Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Tentara Iran Siaga, Pasukan AS Tunggu Perintah Trump

Pratama Karamoy • 2026-02-20 11:03:02
Sejumlah kapal Angkatan Laut AS berlayar menuju Laut Arab (6/2). AS tengah memobilisasi kekuatan Angkatan Laut dan Angkatan Udara menuju Timur Tengah.
Sejumlah kapal Angkatan Laut AS berlayar menuju Laut Arab (6/2). AS tengah memobilisasi kekuatan Angkatan Laut dan Angkatan Udara menuju Timur Tengah.

TEHERAN – Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Seyyed Ali Khamenei melontarkan peringatan keras kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Dia menyebut, negara yang dipimpin tak akan gentar di hadapan sederet persenjataan AS yang saat ini tengah dimobilisasi ke Timur Tengah. "Tentu saja kapal induk adalah mesin berbahaya. Tapi, yang lebih berbahaya adalah senjata yang mampu mengirimkannya ke dasar laut," ujar Khamenei di hadapan ribuan warga Provinsi Azerbaijan Timur pada Selasa (18/2), seperti dikutip dari kantor berita IRNA.

Pernyataan itu merespons klaim Trump yang berulang kali menyebut militer AS sebagai yang terkuat di dunia. Khamenei mengingatkan, bahkan militer terkuat pun bisa dihantam sedemikian rupa hingga tak mampu bangkit kembali. Dia menegaskan, militer dan aparat keamanan Iran berada dalam kondisi siap siaga penuh. Khamenei juga menyinggung pengakuan Trump bahwa selama 47 tahun terakhir AS tidak mampu meruntuhkan Republik Islam Iran. "Itu sendiri adalah pengakuan yang baik. Dan, kali ini pun ia tidak akan mampu melakukannya, meski dengan ancaman dan retorika," katanya.

 

Pemimpin tertinggi Iran itu juga mengecam campur tangan AS dalam program pertahanan, rudal, dan nuklir damai Iran. Ia menyebut, intervensi tersebut tidak logis dan tidak sah.

Iran, katanya, memiliki hak untuk memiliki kemampuan penangkal. Khamenei juga mengkritik pendekatan negosiasi yang sudah ditentukan hasilnya sejak awal. "Pendekatan seperti itu bodoh dan pasti gagal," katanya.

Iran memang tengah bernegosiasi dengan AS terkait nuklir mereka. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sudah tiba di Jenewa, Swiss, Selasa (17/2) untuk berunding dengan perwakilan Negeri Paman Sam.

Selain isu eksternal, Khamenei meminta otoritas Iran meningkatkan upaya mengatasi tantangan ekonomi dalam negeri, menekan inflasi, serta menjaga nilai mata uang nasional. Dia juga menyinggung kerusuhan yang terjadi pada Januari lalu yang disebutnya sebagai kudeta terencana oleh badan intelijen asing dengan memanfaatkan kekecewaan sebagian anak muda. Menurutnya, aparat keamanan, relawan, dan masyarakat berhasil menggagalkan skenario tersebut.

 

Baca Juga: Iran-AS Lanjutkan Negosiasi soal Nuklir

 

Belum Ada Tenggat

Sementara itu, mengutip The Guardian, serangan AS diperkirakan terjadi paling cepat akhir pekan ini. Namun, semua bergantung pada keputusan Trump.

Sejauh ini, militer AS telah memobilisasi angkatan udara dan angkatan laut mereka ke Timur Tengah untuk berjaga apabila ada perintah serangan dalam beberapa hari ke depan. Seorang pejabat senior AS yang tidak mau disebutkan namanya menyebut, dalam pertemuan di Gedung Putih pada Rabu (18/2) waktu setempat, semua pasukan militer AS yang berada di Timur Tengah harus ada pada tempatnya pada pertengahan Maret.

Kapal induk USS Abraham Lincoln sudah berada di wilayah Timur Tengah. Sementara itu, kapal induk kedua USS Gerald Ford sedang dalam perjalanan ke wilayah yang sama.

Dalam konferensi pers Rabu (18/2), Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt tidak menjawab pertanyaan tentang tenggat waktu pasti yang akan diberikan Trump kepada Iran untuk mencapai kesepakatan sebelum melakukan aksi militer. "Iran akan sangat bijak jika membuat kesepakatan dengan Presiden Trump," katanya, seperti dikutip dari BBC.

Trump sebelumnya memang sudah memberikan ancaman. "Saya rasa mereka tidak ingin menanggung konsekuensi jika tidak mencapai kesepakatan," kata Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One sebelum adanya pertemuan Iran dan Amerika di Jenewa, seperti dikutip dari BBC.

 

Penguatan Fasilitas Militer

Al Jazeera merincikan adanya citra satelit terbaru yang memperlihatkan penguatan fasilitas militer Teheran di sejumlah lokasi strategis. Iran dilaporkan membangun pelindung beton di atas fasilitas baru di kompleks militer sensitif serta mengubur pintu masuk terowongan di beberapa situs nuklir yang sebelumnya menjadi target serangan udara.

Salah satu lokasi yang menjadi sorotan adalah kompleks militer di Parchin yang berada sekitar 30 kilometer tenggara Teheran. Citra satelit menunjukkan bangunan yang rusak akibat serangan Israel pada Oktober 2024 kini telah direkonstruksi dan ditutup struktur beton tebal.

Lembaga kajian Institute for Science and International Security menyebut, pembangunan itu sebagai upaya menjadikan fasilitas tersebut bunker yang lebih tahan terhadap serangan udara. Selain di Parchin, Iran juga dilaporkan mengubur akses terowongan di kompleks Isfahan, salah satu fasilitas pengayaan uranium yang dibom AS dalam konflik tahun lalu. Di kawasan Natanz, dua pintu masuk terowongan di bawah gunung juga diperkuat dengan struktur pertahanan tambahan. (lyn/mia/ttg/jawa pos)

Editor : Pratama Karamoy
#global