TEHERAN – Ketegangan di kawasan Selat Hormuz masih menjadi perhatian dunia. Iran menegaskan bahwa jalur pelayaran strategis itu tidak sepenuhnya ditutup. Pembatasan total hanya diberlakukan bagi kapal AS, Israel, dan negara sekutunya.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sudah menyatakan bahwa kapal dari negara lain masih dapat melintasi Selat Hormuz.
"Selat Hormuz hanya ditutup bagi kapal Amerika dan Israel. Banyak kapal tanker dan kapal lain masih bisa melintas," kata Araghchi, Sabtu (15/3), seperti dikutip The Jerusalem Post.
Meski demikian, banyak kapal memilih menghindari jalur itu karena kekhawatiran keamanan. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar sepertiga pasokan minyak dunia serta pengiriman gas alam cair (LNG). Gangguan di jalur itu memicu ketidakpastian di pasar energi global sejak perang antara AS, Israel, dan Iran pecah pada 28 Februari lalu.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan akan membentuk koalisi internasional untuk memastikan jalur pelayaran tersebut tetap terbuka. Melalui unggahan di Truth Social, Trump menegaskan, sejumlah negara akan mengirim kapal perang untuk mengawal pelayaran di kawasan itu.
Dinilai Al Jazeera, Trump menyebut negara-negara yang terdampak langsung gangguan jalur tersebut antara lain China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris. Menurutnya, penyeberangan di perairan itu menjaga keamanan pelayaran. Trump bahkan memberi peringatan bahwa Amerika siap membombardir garis pantai Iran jika terjadi serangan terhadap kapal di kawasan Selat Hormuz.
Baca Juga: Delapan Negara Kecam Penutupan Masjid Al Aqsa
Namun, sejumlah analis menilai rencana tersebut berisiko tinggi. Profesor studi media dari Doha Institute for Graduate Studies Mohamad Elmasry mengatakan, pengawalan kapal tanker di Selat Hormuz merupakan misi yang sangat berbahaya.
"Kapal tanker bergerak lambat dan menjadi target empuk di jalur perairan yang sempit," katanya. Menurut dia, Iran memiliki drone Shahed dengan jangkauan hingga 2.500 kilometer. Drone itu dapat menyerang kapal dari wilayah daratannya. Risiko serangan itu juga membuat perusahaan asuransi enggan menanggung kapal maupun awak yang melintasi kawasan tersebut.
Sementara itu, Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Alireza Tangsiri membantah klaim AS yang menyebut kemampuan militer Iran telah dihancurkan. Menurutnya, Selat Hormuz belum ditutup secara militer, tetapi tetap berada di bawah kendali Iran.
Dia juga menyindir rencana Trump yang akan mengawal kapal tanker di kawasan itu. "Amerika keliru mengklaim telah mengamankan rangkaian laut Iran. Sekarang mereka bahkan meminta bantuan negara lain," tulisnya di platform X.
Meski ketegangan meningkat, beberapa kapal masih terlihat melintasi selat tersebut. Dua kapal tanker berbendera India yang mengangkut gas petroleum cair dilaporkan melintas dengan aman setelah memperoleh izin khusus dari Teheran. Izin itu diberikan setelah pembicaraan langsung antara Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Selain itu, sebuah kapal milik Turki juga diizinkan melintas setelah negosiasi dengan Iran, meski 14 kapal Turki lainnya masih menunggu persetujuan.
Pembatasan pelayaran di Selat Hormuz memicu kekhawatiran global. Jalur ini bukan hanya penting bagi perdagangan energi, tetapi juga bagi pengiriman komoditas yang menjadi bahan baku pupuk maupun untuk produksi pangan dunia.
Kepala urusan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Tom Fletcher memperingatkan bahwa gangguan jalur tersebut dapat mengancam distribusi bantuan kemanusiaan. "Jutaan orang berisiko jika kargo kemanusiaan tidak dapat melewati selat dengan aman," katanya.
Sejak perang dimulai pada 28 Februari, sedikitnya 1.444 orang dilaporkan tewas di Iran. Ketegangan juga meluas ke kawasan lain di Timur Tengah dengan serangan rudal dan drone yang terus terjadi di sejumlah negara Teluk.
Pakar keamanan Timur Tengah dari King’s College London Andreas Krieg menilai seruan Trump untuk membentuk koalisi kapal perang lebih merupakan upaya menenangkan pasar daripada solusi nyata.
Menurutnya, tidak ada solusi militer cepat untuk membuka Selat Hormuz. Iran cukup melakukan serangan sporadis untuk membuat perusahaan asuransi menarik perlindungan kapal yang melintas.
"Tanpa kesepakatan diplomatik maupun militer, apa yang dilakukan Trump hanya akan membuat kapal militer menjadi target bagi senjata yang jauh lebih murah," ujarnya. (lyn/oni/jawa pos)
Editor : Pratama Karamoy