JagoSatu.com - Layanan chatbot AI populer, ChatGPT, telah mencapai kehadiran di gereja. Pada Jumat (9/6) pekan lalu, sekitar 300 umat Kristen berkumpul di Gereja St. Paul di Furth, Bavaria, Jerman, yang telah menerapkan otomatisasi menggunakan ChatGPT.
Gereja ini menggunakan layanan kecerdasan buatan tersebut dalam rangka ibadah. Selama 40 menit, gereja menyampaikan khotbah yang dihasilkan melalui teks buatan ChatGPT.
Khotbah tersebut dipresentasikan melalui avatar yang ditampilkan di layar televisi yang ditempatkan di atas altar. Tidak ada lagi pendeta yang tampil untuk menyampaikan khotbah.
"Dengan hormat, saya merasa terhormat berdiri di sini dan memberikan khotbah kepada Anda sebagai kecerdasan buatan (AI) pertama dalam konvensi umat Protestan Jerman tahun ini," ujar chatbot yang diwujudkan dalam avatar pria berjenggot, seperti dikutip dari ArsTechnica, Kamis (15/6/2023).
Penggunaan layanan ini merupakan bagian dari rangkaian acara 'German Evangelical Church Congress' yang diadakan dua tahun sekali, yang meliputi doa dan musik.
Jonas Simmerlein, seorang teolog dan filsuf dari Universitas Wina, menjadi penggagas penggunaan ChatGPT dalam ibadah gereja tersebut.
Untuk tahun ini, Simmerlein menyatakan bahwa sekitar 98% layanan gereja telah diotomatisasi menggunakan mesin.
Sisanya 2% membutuhkan peran manusia, karena ChatGPT tidak dapat berfungsi sepenuhnya sendiri.
Simmerlein mengarahkan setiap aspek dalam pembuatan khotbah.
Topik khotbah diberikan kepada ChatGPT dengan fokus pada melupakan masa lalu, mengatasi ketakutan akan kematian, dan memperkuat iman.
"Saya memberikan petunjuk kepada kecerdasan buatan, 'kita berada di kongres gereja, dan Anda adalah seorang pendeta.
Bagaimana Anda akan memberikan pelayanan?'" contoh Simmerlein.
Respon terhadap penggunaan ChatGPT dalam menyampaikan khotbah di gereja beragam. Heiderose Schmidt (54 tahun) mengatakan bahwa avatar tersebut menyampaikan khotbah terlalu cepat dan tidak memiliki emosi.
"Tidak ada kehangatan dan semangat di dalamnya," katanya.
Sementara itu, umat lainnya, Marc Janses (31 tahun), memberikan respon positif. Menurutnya, khotbah yang disampaikan oleh pendeta ChatGPT jauh lebih baik daripada yang dia harapkan.
"Saya terkejut dengan bagaimana khotbahnya disampaikan dengan baik. Bahasanya enak didengar. Meskipun terkadang terasa agak aneh," katanya.
Simmerlein menekankan kepada AP bahwa niatnya menggunakan ChatGPT bukan untuk menggantikan peran pemimpin agama.
Ia hanya ingin memanfaatkan kecerdasan buatan sebagai alat bantu yang membantu pendeta dalam menjalankan tugasnya.
Dia memberikan contoh bahwa AI dapat memberikan ide tentang topik pembahasan dalam pelayanan selanjutnya.
Hal ini dapat memberikan kebebasan kepada pendeta untuk memiliki lebih banyak waktu dan energi dalam memberikan bimbingan spiritual secara individu kepada umat.(*)
Editor : Tina Mamangkey