Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Sabtu, 29 November 2025, Yunus 4:7-9 Digital Fragility

Alfianne Lumantow • 2025-11-27 00:30:00
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Yunus 4:7-9

DIGITAL FRAGILITY

Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: "Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?" Jawabnya: "Selayaknyalah aku marah sampai mati." (ayat 9)

Pohon jarak menjadi simbol kenyamanan yang rapuh. Yunus menggantungkan ketenangannya pada sesuatu yang fana.

Ketika seekor ulat merusak pohon jarak itu dan matahari menyengat kepala Yunus, ia marah dan ingin mati.

Dalam psikologi ini disebut external locus of control yaitu ketergantungan pada faktor luar untuk merasa bahagia. Saat kenyamanan itu hilang, Yunus kehilangan keseimbangan emosionalnya.

Namun, TUHAN tidak membalas kemarahannya dengan hukuman, sebaliknya membuka ruang dialog yang mendidik: Patutkah engkau marah karena pohon jarak itu?.

TUHAN tidak sedang mencari jawaban yang logis, tetapi mengundang Yunus untuk berefleksi.

Kasih Allah hadir dalam bentuk dialog yaitu kasih yang mendidik, membentuk, dan memanggil Yunus keluar dari kemarahannya.

Namun Yunus merespons: Selayaknyalah aku marah sampai mati!, jawaban ini mencerminkan betapa frustrasinya Yunus menghadapi realitas yang tidak sesuai dengan ekspektasi.

Disinilah kasih TUHAN bekerja, bukan dengan paksaan melainkan dengan sabar menuntun Yunus memahami bahwa hidup bukan tentang dirinya sendiri, melainkan tentang kasih yang menjangkau semua.

Pohon jarak dalam bacaan ini, dapat dianalogikan dengan layar digital yang sering kali menjadi tempat berteduh, hiburan, mencari validasi, dan pelarian.

Ketika dunia digital mengalami gangguan seperti server gagal, akun diblokir atau komentar negatif muncul, banyak orang langsung kehilangan kendali emosional dalam menanggapi fenomena tersebut.

Inilah yang disebut digital fragility. yaitu kerapuhan emosional akibat terlalu bergantung pada kenyamanan digital.

Ketika kita terlalu menggantungkan ketenangan batin pada hal luar seperti pujian, validasi, atau fasilitasi, kita rentan frustrasi saat itu hilang.

Bahagia sejati bukan berasal dari luar, tetapi dari kedalaman relasi dengan TUHAN dan kedewasaan batin yang tumbuh melalui proses hidup. Amin.

 

Doa: TUHAN, saat kenyamanan sirna dan hatiku goyah, kuatkan imanku untuk tetap percaya pada didikan kasih-Mu. Amin.

Editor : Alfianne Lumantow
#RENUNGAN PAGI #GPIB #SABDA BINA UMAT