Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Kapal Induk AS Terbakar 30 Jam

Pratama Karamoy • 2026-03-18 12:45:22

ENA SERANGAN DRONE: Kebakaran melanda atap Hotel Royal Tulip Al-Rasheed di kawasan Zona Hijau, Baghdad, Iraq, yang kerap ditinggali diplomat asing, Senin (16/3).
ENA SERANGAN DRONE: Kebakaran melanda atap Hotel Royal Tulip Al-Rasheed di kawasan Zona Hijau, Baghdad, Iraq, yang kerap ditinggali diplomat asing, Senin (16/3).

TEHERAN – Di tengah perang yang masih berlangsung, Kapal induk Amerika Serikat USS Gerald R. Ford mengalami kebakaran hebat selama lebih dari 30 jam. Namun, penyebab kebakaran disebut bukan karena serangan Iran. 

Melainkan sistem internal di ruang utama laundry kapal. Kendati demikian, insiden ini menambah tekanan terhadap armada militer Amerika di tengah eskalasi perang melawan Iran yang kian kompleks.

Dilansir Daily Press, kebakaran itu membuat lebih dari 600 personel kehilangan tempat tidur di dalam kapal. Selain kerusakan fasilitas, insiden ini juga menyebabkan kelelahan fisik dan tekanan mental bagi personel yang harus tetap siaga di tengah kondisi darurat.

 

Sebelum ke Timur Tengah, kapal induk bersama dengan 4.500 pelaut dan pilot tempurnya melaju dari Mediterania ke Karibia pada 24 Oktober 2025. Kapal induk itu disebut terlibat dalam operasi militer untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada awal Januari. Kapal tersebut kemudian berangkat ke Timur Tengah untuk mendukung perang melawan Iran.

Kendati kapal induknya mengalami masalah, AS membantah jika kekuatan militernya menurun. Kebakaran itu bisa diatasi dan tidak menyebabkan kerusakan pada sistem penggerak kapal. "Kapal induk tetap beroperasi penuh," ujar Komando Pusat AS dalam rilisnya.

 

Teheran Lanjutkan Serangan

Serangan Iran masih terus berlangsung hingga kemarin. Dilansir dari Al Jazeera, rudal dan drone tetap diluncurkan ke sejumlah wilayah di Teluk dan Israel, meski dalam jumlah lebih kecil. Para analis menilai, penurunan intensitas bukan berarti melemahnya kekuatan, melainkan perubahan strategi. "Tidak mudah untuk mengidentifikasi peluncur rudal," kata Profesor di National Defense University David Des Roches. Dia menjelaskan, Iran kini mengandalkan peluncur bergerak dan lokasi tersembunyi. Karena itu, sistem peluncur rudal dan drone Iran sulit dihancurkan meski berada di bawah tekanan serangan udara AS-Israel.

Strategi itu diperkuat dengan pendekatan perang asimetris. Iran tidak lagi mengandalkan serangan besar-besaran, melainkan tekanan berkelanjutan dengan intensitas rendah namun konsisten. "Ini adalah perlombaan melawan waktu," ujar peneliti di German Institute for International and Security Affairs Hamidreza Azizi.

 

Baca Juga: Thailand Minta Bantuan Iran Selamatkan Tiga Awak Kapal yang Hilang di Selat Hormuz

 

Komunikasi AS-Iran

Saluran komunikasi langsung antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan kembali aktif dalam beberapa hari terakhir. Informasi ini diungkap seorang pejabat Amerika dan sumber yang mengetahui perkembangan tersebut.

Dilansir dari Axios, kontak itu disebut terjadi antara utusan Amerika, Steve Witkoff, dan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Namun, belum diketahui sejauh mana substansi pesan kedua pihak.

Meski demikian, komunikasi ini menjadi yang pertama kali diketahui sejak perang pecah lebih dari dua pekan lalu. Sumber menyebut, pesan yang disampaikan berfokus pada upaya mengakhiri konflik.

Sementara itu, Trump mengatakan, Iran memang telah berkomunikasi dengan pihaknya, meski belum jelas apakah pihak yang terlibat memiliki kewenangan untuk mencapai kesepakatan. "Mereka ingin berbicara dengan orang-orang kami, tetapi kami tidak tahu siapa mereka," ujar Trump.

Dia juga menyatakan tetap terbuka terhadap kemungkinan perundingan. Namun, di saat bersamaan, Trump meragukan kesiapan Teheran untuk mencapai kesepakatan. Dia menambahkan bahwa situasi kepemimpinan di Iran saat ini belum jelas, menyusul banyaknya pejabat tinggi yang dilaporkan tewas dalam konflik.

 

Kemenlu: WNI di Dubai Aman

Plt Direktur Perlindungan WNI (PWNI) Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI Heni Hamidah memastikan, tak ada WNI yang terdampak dari jatuhnya serpihan drone di sejumlah wilayah di Uni Emirat Arab (UEA) seperti Dubai, Fujairah, dan Umm Al Quwain pada Senin (16/3). Diketahui, serpihan drone tersebut telah menyebabkan kebakaran di beberapa titik, termasuk di area dekat Dubai International Airport (DXB).

Akibat insiden tersebut, operasional penerbangan di Dubai International Airport (DXB) sempat ditunda hingga pukul 10.00 waktu setempat, dan sejumlah penerbangan dialihkan ke bandara terdekat. "Otoritas setempat segera menangani kejadian tersebut dan hingga saat ini tidak dilaporkan adanya korban jiwa," ungkapnya kemarin (17/3). (lyn/mia/oni/jawa pos)

Editor : Pratama Karamoy
#global