Memori Liputan di Mindanao Selatan Bersama Mendiang Om Ferry Rende: Di Bawah Moncong Senjata Antara Gensan dan Davao

Hairil Paputungan • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 10:59 WIB
BERTAHAN DI NEGERI ORANG: Saya Om Ferry dan Raymond Pasla bersama Komunitas warga Nusa Utara (Sangihe, Talaud dan Sitaro) yang menghuni kampung nelayan di Provinsi Sarangani, Mindanao Selatan, Filipina. (foto:dok-hp)
BERTAHAN DI NEGERI ORANG: Saya (topi coklat) Om Ferry (topi hitam-merah) dan Raymond Pasla (kaos coklat paling kanan) bersama Komunitas warga Nusa Utara (Sangihe, Talaud dan Sitaro) yang menghuni kampung nelayan di Provinsi Sarangani, Mindanao Selatan, Filipina. (foto:dok-hp)

JAGOSATU.COM - Senin malam 7 September 2026 saya membuka WhatsApp Grup (WAG) dan membaca deretan ungakapan belasungkawa. Ditujukan kepada senior Ferry Boy Martin Rende. Om Ferry wafat. Di usia 70 tahun lebih sedikit 6 bulan. Lebih singkat sering kami tulis Ferry Rende. Saya lebih akrab dengan panggilan senior atau jika bersua langsung, karib kusapa Om Ferry. Tentu sedih. Punya banyak kenangan dengan almarhum. Yang enak, tidak enak juga mencekam. Lalu saya membuka laptop, menulisnya, mengalir begitu saja. Tapi, saya urungkan memuat tulisan ini karena ketiadaan bukti foto. Kemarin siang selepas sport ringan, saya membongkar sisa-sisa foto fisik di album foto keluarga yang makin lusuh, bahkan sudah masuk tas. Sudah diletakkan di atas lemari, dianggap sebagai barang bekas. Alhamdulillah, saya menemukan beberapa lembar. Lalu saya foto lagi pakai ponsel agar mendukung tulisan ini. Biar tidak dikira mengarang bebas. Maklum, zaman digital sekarang, tanpa bukti valid dianggap hoax.

Tidak hendak mengungkit apapun, terutama kepada keluarga almarhum yang ditinggalkan. Jasad Om Ferry juga sudah dikebumikan Kamis 10 September pekan lalu. Semata-mata bentuk penghormatan saya kepada salah satu senior panutan kami di dunia jurnalistik. Saya pilih menulis kisah kami liputan bersama sekira 20 tahun silam di Mindanao Selatan, Filipina.     

                                                    *****

 

GIGIH: Memanggul kamera ukuran besar sendiri, almarhum Om Ferry mengambil visual liputan dengan cermat. (foto:dok-hp)
GIGIH: Memanggul kamera ukuran besar sendiri, almarhum Om Ferry mengambil visual liputan dengan cermat. (foto:dok-hp)

Dari tiga kali tugas liputan bersama ke luar Indonesia, satu yang paling berkesan sebagai sejarah pertemanan, rasa persaudaraan dengan senior Ferry Boy Marthin Rende. Adalah liputan keberadaan warga Nusa Utara di Provinsi Sarangani, Mindanao Selatan, Filipina. 

Om Ferry, saya dan Raymond Pasla mengenang tugas itu sebagai kisah yang unik dan lumayan mencekam. Mulai dari pesawat jenis ATR baling-baling yang kami tumpangi dari Manado ke Davao, hingga mencari jejak ribuan warga Sangihe, Talaud dan Sitaro di kawasan yang dikenal sebagai kampungnya petinju legendaris Filipina, Manny Paqiauo.

Dua tugas lainnya, ke Taiwan dan Manila tidak banyak interaksi karena kami dalam rombongan berbeda. Juga tak ada yang menegangkan karena sekadar mengawal tim kesenian yang tampil mempromosikan budaya Sulut ke dua negara itu. Untuk tujuan pariwisata.   

Tapi, yang ke Davao itu benar-benar kami bertiga menjadi satu. Meski kawasan ini paling dekat dengan Sulut, juga sebagai kawasan perbatasan Indonesia-Filipina, tapi di sinilah kami menemukan banyak pelajaran sebagai jurnalis. Jika tidak karena jatah Konsulat Jenderal (Konjen) RI di Davao, kami bertiga ingin sekamar saja. Tapi, Konjen rupanya sudah menyiapkan masing-masing satu kamar hotel menginap.

Baru mau naik pesawat baling-baling –orang orang sering bilang HS--, kami bertiga sudah saling bercanda. ‘’Rupa mo nae boto-boto torang ini Ril?’’ Celetukan Om Ferry itu mengundang gelak tawa rombongan sekira 40-an penumpang lainnya di ruang tunggu Bandara Samratulangi.

Saya mengira kami akan menumpang jet yang dioperasikan maskapai Merpati saat itu, yang menerbangi Manado-Davao-Manado sepekan dua kali. ‘’Sabar jo deng banyak berdoa. Anggap jo torang lagi menunggu di dekat mesin gilingan padi,’’ cetusnya.

Saya nyengir, antara lucu tapi juga was-was. ‘’Nyanda usah tako, cuaca cerah kwa. Nda ada awan sama sekali,’’ Raymond Pasla menyela bernada menghibur diri.

MEETING KADIN: Kami bertiga mengikuti pertemuan antara Kadin Sulut dengan Kadin Davao dan General Santos (foto:dok-hp)
MEETING KADIN: Kami bertiga mengikuti pertemuan antara Kadin Sulut dengan Kadin Davao dan General Santos (foto:dok-hp)

Bukan baru kali itu saya ke Davao dan General Santos. Tapi, jujur, baru ini diberi tumpangan pesawat baling-baling, bukan jet. Biasanya cuma 35-40 menit terbang.  Dengan pesawat ini kami harus mengarungi langit utara Pacific sekira 1 jam dan 30 menit lebih. Tentu diberi jatah makanan. Dua potong roti dan teh botol kemasan.

Baru sekira 10 menit terbang, pramugari menyodor makanan itu. Karena komposisi kursi 2-2, saya duduk dempetan dengan Om Ferry dan Raymond duduk di kursi sebelahnya dengan seorang penumpang berwajah bule.  

Sementara mengunyah roti, keluar beberapa ekor kecoak di dinding kabin pesawat. Kebetulan kursi kami deretan depan batas dengan ruang pantry kecil. Tidak ada kelas bisnis. Botol minuman yang saya pegang lepas dan tumpah. Rombongan kecoa itu tidak kabur, malah menyerbu tumpahan teh botol di lantai kabin. ‘’Alamak, kira le cuma di sabuah kobong ada kakarlak. Hele di atas lautan ada dorang.’’ Spontanitas saya itu membuat seisi pesawat tergelak. Soalnya mereka pun mengalami hal serupa.

Singkat cerita, kami landing dengan sempurna dan cuaca selama penerbangan bersih dari awan. Langsung dijamu makan sore tim yang sudah menunggu di Davao.

Karena tujuan utama adalah ke Provinsi Sarangani, maka sekadar gambaran singkat, Ibu kotanya adalah Alabel. Wilayah itu bersifat administratif. Provinsi ini masuk kawasan Soccsksargen (Wilayah 12) yang mencakup South Cotabato, Cotabato, Sultan Kudarat, Sarangani, dan General Santos.

Letak geografisnya mengelilingi Teluk Sarangani di pulau Mindanao, berbatasan langsung dengan Provinsi South Cotabato dan Davao del Sur.

Sarangani dipengaruhi oleh budaya asli ‘Muna'To’ (orang pertama), serta tradisi Islam dan India sebelum masa kolonial.

Tokoh terkenal di kawasan ini adalah petinju legendaris Manny Pacguiao, sekaligus kini aktif sebagai politisi.

 

HANGAT: Diundang berkunjung ke Kantor Kadin Davao, diabadikan bersama Ketua dan pengurusnya. (foto:dok-hp)
HANGAT: Diundang berkunjung ke Kantor Kadin Davao, diabadikan bersama Ketua dan pengurusnya. (foto:dok-hp)

Karena sudah malam usai makan sore, kami diberi waktu istirahat. Besok paginya setelah sarapan, langsung jalan. Kira-kira sejam jalan darat dari Davao. Kami menelusuri kawasan perkampungan yang dihuni WNI asal Nusa Utara. Umumnya mereka sudah tinggal di kawasan itu lebih dari 20-an tahun. Beberapa anak mereka bahkan sudah lahir di sana. Tapi tetap memegang paspor Indonesia. Setengahnya pakai paspor, selebihnya masih pegang Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP). 

Mereka menguasai tiga bahasa. Indonesia, bahasa ibu (Siau, Sangihe dan Talaud), dan tentu saja Bahasa Tagalog. Beberapa bahkan sudah mahir berbahasa Inggris. Sebab, Filipina menerapkan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua setelah Tagalog.

Seharian di tempat itu tentu saja kami prihatin. Rumah mereka rata-rata masih gubuk. Beberapa bahkan tidak memiliki dinding. Terbanyak menghuni perbukitan sekitar Sarangani. Lalu kenapa jika hidup di sana dengan tinggal di gubuk masih mau bertahan? Tidak pulang saja ke tanah air? Jawaban mereka beragam. Tapi, inti yang kami tangkap adalah kenyamanan. Pemerintah Sarangani tidak membebani para WNI itu dengan tagihan rupa-rupa. Asal patuh saja dengan aturan setempat, aman. Nah, mereka ini kebanyakan nelayan. Ada nelayan pekerja, ada nelayan mandiri. Nelayan pekerja adalah yang bekerja di salah satu kapal penangkap ikan milik perusahaan setempat. Nelayan mandiri, punya perahu kecil dan atau sewaan, menangkap ikan dengan memancing. Nelayan pekerja diberi jatah ikan sesuai kerjanya. Lalu dijual. Nelayan mandiri, hasil tangkapan mereka dijual pula. Ke tempat semacam pelelangan ikan. Lalu duitnya ditabung. Ambil secukupnya untuk makan sehari-hari dan keperluan lain. Tabungan itu setiap bulan dikirim ke keluarga di Sitaro, Sangihe dan Talaud. Semacam pejuang devisa juga sih, walau dalam jumlah relatif kecil. Komunitas Nustar lain ada juga yang bekerja di pabrik-pabrik yang bertebaran di Davao, Sarangani dan sekitarnya.  

KOTA KEMBAR: Depan Patung Samratulangi di General Santos City, sebagai Sister City dengan Kota Bitung, Sulut. (foto:dok-hp)
KOTA KEMBAR: Depan Patung Samratulangi di General Santos City, sebagai Sister City dengan Kota Bitung, Sulut. (foto:dok-hp)

‘’Jumlah mereka kira-kira lebih dari 250 kepala keluarga dengan jumlah jiwa sekira 1500-an (data di bawah tahun 2005. Data saat ini belum up to date). Banyak yang mudik ke Indonesia jika natalan dan tahun baru tiba. Baliknya itu bisa sampai 2000-an orang,’’ terang salah satu staf Konjen Davao yang menjadi guide kami. Dia ini juga dosen di Universitas Davao, yang maaf tidak enak namanya ditulis. Asalnya Jawa Timur. Kalau pulang ke Indonesia, pasti lewat Manado, lalu terus ke Surabaya. ‘’Minimal lebaran pulang. Karena baru itu dapat cuti,’’ terangnya. Sekali lagi, kisah ini sudah sekira 20 tahun lalu.

Sehari berinteraksi dengan warga Nustar di Sarangani, besoknya kami mengikuti acara pokok Kadin Sulut. Yang sedang menjajaki kerjasama dengan Kadin Davao dan General Santos (Gensan). Sehari full di Davao, besoknya ke Gensan. Jarak Davao ke Gensan kira-kira setara Manado-Kotamobagu. Waktu tempuh pun hampir sama, 3-4 jam.

Di sinilah muncul ketegangan lain. Ternyata antara Davao dan Gensan berlaku semacam darurat militer. Juga jam malam. Kendaraan umum dan pribadi, termasuk turis hanya boleh melintas antara jam 6 pagi sampai jam 6 sore. Setelahnya, sebaiknya urungkan.

Kami ke Gensan menumpang sejenis mobil hi-ace (orang Manado bilang oto hais) tapi punya kabin lebih luas. Lupa merk mobilnya. Seorang sopir, seorang security dan seorang staf Konjen menemami kami bertiga ke Gensan. Ada sekira 10 pos pemeriksaan tentara yang harus dilewati. Wajib berhenti. Karena ditanyai pria-pria loreng lengkap dengan senjata laras panjang. Jalan dipagari kawat berduri. Jika dinyatakan aman, blockade kawat berduri dibuka, boleh terus. ‘’Masih ada darurat militer kote’ di sini kang.’’ Om Ferry menimpali setengah berbisik ketika harus berhenti untuk pemeriksaan. Tiba sekira pukul 11.00 waktu setempat (Jam Filipina Selatan sama dengan WITA).

Ikut meeting, lanjut makan siang dan mengunjungi pelabuhan peti kemas di dermaga Pelabuhan Gensan. Saya terkejut, ternyata pelabuhannya lebih besar dibanding Pelabuhan Samudra Bitung. Fasilitas pun relatif lebih lengkap. Kok mereka bisa selangkah lebih maju ya? Keasikan mengikuti acara, tiba-tiba security mengingatkan bahwa jam sudah menunjuk pukul 14.30. Artinya, waktu kami tinggal setengah jam di Gensan jika harus balik ke Davao.

 

NONGKI DI WARKOP DAVAO: Kebiasaan ngopi tetap bisa dilakukan di sela tugas liputan di Davao, meski tanpa asap rokok. (foto:dok-hp)
NONGKI DI WARKOP DAVAO: Kebiasaan ngopi tetap bisa dilakukan di sela tugas liputan di Davao, meski tanpa asap rokok. (foto:dok-hp)

 

Pak Dino Vega, Kadin Sulut lalu meminta kami segera balik ke Davao. Jangan sampai lewat jam malam. ‘’Adoh, musti pasang kuda-kuda ini. Kalo sampe lewat jam malam, alamat torang tidor di pos tentara,’’ begitu almarhum Om Ferry melontarkan nada khawatir. Staf Konjen lalu menenangkan kami. ‘’Asal bersikap santai jika diperiksa, pasti aman. Dan paling penting sekira jam 5 sore sudah melewati perbatasan,’’ katanya menjelaskan situasi itu kepada kami. 

Soal ini nanti saya jelaskan di bawah. Saya takjub sebab 20 tahun silam, jalanan jarak jauh di Filipina sudah semulus beton. Bandingkan jalan antara Manado-Kotamobagu era itu, masih banyak yang aspal halua (istilah untuk jalan aspal batu kuala zaman itu). Padahal Mindanao Selatan itu daerah konflik.

Soal ini sudah pernah saya tulis waktu tiba di Davao di dimuat berseri di Manado Post awal 2000-an.

Sekadar referensi, wilayah antara Kota Davao dan Gensan (terutama wilayah Davao del Sur, Sarangani, dan South Cotabato) secara tradisional dikuasai suku Blaan (orang setempat menulis B'laan) dan suku Tagakaulo.

Ada juga kelompok etnis asli (Lumad) yang mendiami koridor wilayah tersebut.

Suku Blaan salah satu kelompok masyarakat adat mayoritas di wilayah perbatasan antara Davao del Sur, Sarangani, South Cotabato, hingga sekitar General Santos City. Mereka terbagi lagi menjadi beberapa sub-kelompok berdasarkan wilayah tempat tinggal. Seperti dataran tinggi, dataran rendah, maupun wilayah pesisir.

Suku Tagakaulo, secara harafiah berarti ‘orang yang tinggal di hulu sungai’ (tagolo berarti hulu, olo berarti kepala/sumber air). Mereka penduduk asli yang mendominasi wilayah perbukitan dan pesisir di kawasan Davao Occidental dan wilayah selatan Davao del Sur yang mengarah ke General Santos.

Suku Bagobo (gabungan Bagobo-Tagabawa) memiliki wilayah kekuasaan yang membentang dari lereng Gunung Apo di Kota Davao hingga turun ke arah selatan menuju Davao del Sur dan perbatasan South Cotabato.

Selain kelompok masyarakat adat (Lumad) tersebut, kawasan pesisir di koridor ini juga dihuni oleh suku Kagan (kelompok Muslim lokal), suku Sangil/Sangir (etnis maritim keturunan Kepulauan Sangihe, Indonesia), serta mayoritas populasi modern saat ini yang didominasi oleh para pemigran Kristen asal Visayas (khususnya suku Cebuano dan Ilonggo).

Lalu kenapa harus ada jam malam? Ternyata ada konflik dan gesekan kelompok-kelompok itu dengan tentara pemerintah Filipina. Mereka mengklaim malam hari hak mereka. Cukup siang hari dijaga tentara. Saat ke Mindanao Selatan, itu Wali Kota Davao sedang dijabat Rodrigo Duterte. Kelak ia jadi Presiden Filipina periode 2016-2022.

