Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Aksi No Kings: Trump, Mundurlah! Jutaan Warga AS di 50 Negara Bagian Tolak Perang Iran dan Razia Imigran

Pratama Karamoy • 2026-03-30 11:19:57

AKSI DAMAI: Para pengunjuk rasa berkumpul di luar Gedung Capitol Negara Bagian Minnesota dalam aksi protes nasional bertajuk No Kings di Saint Paul, Minnesota, AS (28/3).
AKSI DAMAI: Para pengunjuk rasa berkumpul di luar Gedung Capitol Negara Bagian Minnesota dalam aksi protes nasional bertajuk No Kings di Saint Paul, Minnesota, AS (28/3).

WASHINGTON – Kemarahan warga Amerika Serikat (AS) terhadap kebijakan Presiden Donald Trump memuncak. Jutaan orang turun ke jalan dalam aksi bertajuk No Kings, Sabtu (28/3) waktu setempat.

Dilansir AFP, aksi ini diklaim diikuti 11 juta orang. Mereka tersebar di lebih dari 3.300 lokasi di 50 negara bagian AS. Mereka memprotes gaya kepemimpinan Trump yang dinilai otoriter, kebijakan imigrasinya yang kejam, hingga keputusan menyerang Iran.

Aksi No Kings ini merupakan kali ketiga dalam setahun terakhir. Protes pertama berlangsung pada Juni lalu, bertepatan dengan ulang tahun ke-79 Trump dan parade militer di Washington. Saat itu, jutaan warga turun ke jalan dari New York hingga San Francisco.

Aksi kedua pada Oktober diikuti sekitar 7 juta orang. Sementara itu, seruan aksi disebut menarik perhatian sekitar 1 juta peserta dengan 800 demonstrasi baru.

 

Baca Juga: Negara Teluk Ragukan Negosiasi Damai AS-Iran

 

Istilah No Kings merujuk pada penolakan terhadap kekuasaan presiden yang dianggap terlalu besar, hingga mempunyai nyali mengebal hukum. Dalam aksi terbaru, makna itu meluas menjadi penolakan terhadap keputusan sepihak Trump melancarkan serangan ke Iran.

Demonstran ini menyuarakan penghentian pasokan senjata ke Israel dan penyalahgunaan kekuasaan, tanpa memperhatikan risiko bagi warga sipil maupun tentara AS.

Aksi berlangsung masif di berbagai kota besar dan kecil. Di New York, puluhan ribu orang berkumpul sejak pagi. Aktor Robert De Niro turut hadir dan kembali melontarkan kritik keras terhadap Trump.

 

Tokoh lain yang terlihat di lapangan, antara lain, Jaksa Agung New York Letitia James, pendeta Al Sharpton, serta Padma Lakshmi. Mereka bergabung dalam long march di kawasan Times Square.

Demonstrasi juga terjadi di Atlanta, San Diego, hingga West Bloomfield, Michigan, meski suhu di bawah titik beku. Di Washington dan Boston, ribuan orang juga memenuhi jalanan.

Para peserta membawa berbagai spanduk, antara lain "Trump Harus Mundur", "Lawan Fasisme", hingga "Pro America, Anti Trump".

 

 

 

"Kapten Amerika" dan "Sinterklas" Ikut Demo

Sejumlah peserta tampil unik dengan kostum. Di Colorado, seorang demonstran mengenakan kostum Captain America dengan tameng bertuliskan: No Kings. Di lokasi lain, ada yang berdandan sebagai Sinterklas sambil membawa sindiran politik. "Dia terus berbohong dan tidak ada yang menghentikan. Ini situasi yang mengerikan," ujar Robert Pevosevich, 67, kepada ASP.

Mengutip Reuters, aksi juga terjadi di New York, Dallas, Philadelphia, dan Washington. Namun, sekitar dua pertiga aksi justru berlangsung di luar kota besar, menunjukkan peningkatan partisipasi komunitas kecil hingga hampir 40 persen dibanding aksi pertama.

 

Di Minnesota, aksi digelar di depan gedung parlemen negara bagian. Sejumlah peserta membawa foto Renee Good dan Alex Pruitt, warga AS yang tewas ditembak petugas imigrasi federal tahun ini. Gubernur Minnesota Tim Walz menyebut para demonstran sebagai "hati dan jiwa Amerika".

"Mereka menyebut kita radikal. Ya, kita memang radikal saat berbicara kasih sayang, keadilan, dan demokrasi," ujarnya. Senator Bernie Sanders juga menegaskan bahwa rakyat tidak akan membiarkan AS jatuh ke dalam otoritarianisme atau oligarki.

Di Los Angeles, aksi sempat ricuh. Dua orang ditangkap setelah diduga menyerang aparat federal. Petugas menggunakan gas air mata setelah massa melempar benda ke arah gedung federal.

 

Sementara itu, di Ocean Beach, San Francisco, ratusan demonstran berdiri di bibir pantai membentuk tulisan: Trump Must Go Now!. Aksi itu mendapat liputan luas dari berbagai media internasional dan viral di semua platform sosial media.

Gelombang protes juga meluas ke luar negeri. Warga AS di Prancis, Jerman, Italia, Portugal, dan Yunani turut menggelar aksi.

Demonstrasi juga berlangsung di kota-kota Eropa seperti Amsterdam, Madrid, dan Roma. Di Roma, sekitar 20 ribu orang turun ke jalan dengan pengamanan ketat.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengancam akan menargetkan universitas milik AS dan Israel di Timur Tengah. Ancaman ini muncul setelah AS dan Israel menyerang fasilitas pendidikan di Iran, termasuk Universitas Teknologi Isfahan dan Universitas Sains dan Teknologi di Teheran.

Dalam pernyataannya, IRGC menyebut kampus-kampus milik AS di Timur Tengah sebagai "target sah". IRGC juga memperingatkan staf dan mahasiswa untuk menjauhi institusi satu kilometer dari lokasi yang berpotensi diserang.

Iran memberi ultimatum hingga Senin kepada pemerintah AS untuk mengecam serangan terhadap universitas di Iran. "Jika tidak, ancaman ini akan dilaksanakan," tegas IRGC.

Paus: Tuhan Menolak Doa Pemimpin yang Memulai Perang

Ada kejadian menarik di jam khutbah Misa Minggu Palma Paus Leo XIV di Lapangan Santo Petrus di Vatikan, 29 Maret 2026. Dalam agendanya, Tuhan menolak doa para pemimpin yang memulai perang ini merupakan pernyataan yang luar biasa tegas saat perang Iran memasuki bulan kedua.

Mengutip Reuters, pernyataan tersebut disampaikan di hadapan puluhan ribu orang di Lapangan Santo Petrus pada Minggu Palma, perayaan yang membuka pekan suci menjelang Paskah bagi 1,4 miliar umat Katolik di dunia.

Leo memang tidak menyebutkan secara gamblang siapa pemimpin dunia yang dimaksud. Tetapi, Paus telah berulang kali menyerukan gencatan senjata dalam konflik di Timur Tengah.

Seperti diketahui, beberapa pejabat AS telah menggunakan bahasa Kristen untuk membenarkan serangan AS-Israel terhadap Iran pada 20 Februari. (mia/oni)

Editor : Pratama Karamoy
#global