Catatan Etnografi Perjalanan Mahyudin Damis di Timur Tengah
JAGOSATU.COM - Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika bus rombongan kami mendekati pos pemeriksaan Israel. Saya menyebutnya ngeri-ngeri sedap. Ada rasa ingin tahu, tetapi juga kegelisahan yang tumbuh dari berbagai berita dan gambar tentang konflik Israel-Palestina yang selama ini saya ikuti.
Sebagai orang Indonesia, saya datang dengan latar pandangan yang tidak bisa dilepaskan dari dukungan bangsa ini terhadap kemerdekaan Palestina. Kami juga datang dengan kerinduan untuk mengunjungi Masjid Al-Aqsa. Dua hal itu bertemu dalam perjalanan ini: kepentingan spiritual sebagai jemaah dan keingintahuan sebagai pengamat yang ingin memahami kehidupan masyarakat di wilayah yang sarat persoalan politik.
Ketika berhadapan dengan pemeriksaan perbatasan, pengetahuan yang selama ini tersimpan dalam berita terasa memperoleh bentuk yang lebih dekat. Kini bukan lagi sekadar membaca tentang perbatasan. Kami sendiri sedang mengalaminya.
Ketika Ketua Rombongan Dipanggil
Seorang petugas perempuan berseragam hitam meminta kehadiran Leader Tour. Ia tidak langsung memeriksa paspor saya. Perhatiannya tertuju kepada Bunda Fahmia Yusuf, ketua rombongan yang mewakili Ventour Travel.
Petugas meminta dokumen yang berkaitan dengan pimpinan rombongan. Kemudian muncul pertanyaan apakah ada barang yang dititipkan kepada ketua rombongan atau kepada sesama jemaah.
Bunda Fahmia lalu bertanya kepada kami, apakah ada yang menitipkan barang.
Jawaban rombongan terdengar serentak.
“Tidak!”
Bunda kemudian memperjelas pertanyaannya: apakah ada yang menitipkan senjata?
“Tidak!” jawab para jemaah lagi.
Tawa pun muncul.
Pertanyaan tentang senjata itu menjadi bagian yang paling membekas dalam ingatan saya. Ada sesuatu yang lucu dalam situasi tersebut, justru karena kata senjata muncul di tengah rombongan wisata religi yang datang untuk beribadah dan mengunjungi tempat-tempat suci.
Di balik kelucuan itu, ada pengalaman yang patut dicatat. Sebuah pertanyaan yang dalam keadaan biasa mungkin terdengar sederhana, di pos pemeriksaan dapat menghadirkan ketegangan. Kami tidak sepenuhnya mengetahui apa yang akan ditanyakan berikutnya atau bagaimana pemeriksaan akan berlangsung.
Bagi petugas, pemeriksaan merupakan bagian dari pekerjaan. Bagi kami, setiap pertanyaan terasa lebih berarti karena berlangsung di sebuah perbatasan yang memiliki sejarah konflik panjang.
Tegas, tetapi Tidak Selalu Menakutkan
Pengalaman di pos pemeriksaan juga tidak sepenuhnya sesuai dengan bayangan yang saya bawa sebelumnya. Petugas yang kami temui menunjukkan sikap tegas, tetapi ada pula keramahan dalam interaksi yang berlangsung.
Saya teringat seorang petugas Israel yang mengembalikan paspor saya sambil tersenyum dan mengucapkan, “Terima kasih.”
Peristiwa kecil itu tidak menghapus persoalan politik yang lebih besar. Namun, pengalaman tersebut mengingatkan saya bahwa interaksi manusia tidak selalu dapat dipadatkan ke dalam gambaran yang kita bangun dari konflik. Seorang petugas tetap dapat menjalankan prosedur dengan tegas, sekaligus menunjukkan kesopanan dalam perjumpaan langsung.
Saya mencatatnya sebagai pengalaman pribadi, bukan sebagai kesimpulan tentang semua petugas atau seluruh sistem pemeriksaan.
Sesudah pemeriksaan, rombongan melewati pemeriksaan sinar-X. Bus menunggu sekira dua ratus meter dari tempat kami keluar. Kami harus membawa sendiri koper besar, koper kecil, ransel, tas selempang, serta berbagai kaccu'-kaccu'.
Istilah kaccu'-kaccu' dalam keluarga kami merujuk pada barang-barang tambahan yang terkumpul selama perjalanan. Ada minuman, dabu-dabu, telur, obat-obatan, sandal, dan macam-macam barang lain yang ikut menambah isi koper. Barang-barang itu seakan memiliki kehidupan sendiri: terus bertambah, lalu menjadi bagian dari kerepotan perjalanan.
Di tengah suasana perbatasan yang serius, urusan mengangkat dan membawa semua barang itu menghadirkan persoalan yang sangat biasa. Perjalanan lintas negara ternyata juga berisi koper yang berat, tangan yang penuh, dan langkah yang harus disesuaikan dengan keadaan.
Alibaba dan Muhammad: Dua Pemandu, Dua Pengalaman
Dalam perjalanan ini, saya berjumpa dengan pemandu yang berbicara dari latar kehidupan berbeda. Alibaba adalah orang Mesir. Ia berasal dari sebuah negara merdeka, dengan pemerintahan dan wilayah negara yang menjadi kerangka kehidupan bernegaranya.
Muhammad, pemandu lokal kami di wilayah Palestina, menghadirkan kesan berbeda. Ia berulang kali menegaskan bahwa dirinya lahir dan besar di Yerusalem.
Pada awalnya, pernyataan itu dapat terdengar seperti informasi biasa tentang asal-usul seseorang. Namun, ketika diulang, kalimat tersebut menarik perhatian saya. Muhammad seperti sedang menegaskan hubungan pribadinya dengan kota itu. Yerusalem bukan sekadar tempat yang ia kenal karena pekerjaannya sebagai pemandu. Kota itu adalah tempat ia lahir dan tumbuh.
Saya tidak ingin menarik kesimpulan terlalu jauh hanya dari cara seseorang berbicara. Namun, perbedaan latar Alibaba dan Muhammad membuat saya memikirkan hubungan antara tempat tinggal, identitas, dan kedudukan politik. Kedekatan dengan sebuah kota tidak dengan sendirinya menjawab pertanyaan tentang siapa yang memiliki kewenangan atas ruang hidup di dalamnya.
Perbedaan itu terasa lebih konkret ketika kami memasuki Jericho.
Jericho Menurut Muhammad
Saat bus memasuki Jericho, Muhammad menjelaskan kota itu dengan kalimat yang tegas. Menurutnya, tidak ada orang Yahudi seorang pun di Jericho. Penduduknya, katanya, semuanya Muslim. Ia juga menegaskan bahwa kota tersebut memiliki pemerintahan sendiri dan tidak berada di bawah pemerintahan Israel.
Saya mendengarkan penjelasannya sambil mencoba memahami apa yang sedang ia tekankan. Muhammad tidak sekadar menyebut nama kota atau menunjukkan tempat yang dilewati bus. Ia menghubungkan penduduk, agama, dan pemerintahan dalam satu penjelasan.
Pernyataan tentang seluruh penduduk Jericho beragama Islam dan tidak adanya orang Yahudi merupakan ucapan Muhammad yang saya dengar langsung, bukan data demografis yang telah saya verifikasi. Demikian pula, pernyataannya tentang pemerintahan sendiri perlu dibaca dalam konteks pembagian kewenangan di Tepi Barat. Otoritas Palestina menjalankan administrasi kota, sementara penguasaan wilayah di sekitarnya memiliki kerumitan tersendiri.
Bagi saya, hal yang menarik bukan semata-mata apakah setiap pernyataannya dapat diterima sebagai fakta. Saya tertarik pada cara ia memperkenalkan Jericho kepada kami. Batas agama dan batas pemerintahan menjadi bagian penting dari ceritanya tentang kota itu.
Di sini saya kembali teringat penegasannya bahwa ia lahir dan besar di Yerusalem. Ada benang yang menghubungkan kedua penjelasan tersebut: tempat bukan hanya lanskap yang dapat dilihat wisatawan. Tempat juga menjadi ruang kehidupan yang maknanya dibentuk oleh sejarah, identitas, dan kekuasaan.
Alibaba dan Muhammad membawa pengalaman berbeda ke dalam pekerjaannya sebagai pemandu. Alibaba berbicara sebagai orang Mesir yang berasal dari negara berdaulat. Muhammad memperkenalkan kota kelahirannya dan menjelaskan Jericho melalui batas agama serta pemerintahan. Perbedaan itu membantu saya melihat bahwa sebuah perjalanan wisata dapat membuka jendela kecil menuju kenyataan sosial-politik yang lebih luas.
