JAGOSATU.COM - Ketegangan di kawasan Timur Tengah belum mereda. Iran dan Amerika potensi pecah perang lagi, sementara Kerajaan Arab Saudi dan kelompok Houthi belum kunjung menyudahi konflik yang sudah merengut banyak korban jiwa. Apalagi Houthi menyerang fasilitas umum nan vital, seperti Bandara Riyad, Jeddah dan kota lainnya. Termasuk ancaman bom di dua kota suci umat Islam, Mekkah dan Madinah.
Perang sepertinya masih berlanjut. Eskalasi dan ketegangan bukan meredup malah terus meningkat. Dua kubu masih saling serang dengan rudal.
Sabtu (24/10/2026), pasukan Arab Saudi melancarkan serangan udara ke ibu kota Yaman, Sanaa. Wilayah ini menjadi salah satu markas pasukan Houthi.
Militer Saudi juga melancarkan serangan udara ke Kota Mocha. Sekira 20 serangan yang dilancarkan ke kota tersebut.
Media pro Houthi, Al-Masirah, melaporkan serangkaian serangan udara yang menyasar Sanaa. Salah satu serangan menghantam sebuah rumah dan menewaskan sedikitnya tiga orang serta melukai beberapa lainnya.
Sebaliknya Houthi terus me-warning bahwa Bandara Riyadh tak akan aman dan selalu jadi target mereka.
Total 16 orang tewas di Yaman, seperti dilansir AFF, akibat serangan Saudi tersebut. Salah satu serangan menghantam sebuah rumah dan menewaskan sedikitnya empat orang serta melukai beberapa lainnya.
Media tersebut juga melaporkan bahwa bangunan tempat tinggal pekerja pabrik semen di wilayah Sanaa menewaskan enam perempuan dan satu anak serta melukai tiga orang lainnya.
Lima orang dilaporkan tewas akibat serangan terhadap rumah mereka di Kota Hodeida, Yaman bagian barat. Houthi menuding Arab Saudi sebagai pelakunya.
Sebagai balasan, Houthi menyerang Kota Aden di Yaman bagian selatan pada Sabtu (24/10) malam. Kota tersebut menjadi pusat pemerintahan sementara yang didukung Arab Saudi.
Koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan pada Sabtu bahwa mereka telah mencegat dua rudal yang menargetkan Kota Taif dan Yanbu di wilayah barat Arab Saudi. Tak lama kemudian, terdengar ledakan di Aden, lokasi pemerintahan yang didukung Riyadh dalam perang saudara yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Kelompok Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan di Aden. Mereka menyatakan menargetkan pangkalan angkatan laut dan kamp militer yang diawasi oleh pasukan Arab Saudi.
"Angkatan bersenjata kami menargetkan konsentrasi musuh Saudi di kamp yang disebut Al-Nasr serta pangkalan angkatan laut di Aden," ujar juru bicara militer Houthi, Yahya Saree.
Kantor berita Saba, melaporkan Kementerian Dalam Negeri pemerintah Yaman menyatakan serangan tersebut menghantam markas besar penjaga pantai dan satu bangunan lain milik mereka di lokasi berbeda. Namun, kementerian itu tidak menyebutkan adanya serangan di pangkalan dekat bandara.
Al-Jazeera, melaporkan Minggu (25/10/2026), pasukan Houthi di Yaman yang didukung Iran kembali memperingatkan maskapai penerbangan, staf bandara, dan pelancong agar tidak menggunakan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.
Juru bicara Houthi, Yahya Saree, memperingatkan bahwa bandara itu "tidak aman" dan tetap menjadi "target militer".
Pada Sabtu (24/10) malam, pihak bandara mengumumkan bahwa Terminal 1 akan dikhususkan untuk penerbangan domestik, sedangkan Terminal 2 akan digunakan untuk penerbangan internasional yang dilayani maskapai nasional mulai Minggu.
Operasional bandara tersebut sempat dihentikan pada 10 Oktober menyusul serangan kelompok Houthi yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang lainnya.(dth/dbs/aik)
Editor : Hairil Paputungan