JAGOSATU.COM - Daftar Calon Sementara (DCS) Anggota DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Sulawesi Utara (Sulut) telah dirilis oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Sejumlah nama-nama yang sudah dikenal dan sebelumnya diantisipasi untuk maju mewakili Bumi Nyiur Melambai akan memasuki pertempuran dalam bentuk kertas suara. Namun, ada juga beberapa tokoh yang diharapkan akan kembali bertarung, tetapi justru memutuskan untuk tidak mencalonkan diri.
Pada Pemilihan Legislatif (Pileg) tahun 2024 mendatang, para calon kuat datang dari barisan mantan kepala daerah. Tidak kurang pula ada beberapa legislator DPRD yang berupaya untuk naik ke tingkat nasional dengan mencalonkan diri.
Di sisi lain, dinamika yang menarik terjadi di kalangan petahana. Sebagai contoh, dari PDI Perjuangan, dua dari tiga anggota fraksi partai berlambang banteng moncong putih tersebut memutuskan untuk tidak maju kembali.
Adriana Dondokambey memilih untuk mencalonkan diri di DPD RI, sementara Djenri Keintjem memilih untuk "pensiun." Vanda Sarundajang menjadi satu-satunya petahana dari PDI Perjuangan yang mencalonkan diri kembali ke Senayan.
Namun, perlu dicatat bahwa daftar calon anggota DPR RI dari dapil Sulut yang berasal dari PDI Perjuangan cukup menarik perhatian. Di antaranya, nama Rio Dondokambey yang menonjol. Ketua Pemuda Sinode GMIM ini bersaing dengan sejumlah mantan kepala daerah seperti James Sumendap, Wenny Warouw, Yasti Mokoagouw, serta mantan Ketua PT Manado, Lexsy Mamonto. Nama-nama ini sudah cukup dikenal di kalangan masyarakat sebelumnya.
Sementara itu, di NasDem, salah satu anggotanya, Hillary Lasut, memutuskan untuk pindah partai dan bergabung dengan Partai Demokrat mengikuti langkah ayahnya, Elly Lasut. Hillary yang pernah menjadi pimpinan sementara DPR RI periode ini langsung diberikan nomor urut 1.
Di sisi lain, Felly Runtuwene dari NasDem tetap maju dalam pemilihan. Ia juga akan berpasangan dengan sejumlah mantan kepala daerah seperti Tatong Bara Vicky Lumentut, Max Lomban, dan Hamim Pou. Keikutsertaan Pou cukup mencuri perhatian, mengingat ia saat ini menjabat sebagai Bupati Bone Bolango, Gorontalo.
Dinamika lainnya terlihat di kubu Golkar, di mana petahana Adrian Paruntu kembali mencalonkan diri sebagai calon anggota DPR RI. Namun yang menarik, ia akan bersaing dengan ibunya sendiri, Christiany Eugenia Paruntu. Ketua DPD I Golkar Sulut ini akan mendapatkan nomor urut 1, sementara putranya, Adrian, akan mendapatkan nomor urut 5.
Daftar Calon Sementara (DCS) DPR RI memang paling banyak mencuat dalam perbincangan ketika mencakup Partai Demokrat. Selain masuknya nama Hillary, ketiadaan sosok politisi senior seperti EE Mangindaan mengundang pertanyaan. Mantan menteri, wakil ketua MPR, dan mantan gubernur ini dianggap masih memiliki dukungan kuat dari pemilih tradisional yang dapat membawanya kembali ke Senayan.
Partai Gerindra juga menghadirkan kejutan, dengan nama Yulius Selvanus Komaling yang sebelumnya disebut akan menjadi andalan dalam lineup calon anggota DPR RI, namun ia tidak muncul dalam DCS. Partai yang dipimpin oleh Prabowo Subianto ini lebih memilih untuk mengusung Conny Rumondor dan Martin Tumbelaka, serta mantan Bupati Minahasa Selatan, Ramoy Luntungan.
