LONDON – Sebanyak 250 ribu pekerja di Inggris terancam terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) masal seiring perlambatan ekonomi yang dipicu eskalasi konflik global. Risiko ini diperkirakan terjadi pada pertengahan tahun depan.
Menteri Keuangan Inggris, Rachel Reeves, telah memanggil pimpinan perbankan untuk membahas langkah antisipasi menghadapi potensi krisis. Tekanan ekonomi disebut semakin berat setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Laporan dari EY Item Club menyebut potensi penutupan Selat Hormuz dan lonjakan harga energi sebagai pukulan terbesar sejak pandemi COVID-19. Kondisi ini diperkirakan membuat ekonomi Inggris stagnan pada kuartal kedua dan ketiga, serta meningkatkan risiko resesi teknis.
Baca Juga: Insentif Pajak Dipangkas, Adopsi EV Bakal Melambat
Pertumbuhan ekonomi Inggris diproyeksikan merosot dari 1,4 persen pada 2025 menjadi hanya 0,7 persen tahun ini. Tingkat pengangguran juga diperkirakan naik menjadi 5,8 persen pada pertengahan 2027, dari posisi saat ini 5,2 persen.
Penasihat ekonomi EY Item Club, Matt Swannell, mengatakan lonjakan biaya energi dan gangguan rantai pasok akan menekan daya beli serta investasi. "Ketidakpastian global mendorong Inggris ke ambang resesi teknis," ujarnya. (lyn/gas)
Editor : Pratama Karamoy