Filemon 1:15-17
SEBUAH PERMINTAAN
"Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri"(ay 17).
Saudara sedang sangat membenci seseorang karena Orang itu telah membuat hati saudara sangat ter1uka. Pada waktu saudar tidur malam dalam mimpi Tuhan Yesus datang kepada saudara dan menyuruh saudara mengampuni orang yang sedang saudara benci, Apakah saudara akan mengampuni orang itu sesuai permintaan Tuhan Yesus atau saudara tetap sangat membencinya karena la telah membuat hati saudara sangat ter1uka? Silahkan saudara jawab pertanyaan ltu.
Onesimus adalah budak milik Filemon dan sebagal budak miliknya, maka Filemon berhak atas Onesimus. Yang terjadi, Onesimus sebagai budak milik Filemon, justru kabur dari Filemon dan sangat mungkin juga membawa barang-barang berharga milik Filemon. Perbuatan Onesimus itu pasti membuat Filemon teramat sangat marah. Dan kalau Filemon berhasil menangkap Onesimus, pasti Filemon akan menghukum Onesimus dengan hukuman paling berat. Ketika Filemon sedang sangat marah karena Onesimus budaknya kabur dari rumahnya dan membawa beberapa barang berharga milik Filemon, rasul Paulus dalam suratnya kepada Filemon berkata, "Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri" (ayat 17). Apakah Filemon bersedia penuhi permintaan Paulus dengan mengampuni Onesimus dan menerimanya kembali bukan lagi sebagai budak melainkan sebagai saudara seiman dalam Tuhan Yesus? Permintaan Paulus mengajarkan kembali tentang dasar iman yaitu anugerah keselamatan dalam Kristus.
Firman Tuhan yang disampaikan melalui nabi Yesaya mengatakan, "Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjad! putih seperti salju. Sekalipun berwama merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba" (Yesaya 1:18). Kalau Allah mengampuni· kita dengan tidak lagi rnengingat-ingat dosa-dosa ktta, mengapa kita tidak bersedia .mengampuni sesama yang telah membuat hati kita sangat ter1uka?
Doa: (Tuhan Yesus, warnailah hati kami dengan kesediaan untuk mengampuni mereka yang melukai hati kami). Amin
Editor : Alfianne Lumantow