Hakim-Hakim 8:18-21
JANJI TUHAN TAK GAGAL
Lalu kata Gideon: "Mereka saudara-saudara, anak-anak ibuku! Demi TUHAN yang hidup, seandainya kamu membiarkan mereka hidup, ...." (ay.19)
Malam hari adalah saat terbaik untuk kembali menyadari bahwa hidup bukan soal siapa yang kuat, tetapi siapa yang tetap setia.
Gideon pernah berdiri di hadapan dua raja yang membunuh sau- dara-saudaranya, dan dengan keberanian dari Tuhan, ia bertindak dengan kebenaran.
Satu hal penting untuk direnungkan: janji Tuhan tidak pernah gagal bagi umat-Nya yang hidup dengan keberanian, kasih, dan kejujuran.
Dalam Hakim-hakim 8:18-21, kita melihat keberanian Gideon menghadapi Zebah dan Salmuna yang telah membunuh saudara-saudaranya, anak-anak dari seorang ibu yang mulia.
Ia tidak gentar, sebab ia tahu bahwa kebenaran harus ditegakkan meski dunia tidak berpihak.
Tindakan Gideon bukan dilandasi dendam, melainkan panggilan untuk menegakkan keadilan di hadapan Allah.
Inilah cermin perjalanan iman kita: berhadapan dengan kekuatan gelap yang meremehkan kebenaran, namun tetap berdiri di pihak Tuhan.
Kemenangan bukan milik yang kuat, tetapi milik yang hidup dalam kebenaran. Dunia boleh memuja kompromi dan membungkam suara yang lurus, tetapi kita adalah anak-anak Raja, yaitu umat pilihan yang dipanggil untuk hidup dalam keberanian, kesucian, dan keteguhan iman.
Komunitas yang membangun dimulai dari hati yang tidak takut menyuarakan kebenaran, karena kita tahu: janji Tuhan tidak pernah gagal.
Mari kita beristirahat dalam keyakinan bahwa janji Tuhan teguh dan tak tergoyahkan.
Dunia boleh menekan, tetapi Tuhan tidak pernah tinggal diam. Kita dipanggil untuk tetap jujur dan setia, meski tidak disukai, karena kita tahu siapa yang memanggil dan menyertai kita.
Besok, mari melangkah dengan semangat baru, sebab Tuhan telah menyediakan kekuatan dan kemenangan bagi umat-Nya.
Jangan goyah: kasih-Nya lebih kuat dari luka terdalam dan lebih nyata dari tantangan terberat. Amin.
Doa: Tuhan, ajar kami tetap setia dan jujur di tengah tekanan dunia. Kami percaya janji-Mu tak pernah gagal. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow