JAKARTA – Badan energi global, International Energy Agency (IEA), membuka kemungkinan pelepasan tambahan cadangan minyak strategis. Hal itu akibat eskalasi konflik Iran di Timur Tengah.
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan, langkah tersebut sedang dibahas bersama sejumlah pemerintah di Asia dan Eropa. Keputusan akan diambil setelah mempertimbangkan perkembangan pasar energi global.
"Kami akan melihat kondisi, menganalisis pasar, dan berdiskusi dengan negara anggota," kata Birol dalam pernyataannya di National Press Club, Australia, seperti dilansir Reuters kemarin (23/3).
Sebelumnya, pada 11 Maret, negara-negara anggota IEA telah sepakat melepas 400 juta barel minyak dari cadangan strategis. Alasannya meredam lonjakan harga minyak dunia. Volume tersebut setara sekitar 20 persen dari total cadangan strategis yang dimiliki negara anggota.
Meskipun demikian, Birol menegaskan tidak ada ambang harga minyak tertentu yang secara otomatis bisa memicu pelepasan cadangan tambahan. "Pelepasan cadangan dapat menenangkan pasar, tetapi ini bukan solusi permanen. Ini hanya membantu mengurangi tekanan terhadap ekonomi," ujarnya.
Baca Juga: Kemenhub: Pemudik Naik Angkutan Umum Capai 10,8 Juta Orang
Ganggu Pasokan 11 Juta Barel Per Hari
Birol menilai krisis energi saat ini sangat serius, bahkan berpotensi lebih berat dibanding gabungan krisis minyak pada 1973, 1979, serta dampak konflik Perang Rusia-Ukraina.
Menurut dia, konflik Timur Tengah telah mengganggu pasokan minyak global hingga 11 juta barel per hari. "Angka itu lebih besar dibanding dampak dua krisis minyak sebelumnya secara gabungan," imbuhnya.
Birol menekankan bahwa solusi paling mendesak adalah membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang dilalui sebagian besar pasokan minyak dunia. "Kedalaman masalah ini belum sepenuhnya dipahami oleh para pengambil kebijakan global," ujarnya.
IEA juga menilai kawasan Asia-Pasifik berada di garis depan krisis energi karena tingginya ketergantungan terhadap impor minyak serta komoditas penting lain yang melewati Selat Hormuz, seperti pupuk dan helium.
Harga Minyak Tembus USD 113
Di pasar global, harga minyak kembali menguat. Mengutip Reuters, minyak mentah Brent Crude Oil naik USD 1,01 atau 0,90 persen menjadi USD 113,20 per barel pada awal perdagangan kemarin (23/3).
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level USD 98,85 per barel, naik 62 sen atau 0,63 persen, setelah sebelumnya menguat 2,27 persen pada sesi perdagangan sebelumnya. (bil/dio/jawa pos)
Editor : Pratama Karamoy