Jagosatu.com - Rotterdam, Belanda – Di tengah ancaman perubahan iklim dan naiknya permukaan air laut, kota-kota di seluruh dunia menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan banjir. Namun, Rotterdam telah membuktikan bahwa dengan inovasi dan perencanaan yang matang, sebuah kota yang dulunya rawan banjir dapat menjadi model ketahanan air bagi dunia.
Dari Kota Terancam Menjadi Pelopor Adaptasi
Belanda, yang sebagian besar wilayahnya berada di bawah permukaan laut, selalu berhadapan dengan ancaman banjir. Rotterdam, sebagai kota pelabuhan terbesar di Eropa, memiliki risiko tinggi karena lokasinya yang berada di delta sungai Rhein, Meuse, dan Scheldt. Di masa lalu, kota ini kerap mengalami bencana banjir yang menyebabkan kerugian besar.
Kesadaran akan ancaman ini mendorong pemerintah dan masyarakat Rotterdam untuk mencari solusi jangka panjang. Pendekatan yang digunakan tidak hanya mengandalkan infrastruktur konvensional seperti tanggul dan bendungan, tetapi juga mengembangkan solusi inovatif yang lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan.
Teknologi dan Infrastruktur Berbasis Alam
Salah satu inovasi terbesar Rotterdam dalam mengatasi banjir adalah proyek Maeslantkering, sistem gerbang raksasa yang dapat menutup muara sungai ketika terjadi badai besar. Gerbang ini berfungsi sebagai benteng utama untuk melindungi kota dari ancaman air laut yang naik.
Selain itu, Rotterdam juga mengembangkan konsep “Water Square”, yaitu ruang publik yang dapat berubah menjadi tampungan air saat hujan deras. Area ini tidak hanya berfungsi sebagai solusi teknis, tetapi juga memberikan ruang hijau bagi masyarakat kota.
Pembangunan atap hijau di berbagai gedung juga menjadi bagian dari strategi pengendalian banjir. Atap-atap ini mampu menyerap air hujan dan mengurangi beban sistem drainase kota. Tidak hanya itu, Rotterdam juga menerapkan sistem kanal pintar yang dapat mengatur aliran air dengan lebih efisien.
Pendekatan Adaptif dan Kesadaran Masyarakat
Selain infrastruktur, kesuksesan Rotterdam dalam menangani banjir juga didukung oleh kesadaran masyarakat yang tinggi terhadap risiko lingkungan. Pemerintah kota secara aktif melakukan kampanye edukasi mengenai perubahan iklim dan pentingnya mitigasi bencana. Warga didorong untuk ikut serta dalam berbagai program, seperti pemasangan sistem pengelolaan air hujan di rumah dan penerapan gaya hidup ramah lingkungan.
Pendekatan ini memungkinkan Rotterdam untuk terus beradaptasi terhadap tantangan baru yang ditimbulkan oleh perubahan iklim. Dengan kombinasi infrastruktur inovatif, solusi berbasis alam, dan keterlibatan masyarakat, kota ini kini menjadi contoh sukses bagi kota-kota lain yang menghadapi risiko banjir.
Pelajaran bagi Indonesia
Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan banyak kota pesisir, juga menghadapi tantangan serupa dengan Rotterdam. Jakarta, misalnya, sering mengalami banjir akibat curah hujan tinggi, penurunan tanah, serta kenaikan permukaan air laut. Menurut penelitian yang diterbitkan oleh van Vliet dan Aerts (2015) dalam buku Understanding and Managing Urban Water in Transition, adaptasi terhadap banjir di kota-kota pesisir membutuhkan kombinasi infrastruktur keras dan pendekatan berbasis alam, seperti yang diterapkan di Rotterdam.
Beberapa kota di Indonesia telah mulai mengadopsi pendekatan serupa. Jakarta telah membangun tanggul raksasa di pesisir utara dan merancang sistem kanal serta polder untuk mengatur aliran air. Namun, pendekatan ini masih menghadapi tantangan dalam hal implementasi dan keterlibatan masyarakat.
Menurut penelitian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), salah satu solusi utama untuk mengatasi banjir di kota-kota besar di Indonesia adalah dengan memperbaiki sistem drainase, memperbanyak ruang terbuka hijau, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap mitigasi bencana.
Inspirasi bagi Dunia
Keberhasilan Rotterdam dalam menanggulangi banjir tidak hanya menjadi kebanggaan bagi Belanda, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak kota di dunia, termasuk di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa. Dengan meningkatnya ancaman perubahan iklim, pendekatan yang diterapkan di Rotterdam dapat menjadi model bagi kota-kota lain dalam membangun ketahanan terhadap bencana lingkungan.
Rotterdam telah membuktikan bahwa ancaman banjir bukanlah akhir dari segalanya, tetapi justru dapat menjadi awal dari transformasi besar menuju kota yang lebih tangguh dan inovatif. Dari kota yang rentan terhadap banjir, kini Rotterdam berdiri sebagai pionir dalam adaptasi perubahan iklim. Dunia pun belajar dari keberhasilannya.
Editor : ALengkong