Partai PAN juga memiliki calon anggota DPR RI potensial, seperti mantan Bupati Bolaang Mongondow Timur, Sehan Landjar, yang masuk dalam daftar DCS. Yang menarik, eks Ketua DPW PAN mendapatkan nomor urut 5, sementara nomor urut 1 diberikan kepada Ayub Ali, Anggota DPRD Sulut. Legislator DPR RI Sulut dari periode sebelumnya, Bara Hasibuan, juga mencalonkan diri kembali ke Senayan.
Di dalam daftar DCS Partai Perindo, terdapat nama mantan Ketua DPRD Sulut, Meiva Lintang. Awalnya, ia diketahui sebagai seorang kader Golkar.
Pertarungan menuju Senayan pada tahun depan diperkirakan akan sangat sengit. Hal ini disebabkan oleh adanya daftar calon yang sangat kompeten yang diajukan oleh partai-partai politik.
Ketua DPD PDI Perjuangan Sulut, Olly Dondokambey, berharap untuk mendapatkan 4 kursi di DPR RI. "Target kita adalah 4 kursi," katanya.
Dia menambahkan bahwa target ini hampir tercapai pada tahun 2019 lalu, ketika PDI Perjuangan hanya kehilangan 3.000 suara untuk mencapai target tersebut. Dengan kekuatan yang lebih besar saat ini, Olly yakin dapat meraih satu kursi tambahan dari pencapaian partainya dalam periode DPR RI saat ini. "Kita sangat optimis," tegasnya.
Sementara itu, Ketua DPD I Golkar Sulut, Christiany Eugenia Paruntu, juga optimis karena partainya mengusung kader-kader terbaik. Dia berharap dapat meraih sebanyak mungkin suara. "Khusus untuk DPR RI, Golkar Sulawesi Utara menargetkan dua kursi untuk diraih," ungkapnya.
Partai Gerindra di Sulut juga menargetkan tinggi. Ketua DPD Gerindra Sulut, Conny Rumondor, berharap dapat meraih 90 persen kursi DPR RI untuk Sulut. "Kami yakin dapat lima kursi," katanya.
Partai Demokrat Sulut memiliki target untuk meraih dua kursi di DPR RI. Ketua DPD Demokrat Sulut, Elly Engelbert Lasut, menganggap target ini realistis. "Kami memiliki kader-kader dan calon yang layak," katanya.
Ketua DPW NasDem Sulut, Victor Mailangkay, mengatakan pihaknya menargetkan dapat mempertahankan pencapaian saat ini, yaitu dua kursi DPR RI. "Dapil Sulawesi Utara, target kita tetap dua kursi," kata Victor.
Keikutsertaan para mantan kepala daerah dan kerabat kepala daerah dalam daftar DCS NasDem di dapil Sulut diyakini akan menjadi magnet pemilih. "Kami mengandalkan mereka karena latar belakang dan kapasitas yang dimiliki," ujar Victor.
Sejumlah nama calon yang sudah diumumkan dalam DCS bisa berubah menjadi calon tetap. Beberapa faktor yang dapat memengaruhi perubahan ini adalah masukan dari masyarakat, mundurnya caleg karena ketidakpuasan terhadap nomor urut, dan pencoretan oleh partai yang mengusung.
Pengamat politik, Ferry Lindo, menyatakan bahwa nama-nama calon yang belum pasti akan ditetapkan sebagai calon tetap masih bisa berubah oleh tiga faktor tersebut. Ia juga menyoroti pentingnya relasi sosial yang dibangun oleh para calon dengan berbagai komunitas sebagai faktor penentu dalam mendulang suara. "Sebagian figur kemungkinan masih akan muncul ke permukaan setelah kampanye dilakukan," katanya.
Kehadiran sejumlah tokoh yang tidak tercantum dalam DCS dapat menjadi objek perjuangan untuk mendapatkan dukungan sebagai tim sukses. Hal ini karena figur tim sukses juga memiliki pengaruh signifikan terhadap elektabilitas calon yang mereka dukung. "Jadi, caleg yang mampu mengajak mereka bergabung sebagai tim sukses akan sangat diuntungkan," tambahnya. (mpo)