JAGOSATU.COM - Kepolisian Malaysia telah membuka penyelidikan atas hilangnya seorang aktivis demokrasi Myanmar bersama keluarganya.
Aktivis yang bernama Thuzar Maung, bersama suami dan tiga anaknya, diduga diculik melalui operasi yang tampaknya terencana pada 4 Juli, menurut laporan Human Rights Watch (HRW) pada Selasa.
Laporan dari organisasi non-pemerintah yang berfokus pada masalah hak asasi manusia ini didasarkan pada kesaksian dan rekaman kamera pengawas di rumah aktivis tersebut di Selangor, Malaysia.
Keluarga yang hilang memiliki kartu pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Thuzar Maung melarikan diri ke Malaysia pada tahun 2015 untuk menghindari kekerasan terhadap Muslim yang terus meningkat di Myanmar.
Elaine Pearson, Direktur HRW Asia, menyatakan, Pemerintah Malaysia harus segera bertindak untuk menemukan keluarga ini dan memastikan keselamatan mereka.
Kepala Kepolisian Selangor, Hussein Omar Khan, telah menyatakan bahwa mereka telah membuka penyelidikan atas orang hilang setelah menerima laporan mengenai keluarga tersebut.
Hussein tidak memberikan detail tentang proses penyelidikan, namun dia menegaskan bahwa pihaknya akan menyelidiki setiap kemungkinan adanya tindakan pidana, termasuk penculikan.
Perlu dicatat bahwa Malaysia menjadi salah satu pihak yang keras menentang tindakan kekerasan di Myanmar setelah kudeta militer yang menggulingkan pemerintahan yang terpilih secara demokratis pada Februari 2021.
Baca Juga: Kremlin Memperingatkan Konsekuensi Lanjutkan Ekspor Bijian-bijian Tanpa Rusia.
Namun, Malaysia juga mendapat kritik dari aktivis hak asasi manusia karena telah mendeporasi ribuan warga negara Myanmar, termasuk beberapa militer Myanmar yang membelot.
Menurut HRW, Thuzar Maung mungkin menjadi target karena dukungannya terhadap gerakan pro-demokrasi Myanmar, tetapi belum diketahui siapa yang bertanggung jawab atas insiden ini.
Thuzar Maung memimpin Komunitas Pengungsi Muslim Myanmar dan memiliki lebih dari 93.000 pengikut di Facebook. Ia sering mengunggah kritik terhadap dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh junta militer di Myanmar.
Kedutaan Myanmar di Kuala Lumpur menolak untuk menjawab pertanyaan Reuters mengenai insiden ini.
Rekaman dari kamera pemantau menunjukkan pada tanggal 4 Juli, sebuah mobil masuk ke kawasan perumahan di mana Thuzar Maung tinggal, menurut HRW.
Pengemudi mobil tersebut mengaku sebagai polisi kepada penjaga keamanan, tetapi hasil identifikasi pihak berwenang menyimpulkan bahwa pelat nomor mobil tersebut palsu, kata HRW.
Baca Juga: Ukraina Menuduh Rusia Mengancam Keamanan Pangan Global.
Sekitar dua jam setelah mobil tersebut memasuki perumahan, seorang teman Thuzar Maung yang sedang berbicara dengannya melalui telepon mendengar aktivis tersebut memberitahukan suaminya bahwa ada pria tak dikenal yang masuk ke dalam rumah mereka.
Tak lama kemudian, mobil yang sama dan dua mobil lainnya milik keluarga Thuzar Maung terlihat meninggalkan perumahan tersebut.
Telepon aktivis tersebut dan telepon anggota keluarganya juga dimatikan, demikian menurut HRW.(antara)
Editor : Alfianne Lumantow