Duterte menjabat Wali Kota Davao sejak 2001 hingga 2010. Dia terkenal dengan penerapan tembak di tempat buat gerbong narkoba jenis apapun. Tanpa ampun (kini dia dituntut sebagai pelanggaran HAM atas kebijakan itu oleh Belanda). Bahkan para perokok pun dibatasi. Di hotel hanya disediakan tempat merokok di dempetan pos

security berukuran 1,5 x 1,5  meter. Hanya muat maksimal tiga-empat orang. Jangan harap ada smooking area di dalam hotel. Juga bangunan apapun di sana. Yang lebih ekstrim, terminal bus antar kota pun berlaku hal yang sama. Di terminal tersedia tempat merokok 2x2 meter. Lucu juga, karena jika hendak merokok maka harus antri. Saya dan Raymond kebetulan merokok. Sebelum-sebelumnya, saban ke Davao, saya sering berkelakar dengan Dino Gobel, teman kerja di Manado Post zaman itu. Berani ke Davao, berani puasa rokok. Dan saat liputan bertiga Om Ferry, saya dan Raymond masih berlaku hal serupa. Pokoknya puasa merokok. Jika pun sudah kebelet, turun ke dekat pos satpam di hotel tempat menginap. Dan, tentu saja antri.

Almarhum Om Ferry tidak merokok. ‘’Rasanya udara di sini jauh lebih sehat dibanding Manado. Manado so asap knalpot oto, kong kalo ka rumah kopi punung deng asap rokok.’’ Di Davao, tempat ngopi sekalipun diterapkan aturan merokok dalam boks ukuran maksimal 2x2. Saya dan Raymond lebih suka pesan kopi dalam cup, lalu dibawa keluar, ke boks merokok di situ, sambil nyeruput kopi. Harus berdiri karena tak disediakan tempat duduk.  

Sehebat-hebatnya Duterte memimpin Davao hingga jadi Presiden Filipina, dia tak bisa menaklukan suku-suku dan kelompok yang menghuni antara Davao dan Gensan itu. Jalan tengah dia berikan. Mereka diberi jatah kursi di parlemen. Di masing-masing kawasannya, termasuk parlemen di Kota Davao dan Gensan City.

Dia hanya sukses negosiasi penerapan ‘jam berkuasa’ antara tentara pemerintah dengan kelompok-kelompok itu, yang ternyata juga bersenjata.

Kembali ke perjalanan pulang dari Gensan menuju Davao, kami terjebak jam malam sekira satu jam lagi tiba di Davao. Pada pos ketujuh sebelum Davao, tentara yang menjaga pos itu memeringatkan bahwa, jika sudah lewat jam 6 sore, sudah bukan tanggungjawab mereka.

Blep! Kami bertiga saling tatap. Tapi, raut wajah staf Konjen saya tengok biasa saja. Lalu lihat raut wajah security, juga biasa saja. Hanya, kami diminta untuk duduk di tengah dan agak merebahkan diri, minimal rata dengan kaca depan dan samping.

Si sopir, staf Konjen dan Security ternyata sudah mengeluarkan senjata. Jenis pistol. Siap dalam genggaman. Dan jari telunjuk di pelatuk. Laju mobil, yang tadinya cuma 100/km per jam, digeber hingga 140/km per jam. Mata kami bertiga nanar tengok spedo meter yang sudah melampaui batas psikologis laju kendaraan jalan Trans Sulawesi di Sulut.

Lampu depan dobel. Pakai holden. Ditambah lampu sorot di belakang, dan lampu sorot di dek. Mirip sekali dengan mobil truk pengangkut barang yang biasa bersua tengah malam di jalanan trans Sulawesi.

‘’Asal jangan mendongakkan kepala melewati kaca mobil, in Shaa Allah aman,’’ kata si staf Konjen. Saya yang tadinya belum berasa pipis seperti sudah kebelet pipis. Kami pasrah. Saya sibuk melafal surat dan ayat-ayat pendek dalam Alquran. Raymond dan Om Ferry juga sibuk berdoa dengan tangan terkatup rapat. Meski kami bertiga larut dalam doa masing-masing, dalam situasi tegang itu, saya hampir tergelak. Soalnya, Raymond sempat salah menyebut doa Dalam Nama Yesus. Tidak usah saya tulis keselo lidahnya itu, nanti bisa jadi urusan jika bersua. Saya pasti dituding membocorkan rahasia negara kami bertiga soal kepeleset lidah di tengah ketegangan perjalanan itu. Setidaknya, dalam situasi yang tak kami pahami kondisinya, ada percikan senyum dan sikutan kecil Om Ferry. Rupanya dia pun nyaris pecah tawa dengar Emon, panggilan akrab Raymond Pasla, wartawan Komentar dan Koran Metro, yang ‘tapalisi lidah’. Mungkin saking gugupnya dalam situasi demikian.  

Saya penasaran, apa sebetulnya yang ada di jalan sehingga kami disuruh tiarap di bawah garis kaca mobil? Sempat mau mendongak, tapi gelagat saya diketahui security. ‘’Sebaiknya jangan nekat Pak. Agar kita tak dicegat.’’ Oh, rupanya mulai jam 6 sore sudah terjadi pergantian shif jaga. Bukan lagi tentara pemerintah Filipina tapi sudah kelompok bersenjata itu yang menguasai jalan.

Kami tidak dicegat, diberi jalan, tapi tetap melambat dan berhenti sejenak jika tepat di pos jaga. Di situ lampu sorot pos jaga menerpa mobil. Yang tampak hanya sopir dan security di kursi depan, serta staf Konjen di kursi kedua. Dia duduk di pintu sebelah kanan. Maklum Filipina menerapkan setir kiri, dan lajur kendaraan di kanan.

