Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Sabda Bina Umat, Renungan Malam, 5 Juni 2024, Mazrnur 25:12-22 KEBAHAGIAAN BERSAMA ANAK CUCU

Alfianne Lumantow • 2024-06-05 16:00:00
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Mazrnur 25:12-22

KEBAHAGIAAN BERSAMA ANAK CUCU

Orang itu sendiri akan menetap dalam kebahagiaan dan anak cucunya akan mewarisi bumi.  (ayat 13)

Pemazmur meyakini bahwa kepercayaan kepada Tuhan mendatangkan  berkat bagi diri sendiri dan anak-anak cucu di masa depan.  Jelas bahwa berkat Tuhan tidak berhenti pada satu generasi tetapi berlanjut bagi generasi berikutnya. Kehidupan yang selaras dengan kehendak Tuhan merupakan jaminan tentang kasih dan pemeliharaan Tuhan. Keterputusan berkat disebabkan pelanggaran dan dosa yang dibiarkan dan tidak diselesaikan dengan rahmat Tuhan. Sepenuhnya, Tuhan punya kendali atas hidup manusia yang diberkati.                                                                                       .

Aktivitas manusia dari pagi sampai malam bertujuan meraih kebahagiaan   yang  dapat dinikmati  untuk  seisi  keluarga.  Yang  lain malah   berpikir   kemakmuran   untuk   tujuh  keturunan.   Anak-anak bahkan sudah dilatih untuk mengelola uang secara bijak untuk menghadapi  persaingan  bebas di masa depan.  Tuntutan yang tinggi menyebabkan ketidakmampuan  bertahan  dan  memilih jalan  bunuh diri  guna  mengakhiri  beban  berat. Keserakahan  dan ketidakpuasan meyebabkan  relasi antar sesama bermasalah  dan lingkungan  makin rusak  tak  terkendali.   Manusia  yang  berdosa  tidak  dapat  berkata cukup dan terus memperkaya diri sekalipun harus mengorbankan lingkungan  sekitarnya. Kebahagiaan  yang  dikejar   adalah  kebahagiaan semu dan tak bertahan lama. Kerusakan alam merupakan kenyataan  sesungguhnya  sehingga  muncul cuaca  menjadi ekstrem, angin puting beliung, banjir bandang, krisis  pangan  dan  krisis  air bersih. Generasi  muda yang akan datang mewarisi bumi yang tercemar dan tak layak didiami.

Budaya ramah lingkungan hendaknya menjadi budaya bersama. Misalnya, pembatasan    penggunaan kertas atau plastik, dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Penghematan energi dan air bersih kiranya menjadi kebiasaan baik yang harus  dikondisikan dalam  hidup  berkeluarga dan bergereja. Jangan hanya kita menunggu  saat ke surga, tetapi juga aktif mempersiapkan   bumi yang hijau untuk dapat didiami  anak-anak cucu kita kelak.

 

Doa :  (Tuhan Yesus, kami bersyukur  untuk tanggung  jawab  memelihara bumi  yang hijau supaya dapat dinikmati  anak-anak  cucu kami dan semua generasi  muda di masa depan). Amin.

Editor : Alfianne Lumantow
#RENUNGAN MALAM #GPIB #SABDA BINA UMAT