Dari Kerumitan Parkir Menuju Ikhtiar Beribadah
Sesudah dari Jericho, perjalanan berlanjut menuju Yerusalem. Tujuan kami bukan sekadar tiba di hotel, melainkan juga mengupayakan kesempatan beribadah di kompleks Masjid Al-Aqsa.
Setibanya di hotel, bus mengalami kesulitan memasuki garasi. Jalan dan ruang gerak yang terbatas membuat bus besar itu harus bermanuver. Sopir mencoba mengarahkan kendaraan untuk masuk, tetapi bus tidak berhasil menempati ruang parkir sebagaimana diharapkan. Kendaraan harus berputar kembali.
Dalam keadaan itu, kami mulai memikirkan waktu salat dan rencana beribadah. Kami kemudian bertayamum dan melaksanakan salat Zuhur dan Asar secara jamak ta'khir. Kami mengatur waktu agar masih dapat melaksanakan salat Magrib dan Isya di kompleks Masjid Al-Aqsa.
Akhirnya, ikhtiar itu tercapai. Kami melaksanakan salat Magrib dan Isya di dalam bangunan berkubah emas yang kami kenal sebagai Al-Aqsa.
Belakangan, saya memahami bahwa bangunan yang kami masuki itu adalah Dome of the Rock, atau Kubah Batu, yang berada di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa. Sebagian besar jamaah memang mengenali bangunan berkubah emas itulah sebagai Al-Aqsa. Citra kubah emas tersebut telah begitu kuat melekat dalam ingatan kami.
Di sini ada pengalaman yang menarik untuk dicatat. Sebelum tiba di Yerusalem, kami sudah memiliki gambaran tentang Al-Aqsa melalui foto, berita, dan cerita yang beredar. Gambaran itu membentuk bayangan kami tentang tempat yang ingin dikunjungi. Ketika akhirnya berada di dalam bangunan berkubah emas tersebut dan menunaikan salat, bayangan yang telah lama hidup dalam pikiran bertemu dengan pengalaman nyata.
Bagi kami, saat itu adalah pengalaman ibadah yang penting. Penjelasan tentang nama dan perbedaan bangunan tidak mengubah fakta di mana kami melaksanakan salat. Namun, pengalaman itu memperlihatkan bagaimana citra sebuah tempat suci terbentuk dan hidup dalam kesadaran para pengunjungnya.
Perjalanan hari itu menemukan muaranya setelah melewati ketegangan pemeriksaan perbatasan, gelak tawa bersama rombongan, cerita Muhammad tentang kota-kota Palestina, dan kerepotan bus di hotel. Kami akhirnya berdiri untuk salat di tempat yang sejak awal ingin kami kunjungi.
Membaca Perjalanan, Membaca Kehidupan
Saya datang sebagai jemaah. Namun, kebiasaan sebagai antropolog membuat saya memperhatikan hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian: pertanyaan petugas, jawaban serempak yang disusul tawa, barang bawaan yang bertambah, penegasan seorang pemandu tentang kota kelahirannya, dan penjelasan tentang siapa yang memerintah sebuah kota.
Perjalanan ini belum menjawab semua pertanyaan saya tentang Palestina. Tetapi ia memberi pengalaman yang lebih dekat daripada sekadar membaca berita. Di antara ketegangan dan gelak tawa, saya mulai memahami bahwa politik bukan hanya sesuatu yang berlangsung di gedung pemerintahan atau meja perundingan. Politik juga hadir dalam pemeriksaan paspor, dalam cara seseorang memperkenalkan kota tempat ia hidup, dan dalam pertanyaan sederhana tentang siapa yang berhak menentukan kehidupan di suatu wilayah.
Sementara itu, pengalaman ibadah mengingatkan saya bahwa sebuah tempat dapat memiliki makna yang berbeda bagi orang yang datang ke sana. Ada bangunan yang dikenali melalui citra, ada ruang yang dimasuki dengan langkah nyata, dan ada keyakinan yang membawa seseorang melintasi jarak serta perbatasan.
Dalam perjalanan ini, semuanya bertemu: ruang, identitas, kekuasaan, humor, dan ibadah. Bagi saya, itulah yang membuat perjalanan ini layak dicatat—bukan semata-mata karena kami telah tiba di Yerusalem, melainkan karena di sepanjang jalan kami berjumpa dengan kehidupan yang lebih rumit daripada gambaran yang sebelumnya kami miliki.***
Masjid Al Aqsa, Palestina, 18 Oktober 2026 (bersambung).
Editor : Hairil Paputungan