Tiga pos yang kami lewati Alhamdulillah Puji Tuhan mulus. Kelompok bersenjata itu untungnya tidak memeriksa sambil melongok ke dalam mobil. Hanya menyorot bodi kanan dan mengira penumpangnya hanya tiga orang. Sebab, kepala kami bertiga memang terbenam di jok yang sudah dibaringkan di bawah ukuran kaca samping dan depan. Saban lewat pos, yang terdengar cuma: Go Friend, Thank You, enjoy your trip! Tandanya mempersilakan mobil jalan terus. Kenapa mereka bertiga tidak diperiksa? Si sopir berseragam abu-abu. Ada beberapa logo di lengan bajunya. Itu tanda bahwa mobil ini mengangkut orang yang diantar ke Gensan. Si Security tentu saja dengan seragamnya. Lalu staf Konjen dengan bendera merah putih dan logo Konjen RI Davao di lengan kemeja. Itu adalah penanda dan salah satu isi kesepakatan Wali Kota Duterte dengan kelompok ini untuk tidak menggeledah staf Konjen Indonesia di Davao maupun yang ditugaskan ke Gensan.

Oh, pantasan saja kami bertiga disuruh tiarap. Baru tahu saya.

Hanya sekira 45 menit, tapi perasaan kami melewati tiga pos itu seperti sehari penuh lamanya. Barulah ketika masuk pintu gerbang Davao City, kami diminta menegakkan lagi jok mobil. Si sopir, security dan staf Konjen menjabat tangan kami bertiga sambil mengucap: ‘’Terima kasih, kalian sudah mau menuruti dan bekerjasama dengan amat sempurna. Apabila satu saja yang nekat mendongakkan kepala, mungkin kita akan bermalam di salah satu pos itu,’’ terang security dengan bahasa Inggris campuran dikit Tagalog.

Setibanya di hotel, kami bertiga langsung ngelonjor di lobi. ‘’Biar jo banyak korupsi di Indonesia, asal nyanda hidop rupa di Filipina ini. So zaman bagini do’ kong masih pake jam malam. Bukang main depe tegang. Untung torang tiga nyanda kena’ darah tinggi,’’ ucap Om Ferry sambil berseru: Haleluyah.

Jadi, inti kisah ini adalah, bahwa siang hari jalan itu milik tentara Filipina, malamnya milik beberapa suku dan kelompok yang ditulis di atas itu, dan mereka pun lengkap dengan sejata laras panjang, pistol dan lainnya.

Jika ada penumpang di luar ketentuan dalam isi perjanjian dengan Duterte? Akan ditahan hingga pagi tiba. Dan wajib bayar denda. Saya lupa jumlahnya, tapi jika dirupiahkan ada bunyi jutanya.

Jika melawan? Bisa jadi tawanan. Dan untuk membebaskan itu, akan melibatkan pemerintah dua negara. Yakni diplomasi Konjen dan Kedubes di Manila, Kementrian Luar Negeri di Jakarta, ditambah dua wali kota, Davao dan Gensan. Termasuk Gubernur Provinsi Sarangani, South Cotabato.

Duh, ribet, rumit dan rawan ternyata bila kami bertiga coba iseng mendongakkan kepala saat pemeriksaan di pos. Untung kami bisa menahan diri.

Sekelumit kisah ini saya ceritakan kembali setelah sempat saya tulis sebagai laporan liputan langsung acara Kadin Sulut dan bersambung di Manado Post awal 2000-an silam, sekembalinya kami ke Manado usai tugas liputan menegangkan itu.

Oh iya, hampir lupa, eks Gubernur Sulut, mendiang Sinyo Harry Sarundajang (SHS) adalah teman akrab Rodrigo Duterte. Pada perjalanannya, usai lepas jabatan Gubernur, SHS ditunjuk sebagai Duta Besar RI untuk Filipina oleh Presiden Joko Widodo. Hingga ia wafat dalam tugas negara itu. Sebagai catatan pula, Gensan dan Bitung zaman itu jadi sister city (Kota Kembar). Di Bitung ada patung tokoh pahlawan Filipina, di Gensan ada patung Samratulangi. Apakah kerjasama Kota Kembar itu masih berjalan hingga kini, saya sudah tak tahu.  

Saya kagum dengan kegigihan Om Ferry. Dia bisa mewawancarai sumber berita sambil menyorot kamera besar yang diletakkan di pundaknya (belum seperti kamera mini saat ini). Kala itu dia adalah Pemimpin Redaksi Televisi Manado (TVM). Saya dan Emon bantu pegang mike-nya.    

Kami belakangan banyak berinteraksi di WAG Justisia Societas (JS). Bagi saya, mendiang Om Ferry tidak sekadar senior, teman se profesi, tapi sudah seperti paman sendiri. Makanya saya lebih karib memanggilnya Om Ferry. Lama tak bersua, tapi intensitas komunikasi kami rutin di WAG JS.

Sebelum aktif komunikasi di WAG JS, sekira 2020 ke bawah, kami masih sering bersua di salah satu rumah kopi di bilangan Sario. Selalu saja kenangan di Davao-Gensan yang jadi topik diskusi sambil ngakak. Apalagi jika Emon turut gabung. Saya beruntung masih menemukan beberapa lembar foto kenangan liputan di Davao itu.

Meski sudah sepuh, Om Ferry tak sepenhnya pensiun di dunia wartawan. Selain makin giat di acara keagamaan dan pelayanan gereja., ia masih aktif di manajemen salah satu penerbitan. Namun di sisa umurnya, almarhum banyak membaktikan diri melayani Tuhan.  

Selamat jalan orang baik. Tuhan menyambutmu di Surga. Buat keluarga Om Ferry, semoga diberi penghiburan sejati.

                                                      *****

Agar lebih detail siapa sosok sederhana, bersahaja dan amat friendly ini, saya minta izin menyontek profil almarhum yang ditulis teman sesama member di WAG JS.

Lahir 3 Maret 1956 di Kawangkoan, Minahasa, sebuah daerah yang melahirkan banyak pemimpin, cendekiawan, dan pejuang bangsa. Ferry tumbuh dalam keluarga sederhana namun kaya nilai perjuangan, integritas, dan spiritualitas kerja keras.

