JEFFREY Epstein membawa remaja putri itu ke gedung yang sangat tinggi yang dia tidak ingat persis di mana, apakah di New York atau New Jersey, Amerika Serikat. Di sana dia diperkenalkan dengan Donald Trump.
"Dia (Trump) tidak suka karena penampilan saya tomboy," kata si remaja putri, dalam wawancara yang berlangsung Agustus dan Oktober 2019 itu dalam kesaksiannya kepada FBI.
Ada beberapa orang lain di ruangan tersebut, tetapi kemudian diusir Trump. "Biar kuajarkan kamu bagaimana seorang gadis kecil seharusnya bertingkah," kata si remaja putri, menirukan ucapan Trump.
Usia si remaja putri tersebut sekarang sudah senior. Sebab, kejadian dengan Trump yang diceritakannya itu terjadi pada 1980-an.
Dokumen wawancara itu dirilis Departemen Kehakiman AS Kamis (4/3) pekan lalu. Dalam dokumen tersebut, perempuan itu menyebutkan kalau Trump memaksanya melakukan seks oral.
"Dia memukul saya karena saya menggigit kemaluannya," kata perempuan yang identitasnya dirahasiakan dan ketika kejadian berusia antara 13-15 tahun itu, seperti dikutip dari Politico.
AFP melansir, FBI mewawancarai perempuan tersebut empat kali sebagai bagian dari penyelidikan rangkaian kejahatan seksual terhadap anak yang dilakukan Epstein semasa hidup. Material wawancara itu dikenal dengan nama FBI 302s.
Banyak sekali nama besar terkait dokumen Epstein, tak terkecuali Trump. Ada dugaan serangan AS dan Israel ke Iran merupakan upaya untuk menutupi pengungkapan kasus tersebut. Ada pula yang menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu punya bukti keterlibatan Trump yang dia gunakan untuk memeras presiden dua periode tersebut agar membantunya menyerang Iran.
Baca Juga: Rusia Diduga Bantu Serangan Presisi Iran
Bantahan Gedung Putih
Trump membantah terlibat dalam rangkaian kejahatan Epstein. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut, tudingan itu "sama sekali tak berdasar, tak didukung bukti kredibel, dan datang dari perempuan yang memiliki catatan kejahatan panjang."
"Tidak berdasarnya tudingan ini diperkuat fakta kalau Departemen Kehakiman di masa sepenerusan Joe Biden tahu soal material tersebut selama empat tahun dan tak melakukan apa-apa. Sebab, mereka tahu kalau Presiden Trump sama sekali tak bersalah," kata Leavitt. (ttg/jawa pos)
Editor : Pratama Karamoy