1 Petrus 1:21-25
SANG BENIH FIRMAN YANG MEMBARUI
"Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, melalui firman Allah, yang hidup dan yang kekal.'' (ay. 23 TB 2)
Kita tentu memahami bahwa sebuah benih yang kecll dan tampak jorok itu di dalamnya ada sumber kehidupan. Dari benih itulah kemudian muncul akar, batang, cabang, daun, bunga, dan buah. Kemudian buah yang dihasilkan menjadi tuaian yang berlipat ganda. Tentu benih harus ditaburkan di tanah yang baik supaya bertumbuh dan menghasilkan buah. Demikianlah hidup kita diharapkan dapat menjadi tanah subur bagi benih-benih firman Tuhan ditaburkan supaya mengalami pembaruan dan tidak menuju kebinasaan sebagaimana yang diungkapkan penulis 1 Petrus.
Rasul Petrus menekankan kepada umat Kristen perdana, sesungguhnya mereka telah dilahirkan kembali oleh benih firman Allah yang nyata dalam diri Kristus. Lewat pengorbanan Kristus di kayu salib yang diimani, mereka telah menjadi anak-anak Allah. Mereka telah dipanggil keluar dari kehidupan lama yang dikuasai dosa dan hawa nafsu. Selaku umat Allah sekaligus warga Kerajaan Allah yang telah dikuduskan, mereka hendaknya menunjukkan cara hidup yang baru, yaitu hidup yang nyata dalam kebenaran dan kasih persaudaraan. Meski di tengah penderitaan yang dialami, mereka akan menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa.
Di sini, kita diingatkan supaya menyediakan hati kita bagaikan tanah yang baik dan subur sehingga benih firman Allah itu membarui kehidupan kita, kemudian bertumbuh dan menghasilkan buah. Hal itu tentu bukan karena kehebatan dan kekuatan kita, tetapi karena mengandalkan Tuhan dan meletakkan pengharapan kita pada-Nya. Periksalah hati kita masing-masing apakah seperti tanah di pinggir jalan atau tanah yang berbatu atau juga tanah yang bersemak duri. Tuhan menghendaki supaya kita menjadi seperti pohon yang ditanam di tepi air yang bertumbuh dan berbuah.
Doa : (Jadikanlah hati kami ya Tuhan bagai tanah yang subur bagi pertumbuhan benih firman sehingga kami dibarui). Amin.
Editor : Alfianne Lumantow