Ayahnya, Joost Adrian Rende, adalah seorang pekerja serba bisa: memulai kehidupannya sebagai tukang kayu, kemudian beralih menjadi tukang jahit, sambil tetap menjadi petani untuk menafkahi keluarga. Dari sang ayah, Ferry belajar arti ketekunan, disiplin, dan kehormatan dalam kesederhanaan.

Ibunya, Juliana Mioyo, lahir di Ayamaru, Papua Barat Daya pada era pra-kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan putri dari Gerard Mioyo, seorang prajurit KNIL yang meski hidup di masa kolonial, dikenal memiliki kecintaan besar pada cita-cita Indonesia Merdeka. Ibunda Juli -panggilan akrabnya- tertular budaya kerja keras dan konsisten karena hingga 80an tahun almarhumah masih menekuni profesi tukang jahit baju.

Juli wafat usia 82 tahun pada 12 Desember 2021. Dari jalur ibu inilah Ferry mewarisi jiwa kerja keras, disiplin dan konsistensi serta kepekaan patriotik yang berakar kuat pada sejarah.

Dari garis ayah, semangat itu semakin kokoh. Opa-nya, Festus ‘Kopral’ Rende, juga seorang prajurit KNIL yang dianugerahi Bintang Aceh, sebuah penghargaan bagi para prajurit yang ikut menjaga keutuhan NKRI di Daerah Istimewa Aceh.

Latar dua opa prajurit ini menjadikan jiwa bela negara Ferry sebagai sebuah warisan generasi—bukan hanya pilihan pribadi.

Pendidikan dan Pembentukan Karakter

Ferry menempuh pendidikan dasar di SD GMIM Leilem, kemudian melanjutkan ke SMP Kristen Leilem, dan selanjutnya ke jurusan Tata Niaga (Marketing/Pemasaran) di SMEA Kristen Kawangkoan. Pendidikan menengah ini memperkenalkannya pada dunia ekonomi dan kewirausahaan yang kelak membantunya dalam profesi mengajar dan jurnalistik.

Kemudian pada tahun 1975, Ferry diterima sebagai mahasiswa Jurusan Ekonomi Perusahaan pada Fakultas Keguruan Ilmu Sosial (FKIS) di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri Manado. Ferry menyelesaikan seluruh proses akademik, namun tidak mengikuti ujian akhir dan wisuda. Meski tidak memperoleh ijazah formal, predikat Bachelor of Arts (BA) tetap melekat padanya, sekaligus menunjukkan bahwa ilmu yang ia dapatkan jauh lebih bermakna dibanding sekadar dokumen akademik.

Pengabdian sebagai Pengajar

Sejak masih mahasiswa, Ferry sudah aktif menjadi pengajar di berbagai sekolah swasta. Ia mengajar di lingkungan Yayasan Pendidikan Kristen El Fatah Manado, mengampu pelajaran di SMP, SMEA, dan SMA. Ia juga mengajar di SMA Kristen Bethesda Manado dan sejumlah sekolah lain, menjadikannya sebagai pendidik muda yang dikenal cerdas, komunikatif, dan berdedikasi.

Kepercayaan yang lebih besar datang dari Ketua Yayasan El Fatah, Drs. E.A.W. Possumah, yang menunjuk Ferry sebagai Pelaksana Kepala Sekolah SMP Kristen El Fatah Manado. Di usia yang masih muda, Ferry telah menunjukkan kapasitas kepemimpinan dan manajerial yang matang.

Di kampus sendiri—di Fakultas Pendidikan IPS IKIP Manado—ia pernah menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Ilmu Pemasaran, sebuah peran yang mempertebal fondasi akademik dan kemampuan analitisnya.

Pernah pula menjadi tim penginjilan pada Yayasan Literatur Kristen Indonesia (YALKI) untuk mengabarkan Injil Yesus Kristus di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Untuk aras gereja, pernah menjadi pelayan khusus sebagai Syamas atau Diaken di lingkungan GMIM Kristus Manado dengan jabatan Ketua Komisi Literatur. Tugas pokok komisi ini adalah mengelola Toko Buku Gamaliel serta Perpustakaan GMIM Jemaat Kristus Manado.

Masih di lingkungan gereja ini, pernah selaku Wakil Ketua Komisi Pelayanan Kategorial Pria/Kaum Bapa; dan dua kali menjadi Sekretaris Komisi Animatea. Komisi yang mengelola Taman Pekuburan Arimatea milik GMIM Jemaat Kristus di Kayuwatu Manado. Pimpinan gereja juga mempercayakan kepada Ferry menjadi aktifis kepanitiaan seperti Sekretaris Panitia Hari Ulang Tahun ke -50 dan pada momentum yang sama, Ferry dipercayakan menulis serta mengedit  Buku 50 Tahun GMIM Jemaat Kristus Manado yang terbit tahun 2012.

Pengabdian Bela Negara

Puncak pembentukan watak patriotiknya terjadi ketika ia aktif di Komando Resimen Mahasiswa (Menwa)  Sam Ratulangi atau Mahasamra pada 1978–1979. Di sinilah negara memanggil. Ferry ditugaskan sebagai sukarelawan ke Timor Timur, sebuah kehormatan yang hanya diberikan kepada putra-putra bangsa terpilih yang memiliki disiplin, mental baja, dan loyalitas tinggi.

Medio hingga akhir 1979, Ferry menjadi Siswa Kursus Kader Pimpinan (Suskapin) Resimen Mahasiswa se Indonesia di Jakarta dan Jawa Timur (khusus pelatihan tempur lapangan dan survival di Hutan Lawang).

Atas keberanian dan dedikasinya di daerah operasi Timor Timur, Ferry dianugerahi SATYA LENCANA SEROJA, diserahkan oleh Menhankam/Pangab Jenderal M. Jusuf atas nama Presiden Republik Indonesia ke-2, Jenderal Besar H.M. Soeharto.

Setiap pejuang di daerah Timor Timur yang memperoleh Bintang Satya Lencana Seroja dalam proses keanggotaan Legiun Veteran Republik Indonesia.

