Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Minggu, 25 Januari 2026, Habakuk 1:1-4 Kedaulatan Tuhan Di Tengah Ketidakadilan

Alfianne Lumantow • 2026-01-23 00:30:00
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Pembacaan Alkitab : Habakuk 1:1-4

TEMA : KEDAULATAN TUHAN DI TENGAH KETIDAKADILAN

Berapa lama lagi, ya TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar; Aku berseru kepada-Mu, "Kekerasan!" tetapi tidak Kautolong? (ay.2)

 

Langit masygul menyaksikan luka hati seorang nenek renta berjalan terhuyung tak berdaya. la didenda setengah miliar rupiah dan divonis 1 tahun penjara karena sebatang kayu jati yang ia curi dari sebuah perusahaan milik negara.

Sementara di balik dinding- dinding kantor dan rumah-rumah yang mewah, para koruptor kaya- raya mengangkangi uang rakyat seenaknya.

Mereka tidak tersentuh hukum yang tunduk pada uang dan kuasa. Jikapun ada kasus korupsi dibawa ke meja hijau, mereka tetap dapat melenggang bebas dari hukuman dengan segala kemakmuran yang ditangguk dengan rakus dari rakyat.

Martin Luther King Jr pernah berkata "ketidakadilan di satu tempat mengancam keadilan di semua tempat

 

"Berapa lama lagi, Tuhan?" Habakuk dalam gerutu dan lara yang menyesakkan batin bertanya pada Sang Ilahi.

Gemanya menyatu dalam seruan pedih manusia di masa kini. Mengapa Tuhan diam ketika kejahatan menggerogoti tubuh dunia ini? Alam pikiran manusia sering terpasung oleh paradoks teodise.

Jika Allah baik dan berkuasa, mengapa semua pembiaran ini terjadi? Apakah Allah sungguh peduli?

 

Habakuk meneladankan kepasrahan total meski hati mempertanyakan misteri Allah yang tampak bergeming di tengah ketidakadilan dan penderitaan manusia.

la tak berhenti pada keluh kesah semata. Dari hati yang pedih itu terucap juga pengakuan bahwa Allah tidak absen.

Pada waktunya hari anugerah akan tiba. Dalam penantian akan datangnya masa gemilang tersebut tetaplah beriman (Habakuk 2:4).

 

Meski menggugat langit dengan seribu tanya, Habakuk tetap mengingatkan kita bahwa iman adalah penantian dengan jiwa yang merana, tetapi tetap percaya bahwa ratap itu pada waktu-Nya kelak akan Tuhan ubah menjadi sukacita.

Tetaplah kokoh dan gigih dalam beriman, sebab iman selalu menyentuh hati Tuhan. Amin.

 

Doa:  Tuhan, sering kali kami tidak mengerti mengapa kejahatan dan penderitaan terjadi di dunia ini. Kami mohon, berikanlah kami iman yang teguh untuk tetap percaya bahwa Engkau bekerja di balik semuanya. Amin.

 

Editor : Alfianne Lumantow
#RENUNGAN PAGI #GPIB #SABDA BINA UMAT