TOKYO – Pemerintah Jepang bersiap menghadapi ancaman krisis energi dengan langkah drastis. Perdana Menteri Sanae Takaichi mengumumkan pelepasan cadangan minyak terbesar sepanjang sejarah negara tersebut. Ini karena munculnya kekhawatiran terganggunya pasokan akibat konflik Amerika Serikat-Israel melawan Iran.
Langkah ini mencakup pelepasan cadangan minyak sektor swasta setara 15 hari konsumsi, serta cadangan milik negara yang mulai digelontorkan pekan ini. Menurut The Guardian, kebijakan tersebut diambil karena meningkatnya risiko gangguan jalur tanker di Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia. Jepang, yang mengimpor lebih dari 90 persen kebutuhan minyak mentahnya dari Timur Tengah, dinilai sangat rentan jika jalur tersebut ditutup.
Secara total, sekitar 80 juta barel minyak atau setara 45 hari kebutuhan domestik yang akan disalurkan ke kilang dalam negeri. Jumlah ini 1,8 kali lebih besar dibandingkan pelepasan cadangan saat krisis nuklir bencana Fukushima 2011. Hingga akhir tahun lalu, Jepang tercatat memiliki cadangan sekitar 470 juta barel atau setara 254 hari konsumsi nasional.
"Jepang akan mulai menggunakan cadangan strategis nasionalnya pada hari Kamis (26/3)," kata Takaichi seperti dilansir dari Futunn.com.
Selain itu, pemerintah juga menggelontorkan subsidi untuk menahan harga bensin di kisaran ¥170 per liter setara Rp 18.000, setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor ¥190,8 per liter setara Rp 20.341. Subsidi ini akan dievaluasi setiap pekan mengikuti fluktuasi harga minyak global.
Kapal tanker Jepang sebenarnya akan datang dalam pekan ini. Menteri Perdagangan Ryosei Akazawa menyebut bahwa pada 28 Maret nanti kapal tanker Jepang akan sampai. Kapal tersebut melewati jalur alternatif.
Di tengah kekhawatiran krisis energi, pemerintah Jepang juga menghadapi potensi kepanikan publik. Beredar luas di media sosial isu kelangkaan barang kebutuhan pokok, termasuk tisu toilet, yang memicu aksi borong di sejumlah wilayah. (lyn/gas/jawa pos)
Editor : Pratama Karamoy