Penghargaan itu menegaskan bahwa Ferry bukan hanya penulis yang mengisahkan perjuangan—ia sendiri adalah bagian dari perjuangan itu.

Karier Jurnalistik dan Dunia Media

Setelah masa tugas negara dan pengabdiannya di dunia pendidikan, Ferry mengambil keputusan penting: beralih sepenuhnya menjadi jurnalis profesional. Pilihan ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan jiwa untuk berada di baris depan penyampaian informasi, dokumentasi sejarah, dan pembelaan nilai kebenaran.

Ia menorehkan perjalanan panjang di berbagai media nasional dan daerah, antara lain:

Berawal dari Harian Cahaya Siang di Manado atas ajakan jurnalis Dr. Jeffrey Rawis

Jawa Pos di Surabaya dan perwakilan Jakarta yang dituntun langsung Bos Jawa Pos, Dahlan Iskan.

Harian Gala Bandung dan Media Indonesia perwakilan Jawa Barat lalu kemudian ditarik ke kantor pusat Gondangdia Jakarta pada tahun 1983.  Harian Media Indonesia merupakan milik Surya Paloh, pengusaha dan politisi.

Indonesian Observer, Harian Mandiri, Mandiri Online (www.mandiri.com), SwaraTV sebuah media yang khusus meliput menyiarkan setiap kegiatan di dalam lembaga legislatif yaitu DPR dan MPR RI di kawasan Senayan Jakarta.

Ikut membidani kelahiran Lembaga Penyiaran Televisi Swasta Lokal pertama di Indonesia Timur khususnya Sulawesi Utara yaitu Televisi Manado atau TVM. Selain selaku Pemimpin Redaksi, para pemegang saham memberikan kepercayaan kepada Ferry menjadi Direktur Utama PT Televisi Sejahtera Manado.

Setelah dari TVM kembali ke Jakarta bersama Audrey Tangkudung mengelola Tour & Travel TV. Sebuah televisi khusus bernuansa Pariwisata Indonesia. Siaran ini terpantau melalui kanal televisi berbayar Indovision milik Peter Gontha.

Kembali lagi ke Manado ketika diajak Dr. Jusak Kereh sang pemilik televisi swasta lokal lainnya yaitu menjadi Pemimpin Redaksi pada Pacific TV Manado.

Di setiap media, Ferry dikenal sebagai jurnalis dengan ketajaman analisis, keberanian berpendapat, serta kepedulian besar pada isu-isu sosial, politik, dan sejarah perjuangan bangsa.

Memimpin Ziarah ke Hollyland

Jedah dalam kegiatan penyiaran televisi, Ferry diajak Ronny Tambayong (kini almarhum), seorang pemilik  travel di Jakarta PT Hidup Makmur Terencana (HMT). Perusahaan perjalanan ini khusus melayani peziarah ke Tanah Suci atau Holyland (dengan tujuan Mesir, Israel, Turki, Yordania dll).  Ferry pun bergabung dan dipercayakan mengepalai Kantor Perwakilan Manado Sulawesi Utara.

Untuk pertama kalinya pada November 2014 Ferry dipercayakan oleh HMT memimpin rombongan peziarah rohani asal Sulawesi Utara, NTB, NTT, dan beberapa orang dari Jakarta. Rombongan  kembali dengan selamat dan penuh sukacita untuk berniat kembali lagi.

Akhirnya niat itu terulang. Pada November 2017, pengelola HMT mempercayakan Ferry kembali memimpin peziarah. Kali ini, rombongan yang Ferry pimpin sempat nginap semalam di Dubai sebelum lanjut ke Mesir, Israel dan berakhir di Yordania. Seperti sebelumnya, lama perjalanan adalah 12 hari. Pengalaman rohani yang luar biasa.

Staf Khusus Penjabat Gubernur di Tiga Provinsi

Pengalaman baru kembali Ferry rasakan. Ini juga unik. Terjadi pada kurun waktu 2015/2016; 2016/2017 dan 2018.

Seorang pejabat Eselon 1 (Satu) di Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia yaitu Dr. Soni Sumarsono, Direktur Jenderal Otonomi Daerah mengajak Ferry untuk menjadi advisornya.

Rupanya Sumarsono telah memegang surat keputusan atau SKep atau SK Presiden RI Joko Widodo. Yaitu SKep tentang pengangkatan Sumarsono selaku Penjabat Gubernur Provinsi Sulawesi Utara.

SKep itu muncul karena masa jabatan Gubernur Sinyo Harry Sarundajang (2005-2010 dan 2010-2015) telah berakhir dan Sumarsono ditunjuk sebagai penjabat pengganti.

Tugas Sumarsono ada tiga yaitu Satu, memastikan penyelenggaraan pemerintahan di Sulawesi Utara berjalan baik; Kedua, memastikan pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah berjalan aman, lancar dan sukses serta; Ketiga, memastikan keamanan dan ketertiban umum di Sulawesi Utara kondusif.

Guna mewujudkan tiga tugas pokok dan misi pemerintah pusat kepada Sumarsono, maka dia memerlukan seseorang yang mampu menjadi staf khusus beliau di bidang Komunikasi Publik dan Politik.

Tahu bahwa Ferry Rende memiliki keahlian kemampuan serta pengalaman mumpuni pada bidang komunikasi publik, Sumarsono mengundang Ferry ke Jakarta dan bertemu di suatu tempat. Setelah berdiskusi singkat, Sumarsono mengangkat Ferry untuk menjadi Advisornya dengan Surat Keputusan pada jabatan Staf Khusus Gubernur.

Bersyukur setelah dijalani selama enam bulan dengan sukses Sumarsono memboyong Ferry menjadi Staf Khusus Direktur Jenderal Otonomi Daerah di Kemendagri.

