Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Panic Buying, Penimbunan, dan Kenaikan Harga Terjadi di Amerika Serikat Akibat Larangan Ekspor Beras India

Toar Rotulung • 2023-07-29 10:52:07
Tangkapan layar momen panic buying yang diunggah sosial warganet setempat ke media sosial.
Tangkapan layar momen panic buying yang diunggah sosial warganet setempat ke media sosial.

JAGOSATU.COM - Panic Buying, penimbunan, dan kenaikan harga terjadi di Amerika Serikat setelah India melarang ekspor beras putih non-Basmati. Kabar ini dilaporkan oleh New Delhi Television dan menyebabkan kehebohan di pasar global karena India merupakan salah satu eksportir beras terbesar.

Di Amerika Serikat, langkah ini segera memicu kekhawatiran masyarakat untuk menimbun beras Sona Masoori, jenis beras yang digemari oleh komunitas Telugu dan Tamil dari India selatan. Masyarakat khawatir akan mengalami kekurangan.

Akibatnya, pengecer bereaksi dengan menaikkan harga beras dan membatasi penjualan. Mereka menerapkan pembatasan pembelian dan persyaratan belanja minimum untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari lainnya.

Di beberapa toko di Amerika Serikat, harga untuk satu karung beras seberat 20 pon atau sekitar 9 kg dari salah satu varian beras yang terkena dampak telah melonjak dari $16 atau Rp 241.210 menjadi hampir $50 atau Rp 753.780 dalam kurs saat ini. Secara keseluruhan, rata-rata harga beras melonjak mencapai 11 persen.

India Bazaar, salah satu toko pengecer khusus dengan 10 lokasi di daerah Dallas-Fort Worth, Texas, memasang tanda yang mengharuskan pelanggan untuk membelanjakan $35 atau Rp 527.646 barang lain jika ingin membeli sekantong beras non-basmati, menurut foto yang di-posting The Daily Mail.

Video dan laporan yang beredar di media sosial selama akhir pekan menunjukkan orang India-Amerika berdiri dalam antrean panjang untuk mendapatkan beras di Texas, Michigan, New Jersey Alabama, Ohio, Illinois, dan California.

Aruna, yang tinggal di Washington, mengungkapkan kecemasan yang dialami banyak India non-residen (NRI). ”Saya mengunjungi hampir 10 lebih toko. Saya mulai mencari sekantong Sona Massori pada jam 9 pagi dan baru pada jam 4 sore saya akhirnya bisa mendapatkan sekantong beras dengan harga tiga kali lipat dari harga biasanya,” kata Aruna yang dikutip dari New Delhi Television.

Dalam salah satu video yang dibagikan di Twitter, warga India non-residen terlihat mengambil beberapa karung beras ke dalam keranjang belanja mereka. Beberapa lainnya mengantre dengan membawa beberapa stok beras putih ekspor India.

“Setelah melarang ekspor beras dari India, orang India di AS membeli beras dalam karung,” bunyi keterangan video dramatis tersebut yang dikutip dari republicworld.com.

Dalam rekaman lain, sekelompok pembeli di sebuah department store terlihat bergelantungan dari rak yang penuh dengan kantong beras untuk ditimbun di stok.

India adalah pengekspor beras dunia terkemuka, mengirimkan hampir 40 persen dari total permintaan dunia ke lebih dari 140 negara. Kebijakan India untuk menghentikan kenaikan ekspor karena melonjaknya harga domestik dan kekhawatiran tentang kekurangan selama hasil panen berikutnya.

Pemerintah India, dalam rilisnya yang dilansir dari republicworld.com, mengatakan bahwa harga beras dalam negeri telah meningkat sebesar 11,5 persen selama setahun terakhir dan 3 persen selama sebulan terakhir di tengah hujan lebat dan situasi banjir di beberapa negara bagian.

Kementerian Urusan Konsumen India mengungkapkan pemerintahnya telah memutuskan untuk mengubah kebijakan ekspor untuk memastikan ketersediaan beras putih non-basmati yang memadai di pasar India dan untuk menahan kenaikan harga di pasar domestik. (jpg)

Editor : Toar Rotulung
#beras putih #India #Amerika Serikat #larangan ekspor #Punic Buying