak, namun tinggal di masa lalu adalah beban yang tidak perlu dibawa terus-menerus.

Penting untuk membedakan antara refleksi konstruktif dan perenungan yang merusak.

Kebiasaan keempat adalah menganggap istirahat sebagai kemalasan.

Banyak budaya modern mengagungkan kesibukan, sehingga banyak orang merasa bersalah ketika beristirahat.

Mereka cenderung menonton film sambil memikirkan pekerjaan atau berlibur namun terus memeriksa email.

Psikologi menunjukkan bahwa pemulihan mental sama pentingnya dengan produktivitas.

Otak membutuhkan jeda untuk mengolah informasi, memperkuat memori, meningkatkan kreativitas, dan memulihkan fokus.

Tanpa istirahat yang cukup, produktivitas justru menurun.

Bekerja tanpa henti bukanlah tanda kekuatan, melainkan seringkali hanya tanda bahwa seseorang lupa bagaimana cara memulihkan dirinya sendiri.

Istirahat yang berkualitas adalah investasi untuk produktivitas jangka panjang.

Kebiasaan kelima adalah mencoba mengendalikan hal yang tidak bisa dikendalikan, seperti cuaca, pendapat orang lain, atau keputusan yang berada di luar pengaruh pribadi.

Upaya untuk mengendalikan faktor-faktor eksternal ini hanya akan menimbulkan frustrasi dan menguras energi.

Melepaskan kebiasaan-kebiasaan penguras energi ini dapat membantu individu menjalani paruh kedua tahun ini dengan lebih ringan, fokus, dan tenang.

Dengan mengelola energi mental secara lebih bijak, produktivitas dan kesejahteraan emosional dapat meningkat secara signifikan.

Editor : ALengkong
#energi mental #Produktivitas Bisnis #Kesehatan mental Gen Z #PsikologiCinta #Kebiasaan belanja impulsif