Pada Oktober 2016, tatkala Sumarsono kembali dipercayakan menjadi pelaksana Gubernur DKI Jakarta, Ferry pun diajak untuk posisi yang sama Staf Khusus Bidang Komunikasi Publik dan Politik.

Saat itulah Ferry menulis tiga buku. Isi buku mengulas secara detil setiap aktivitas, keputusan serta kebijakan Sumarsono selaku pelaksana Gubernur. Gubernur DKI Jakarta sesungguhnya adalah Basuki Tjahaja Purnama atau populer dengan sapaan Ahok. Ahok yang harus cuti dua kali karena menjalani proses kampanye Pilkada DKI Jakarta, wajib cuti dan selama Ahok cuti, Sumarsono juga dua kali atau dua tahap menjadi pelaksana Gubernur DKI Jakarta. Akhir 2016 dan awal 2017. Sumarsono mampu emban tugas, Ferry pun dinilai mampu menjadi staf pendamping.

Belum selesai. Pada Medio 2018, Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Tjahjo Kumolo atas nama Presiden Rl Joko Widodo kembali melantik Sumarsono selaku Penjabat Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan di Makassar.

Demi suksesnya tiga tugas pokok seperti di Sulawesi Utara dan DKI Jakarta, Sumarsono tak luput kembali memberikan kepercayaan penuh kepada Ferry untuk mendampingi.

Pengalaman selama di tiga daerah berbeda karakter itu,  Ferry ternyata tidak hanya menjadi Staf Khusus bidang Komunikasi Publik dan Politik tetapi juga membuat perencanaan agenda harian gubernur.

Guna memudahkan koordinasi dengan Sang Gubernur yang juga Kepala Daerah itu, maka Ferry diminta Sumarsono untuk domisili di rumah dinas gubernur. Baik di Manado, Jakarta maupun Makassar sama. 

Karya Buku

Ada 6 (enam) buku yang Ferry persembahkan buat Sumarsono. Satu di Sulawesi Utara, tiga di Jakarta, dua di Sulawesi Selatan.

Karya penting ini demi  memperkaya literatur kepemimpinan

Selain itu, Ferry menjadi editor buku “Episode Kehidupan Theo L. Sambuaga: Pemikir Pejuang - Pejuang Pemikir Berkarya bagi Bangsa”, sebuah karya biografis tokoh nasional asal Sulawesi Utara yang ia garap dengan ketelitian dan wawasan sejarah.

Terakhir Ferry sedang berkontribusi dalam penulisan Biografi SD Mais Wuisan, tokoh penting Peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946—membuktikan bahwa Ferry tidak hanya mencatat sejarah, tetapi ikut menjaga keberlanjutannya.

Aktivisme dan Kiprah Organisasi

Sepanjang hidupnya, Ferry aktif dalam berbagai organisasi, antara lain:

Pengurus Senat Mahasiswa, Dewan Mahasiswa, NKK BKK sewaktu masih mahasiswa IKIP Manado

Wakil Komandan Batalion 2/IKIP, Asisten Teritorial dan Kepala Staf Komando Resimen Mahasiswa Sam Ratulangi atau Mahasamra.

Tiga kali Sekretaris Dewan Pimpinan Provinsi Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa (IARMI) Sulawesi Utara, tetapi juga pernah menjadi salah satu Ketua pada Dewan Pimpinan Nasional IARMI semasa Ketua Umum Agustomo. Terakhir Wakil Sekretaris Bidang DPN IARMI era Ketum Zulkifli Hasan dan Sekjen A. Riza Patria.

Pernah Ketua Komisariat GMKI FKIS IKIP Manado

Koordinator Wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo pada Ikatan Alumni Satgas Menwa Seroja Timtim

Menjadi salah satu deklarator pembentukan Ormas NasDem di Sulawesi Utara

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Pengusaha Desa Indonesia (APEDI) Sulawesi Utara

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Penerus Perjuangan Merah Putih (GPPMP) Sulawesi Utara dengan Ketum Dr. Jeffrey Rawis SE, MA

Salah satu Ketua Dewan Pimpinan Nasional Perjuangan Semesta Nusantara (PSN) dengan Ketum Dr. Ir. Rio Sumual, MTh

Melalui organisasi-organisasi tersebut, ia terus menyebarkan nilai-nilai sosial kemasyarakatan, patriotisme, kebangsaan, dan pentingnya melestarikan semangat perjuangan bagi generasi muda.

BIODATA KELUARGA FERRY

Nama istri: Dr. Dra. Grace Jenny Soputan, MSi pensiunan dosen di FEB UNIMA Tondano.  

Anak dan Cucu:

Army Wempie, Adolf Rende, menantu Viane Wullur

m. Cucu-cucu: Vellycia Abigael Rende, Kenzeva Rende, dan Kevin Mozes Rende.

Jufry Navy Johanes Rende, menantu Marcella Katuuk (almarhumah). Cucu-cucu: Milane Youla Rende, Jake Christopher Alzheimer Rende.

Maestry Pingkan Rende, menantu David Paparang. Cucu: Faith Lemuel Lie

Adik kandung: Jack Rende (almarhum), Wansye Rende, Jhon Gagarin Rende dan Daniel Rende (almarhum)

Sosok Patriot, Jurnalis, dan Penjaga Ingatan Bangsa

Dari keluarga patriot, dari tugas negara, dari ruang kelas, dari meja redaksi, hingga dari lembaran-lembaran sejarah yang ia tulis—Ferry Boy Marthin Rende adalah sosok yang mengabdikan hidupnya bagi bangsa dengan cara-cara yang paling hakiki.

Ia adalah patriot yang pernah berdiri di garis depan, pendidik yang membentuk karakter, jurnalis yang menjaga nurani publik, dan penulis yang menyalakan api ingatan kolektif bangsa.(catatan hairil paputungan dan dari berbagai sumber:dbd/ryo/dbs/dth) 

Editor : Hairil Paputungan
Davao dan Generasl Santos Mindanao Selatan