Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Setelah Hormuz, Selat Bab al Mandab Bakal Diblokade

Pratama Karamoy • 2026-03-30 12:09:30

Ilustrasi
Ilustrasi

SELAT Hormuz ditutup saja dunia langsung panas dingin akibat krisis energi. Apalagi jika ditambah pemblokadean Selat Bab al Mandab. Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dilalui sekitar 20 persen lalu lintas distribusi minyak dan gas dunia.

Tambahkan itu dengan 12 persen jalur pengangkutan yang melintasi Selat Bab al Mandab yang mengoneksikan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudera Hindia.

 

Penutupan atau blokade di Bab al Mandab itu kemungkinan besar terjadi setelah Houthi, kelompok yang terafiliasi dengan Iran di Yaman, turun gunung untuk ikut menyerang Israel. Israel dan Amerika Serikat telah sejak 28 Februari lalu menyerang Iran tanpa alasan jelas.

Mengutip dari Al Jazeera kemarin (29/3), Kelompok Houthi yang menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman meluncurkan dua serangan rudal dan drone ke arah Israel Sabtu (28/3). Juru Bicara Militer Houthi Yahya Saree menyatakan, akan ada lebih banyak gempuran susulan.

 

Bab al Mandab memisahkan Yaman yang berada di ujung Semenanjung Arab dengan Djibouti dan Eritrea yang berada di bagian tanduk Benua Afrika. Sebelum Iran diserang, Houthi sudah beberapa kali menyerang Israel sebagai bentuk solidaritas kepada Gaza.

Houthi telah menunjukkan kemampuan mereka untuk menyerang target yang jauh di luar Yaman. Juga, mengganggu jalur pelayaran di sekitar Semenanjung Arab dan Laut Merah.

 

Baca Juga: Aksi No Kings: Trump, Mundurlah! Jutaan Warga AS di 50 Negara Bagian Tolak Perang Iran dan Razia Imigran

 

Senjata Andalan

Melaporkan dari ibu kota Yaman, Sanaa, Yousef Mawry dari Al Jazeera menyebut Bab al Mandab sebagai kartu as atau senjata andalan Houthi, kelompok yang juga memerangi rezim yang berkuasa di Yaman. "Mereka ingin membuat Israel membayar secara ekonomi. Mereka ingin mengganggu rute perdagangan serta aktivitas impor dan ekspor Israel," ujarnya.

 

Indonesia juga tengah mengusahakan hal serupa bagi dua kapal Pertamina yang belum bisa melewati Selat Hormuz: Pertamina Pride dan Gamsunoro. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Vahd Nabyl Achmad Mulachela mengungkapkan, ada pertimbangan positif dari Pemerintah Iran atas keamanan perlintasan dua kapal tersebut.

"Diperlukan kesiapan teknis oleh pihak Pertamina, termasuk perlindungan asuransi dan kesiapan kru kapal, sebelum ditindaklanjutinya tanggapan positif dari Pemerintah Iran tersebut," ujarnya. (mia/ttg)

 

Editor : Pratama Karamoy
#global